Features
Chandra M Hamzah, si Pance yang Aktivis Otentik

Jadi Komandan Menwa, Tapi Tak Militeristik

Senin, 02 November 2009 , 04:19:00

TUNDUK - Chandra M Hamzah usai menjalani salah satu sesi pemeriksaannya, beberapa waktu lalu, sebelum akhirnya bersama Bibit Samad Rianto ditahan oleh Mabes Polri. Foto: Zulhakim/JPNN/arsip.
Di kalangan teman-temannya ketika menjadi mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Chandra M Hamzah biasa dipanggil Pance. Chandra ternyata juga pernah menjadi komandan Menwa (resimen mahasiswa).

Laporan INDOPOS, Jakarta

SAPAAN Pance untuk Chandra terinspirasi nama Pance Frans Pondaag, penyanyi sekaligus pencipta lagu asal Makassar pada era 1980-an, yang terkenal dengan suara kecil dan melengkingnya. Gaya bicara Chandra yang lembut dengan suara kecil itulah yang membuat Ketua Harian Senat Mahasiswa UI pada tahun 1991 tersebut dijuluki Pance.

"Suara Chandra kan tidak segagah orangnya. Chandra orangnya besar, tapi suaranya kecil. Mirip Pance Pondaag," kata Indra Jaya Piliang, fungsionaris DPP Partai Golkar, yang juga junior Chandra di UI. Chandra yang lahir di Jakarta, 25 Februari 1967, menamatkan pendidikan sarjana di Fakultas Hukum UI pada 1995.

Selama menjadi mahasiswa, Chandra yang aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) juga menjadi komandan Resimen Mahasiswa (Menwa) UI. Menurut Indra, kepemimpinan Chandra cukup sukses, sehingga wajah Menwa UI tidak segarang Menwa di kampus lain. "Menwa mampu membangun kedekatan dengan kelompok atau organisasi mahasiswa lain," ujar Indra.

Selama bersama-sama menjadi aktivis di UI, Indra menilai Chandra atau Pance memiliki leadership yang sangat kuat, garis komandonya jelas, dan punya ketegasan. Namun, seiring dengan itu, pendekatan kemanusiaannya juga sangat tinggi. "Seusai rapat, biasanya dia mendatangi kami satu per satu, mengajak ngobrol sambil bercanda, sehingga tidak ada jarak di antara kami," ceritanya.

Di sisi lain, Indra yang kelahiran Pariaman itu mengaku baru tahu kalau Chandra juga berdarah Minang, saat menghadiri pernikahan Chandra pada 1994. Itu gara-gara prosesi pernikahan Chandra dengan Nadia Madjid, putri Nurcholis Madjid, menggunakan adat Minang (kini Chandra dan Nadia sudah bercerai, Red). "Waktu itu saya baru tahu kalau Pance adalah putra Minang. Selama di kampus, identitas Minangnya sama sekali nggak pernah muncul," tutur Indra.

Setelah meraih status sarjana, keterikatan Chandra terhadap dunia gerakan mahasiswa tetap tak luntur. Saat bergulir aksi-aksi mahasiswa pada 1998, tepatnya pada 2 Mei, Indra mengaku kembali bertemu Chandra di pagar halaman kampus UI Salemba. Mereka berusaha mencegah mahasiswa UI agar tidak keluar kampus. Mereka juga menghalangi aparat yang terus mendekat ke arah mahasiswa.

"Pance bilang kepada saya, dia mendapat informasi kalau mahasiswa UI akan dikorbankan. Dia lantas meminta saya menghubungi pimpinan aksi mahasiswa agar jangan sampai mahasiswa UI turun ke jalan," tutur Indra.

Ketika para mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR, lanjut Indra, Pance juga terlihat di luar pagar. Belakangan, Indra mengetahui bahwa seniornya itu berusaha mencegah terjadinya penyerbuan dari aparat. Bahkan, Pance menyediakan sejumlah bus untuk evakuasi, kalau penyerbuan itu benar-benar terjadi.

"Tapi, menurut saya, peran Pance yang paling besar adalah dalam berhubungan dengan ayah mertuanya, Cak Nur (Nurcholis Madjid, Red)," ujarnya.

Dari semua proses itu, Indra meyakini bahwa Pance adalah produk kaum reformis yang otentik. "Mungkin karena itu, sekarang dia ditahan dan teraniaya," katanya.

Indra masih ingat pesan Chandra kepada dirinya saat mendeklarasikan diri untuk maju sebagai caleg dari Partai Golkar, di Universitas Paramadina pada 6 Agustus 2008 lalu. Chandra berharap Indra menjadi politikus yang melawan, bukannya bersahabat dengan praktek korupsi.

"Seandainya proses pembuatan legislasi undang-undang diwarnai nuansa korupsi, bisa dibayangkan generasi ke depan akan dikekang atau hidup dalam suasana korup," ujar Indra menirukan nasihat Chandra kepada dirinya. (pri/kum)

Berita Terpopuler

Aksi Brutal Polisi di Musala, MUI: Ini Sudah Penghinaan
Rabu, 26 November 2014 , 21:06:00
Adik Ahok Ngamuk di SPBU
Kamis, 27 November 2014 , 01:02:00
Duit Suap Rp 2,9 Miliar di Tas Merah Berlambang PDIP
Rabu, 26 November 2014 , 22:04:00
Yusril Ingatkan Jokowi soal Risiko Larang Menteri ke DPR
Rabu, 26 November 2014 , 18:42:00
Yusril Tegaskan Keabsahan Ahok Jadi Gubernur
Rabu, 26 November 2014 , 20:26:00
Media Malaysia Sebut Jokowi Presiden Angkuh
Kamis, 27 November 2014 , 15:05:00