Features

RPA di Tangerang, Penampung Bayi Hasil Hubungan Gelap TKI

Gillian Berdarah Syria, Najla Bibit Bangladesh

Rabu, 28 April 2010 , 08:12:00

LUCU- Anak-anak TKI yang masih lucu-lucu yang ditampung di RPA Tangerang. Foto: Zulham Mubarak/Jawa Pos
BERANGKAT dari keprihatinan atas nasib tenaga kerja Indonesia (TKI), tahun lalu Yudhi Ramdani memelopori berdirinya Rumah Penitipan Anak (RPA) TKI. Kini tempat itu menampung bayi-bayi hasil hubungan gelap atau perkosaan para buruh migran.
 
ZULHAM MUBARAK, Jakarta

GILLIAN Rashed tersenyum lebar. Sambil tengkurap, sesekali bayi berusia tujuh bulan itu menggerak-gerakkan tangan dan kaki, seakan sedang belajar berenang. Kulit Gillian putih mulus, mata bulat, dan hidung mancung khas Timur Tengah.

Cakep dan lucu. Siapa sangka bayi yang akrab dipanggil Gilang itu ternyata tidak dikehendaki ibunya, seorang TKI di Qatar. Ketika mendarat di Bandara Soekarno-Hatta sepulang dari Qatar, sang ibu langsung menitipkan Gilang ke RPA TKI secara diam-diam. "Sudah hampir dua bulan Gilang di sini, sudah seperti anak saya sendiri," kata Yudhi sambil merengkuh dan menciumi bayi itu.

Gilang adalah salah satu penghuni RPA TKI. Dia di situ bersama tiga bayi lain. Mereka adalah Najla Nurfatilah Sohar, 14 bulan; Rizki Ardiansyah, 13 bulan; dan Sanah, 24 hari.

Sejak berdiri pada Februari 2009, RPA TKI "lembaga independen" telah menyelamatkan sepuluh bayi. Selain empat yang masih di penampungan, dua bayi telah diadopsi orang tua asuh, dan empat lainnya diambil kembali oleh ibunya.

Semua bayi penghuni RPA merupakan anak hasil hubungan gelap atau buah perkosaan ibunya di luar negeri. Ibu bayi-bayi tak berdosa yang bekerja sebagai pendulang devisa itu kadang terlalu malu membawa pulang bayinya. Karena itu, tak sedikit tenaga kerja wanita (TKW) yang lebih memilih menelantarkan atau membuang bayi-bayi itu di toilet sesaat setelah mendarat di terminal 4 Bandara Soekarno-Hatta. "(Kejadian) itu sebelum RPA TKI berdiri," kata Yudhi.

RPA TKI terletak di perkampungan padat penduduk di belakang kompleks Bandara Soekarno-Hatta. Karena biaya terbatas, pria 29 tahun itu hanya mampu menyewa sebuah rumah di gang sempit berjarak sekitar 500 meter dari runway Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta. Tentu saja suara bising pesawat selalu terdengar hampir setiap menit.

Bayi-bayi penghuni RPA tersebut, papar alumnus IAIN Serang itu, punya kisah pilu. "Kisah Gilang paling menyentuh," katanya. Ibu Gilang "sebut saja namanya Lily" semula bekerja sebagai pembantu di peternakan onta di Qatar. Pekerjaan keras dan kerap berhari-hari di padang pasir menggembala ratusan onta membuat Lily tidak betah. Meski tak memegang secuil dokumen, dia nekat melarikan diri dari majikan.

Dalam pelariannya, Lily ditolong seorang pekerja asing asal Syria bernama Aziz. Setelah beberapa lama tinggal bersama, timbullah rasa suka sama suka dan terjadilah hubungan gelap. Namun, malang bagi Lily, dia tertangkap petugas imigrasi dan ditahan hampir 14 bulan di penjara. "Ketika berada di penjara, dia (Lily, Red) baru sadar telah hamil," papar Yudhi.

Gilang lahir di balik jeruji besi tanpa setahu ayah kandungnya. Bayi berkulit putih itu dibawa pulang ke Indonesia dalam usia empat bulan. Aziz juga tak pernah tahu bahwa dia sebetulnya telah menjadi ayah.

Ketika mendarat di Indonesia, Lily tak berani membawa Gilang ke kampung halamannya, Sukabumi. Sebab, dia punya suami dan tiga anak. Gilang nyaris ditelantarkan di bandara sebelum diselamatkan Yudhi dan dibawa ke RPA pada 24 Februari lalu. "Sampai sekarang suami TKI itu juga belum tahu bahwa istrinya punya anak hasil hubungan gelap ini," katanya.

Bapak satu anak itu beberapa kali membawa Gilang menemui ibunya secara diam-diam, sekadar melepas kangen. Namun, keberadaannya tetap dirahasiakan dari keluarga besarnya di Sukabumi.

