Ekonomi

Dahlan : Pengusaha Sukses, Pasti Pernah Gagal

Minggu, 17 Juni 2012 , 14:14:00

BANYUMANIK - Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan menularkan virus wirausaha di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Sabtu (16/6). Menurut Dahlan, kunci sukses berwirausaha adalah pernah gagal, namun selalu punya keinginan untuk mencoba lagi.

Kemarin, usai mengisi Studium General di Undip, Dahlan mengunjungi Desa Binaan Undip dan Pertamina di Kelurahan Jabungan Kecamatan Banyumanik. Dia juga berdialog dengan 3 warga Jabungan yang bekerja sebagai kuli bangunan. Ketiganya sudah pernah maupun masih mencoba beternak lele, namun hasilnya belum maksimal.

"Tiga-tiganya kuli bangunan dan merasakan ingin berubah, ingin beternak lele. Namun yang satu pernah gagal, mau bangkit lagi, yang 2 baru panen sekali, tapi hasilnya belum maksimum," ungkapnya.

Karenanya mereka akan dibimbing ahli peternakan dari Undip untuk beternak secara benar. "Kita akan coba ke 100 orang peternak lele dengan cara yang benar. Selama ini kendalanya pakan yang mahal. Karena itu, kalau (modal) habis buat beli makanan, ya untuk apa," ungkapnya.

Menurut Dahlan, ketiga kuli bangunan itu sudah menjadi calon pengusaha. Sebab mereka sudah berubah cara berfikirnya dari menjadi kuli seumur hidup, berganti dengan ingin jadi pengusaha. Dia mengingatkan, pengusaha yang sukses tidak datang tiba-tiba.

"Semua pengusaha pasti pernah sakit minimal sekali, pernah ditipu, pernah gagal. Tapi selalu ingin memulai lagi hingga sukses. Karena itu saya doakan cepat gagal," ungkapnya.

Dia lantas mencontohkan upayanya membangun usaha dulu. "Ibaratnya ndas kanggo sikil, sikil kanggo ndas," imbuhnya.

Kementerian BUMN yang dipimpinnya siap memberi bantuan berupa dana pinjaman. Menurutnya sistem pinjaman yang harus dikembalikan akan mendorong mereka bekerja sungguh-sungguh.

"Kalau modalnya diberi atau hibah, tidak ada dorongan kerja sungguh-sungguh. Karena itu saya berprinsip masih lebih baik pinjaman. Hanya saja kalau di bank pinjam dengan bunga tinggi, disini tanpa bunga atau bunganya sedikit sekali," ujarnya.

Dahlan mencontohkan sistem di keluarga Tionghoa yang meskipun orangtuanya kaya, uang yang diberikan si anak sebagai modal tetap dianggap pinjaman. Hal tersebut melatih orang untuk mempertanggungjawabkan sesuatu. "Bukan lantas diberi, ini modal, silahkan dihabiskan," katanya.

Usai berdialog dengan warga, Dahlan sempat berkunjung sejenak ke rumah milik Karnawi, warga RT 1 RW 3 Kelurahan Jabungan, di depan lokasi acara. Dia memuji rumah yang cukup bagus di desa tersebut.

Setelah mengetahui pemiliknya seorang tukang kayu handal, dia pun bergumam. "Oh pantas. Memperbaiki rumah orang lain saja bagus, apalagi membuat rumah sendiri," ujarnya. (ric)

Berita Terkait