Sesuai standar ketentuan RPA TKI, kata Yudhi, pihaknya memberikan waktu enam bulan bagi TKI itu untuk menjelaskan "kondisi" itu kepada keluarga. RPA juga siap mendampingi dalam proses mengungkapkan keberadaan si "anak haram" itu kepada keluarga TKI. "Setelah itu baru diberi opsi apakah anak ini mau dibawa kembali atau dititipkan di sini," kata Yudhi.

Cerita tak kalah pilu juga dialami bayi Najla Nurfatilah. Bayi perempuan itu sengaja dititipkan di RPA karena ibunya tidak ingin trauma masa lalunya muncul kembali. Sang ibu, sebut saja bernama Rahma, adalah TKI korban perkosaan ketika bekerja di Riyadh, Arab Saudi.

Rahma menandatangani kontrak sebagai pembantu rumah tangga selama dua tahun. Namun, setelah beberapa bulan bekerja tanpa digaji, dia memutuskan lari.
Dasar nasib. Sudah jatuh tertimpa tangga berat. Perempuan asal Jepara itu lari menggunakan taksi sewaan. Eh, si pengemudi taksi asal Bangladesh justru membawa Rahma ke sebuah rumah kosong. Dia dipaksa melayani nafsu bejat sopir itu. Bahkan, sopir berkulit gelap itu mengajak seorang temannya memperkosa Rahma. Dua hari dua malam Rahma disekap dan melayani nafsu bejat dua pekerja asing asal Bangladesh.

"Setelah puas dengan Rahma, kedua laki-laki itu menyerahkan dia (Rahma, Red) ke polisi Arab Saudi. Dalam dinginnya penjara, lahirlah Najla yang kemudian ikut dideportasi bersama Rahma kembali ke Indonesia," tutur Yudhi.

Di tanah air, Najla yang berdarah Bangladesh-Indonesia itu dibawa pulang ke Jepara. Namun, suaminya menolak mentah-mentah kedatangan Rahma dan Najla. Dalam kondisi panik, Rahma kembali lagi ke terminal 4 di Jakarta dan meminta bantuan Yudhi. "Tak terasa sekarang hampir 14 bulan dia dirawat di sini," kata pria berkacamata itu dengan mata berkaca-kaca.

Alumnus Ponpes Walisongo, Ponorogo, itu mengatakan, RPA TKI didirikan atas berbagai faktor. Antara lain, didasari niat menyelamatkan bayi-bayi TKI dari tangan para penjual bayi. Motif lain, kata pria bertitel sarjana hukum itu, adalah niat menegakkan akidah Islam. Yakni, menjaga agar bayi-bayi yang lahir dari orang tua muslim itu tidak berpindah agama.

Setidaknya, itulah yang diamanatkan Kepala BNP2 (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan) TKI Mohammad Jumhur Hidayat, ketika bersedia menjadi donor tunggal bagi lembaga nonprofit itu. "Sebab, dalam undang-undang hak asuh anak, tidak harus jatuh pada orang tua angkat yang seagama," katanya.

Lembaga penitipan anak di rumah kontrakan itu memang tidak memungut biaya apa pun dari para TKI yang menitipkan bayinya. Semula shelter itu direncanakan memelihara bayi-bayi tersebut maksimal enam bulan.

Namun, dalam praktiknya, banyak orang tua bayi itu yang menandatangani surat penyerahan anaknya. Bukannya berencana mengambil kembali anaknya. Karena itu, RPA TKI, dengan seizin Depsos, membuka peluang bagi para dermawan yang ingin mengambil anak angkat anak-anak para TKI itu.

Sayang, hal itu kerap disalahgunakan orang lain. Tak sedikit orang berduit yang datang ke RPA dan ingin membeli bayi itu bagaikan membeli kambing saja. Salah satunya bayi Aurora yang kini telah diadopsi orang tua asuh.

Aurora ditelantarkan orang tuanya, TKI asal Lombok, dibungkus selimut kumal di sudut terminal 4 Bandara Soekarno-Hatta. Petugas BNP2 TKI gagal menemukan alamat asli perempuan tersebut. Sebab, ternyata TKI itu menggunakan alamat fiktif.

Ketika masih dirawat di RPA, beberapa orang datang dan menawarinya cek agar dia memproses surat adopsi Aurora. Tawaran terbesar senilai Rp 20 juta. Namun, dia mengaku tidak tergoda iming-iming itu. Karena itu, untuk menjaga keamanan RPA, dia mempekerjakan tenaga keamanan. "Memang operasional RPA ini kerap terkendala dana. Tapi, saya lebih baik utang bank daripada menjual bayi," tegasnya.

Lebih lanjut Yudhi memaparkan, biaya operasional RPA rata-rata Rp 10 juta per bulan. Biaya itu antara lain untuk honor dua babysitter dan dua tenaga keamanan. Pengeluaran paling besar untuk membeli susu dan popok bayi.

Dana tersebut umumnya diperoleh dari para dermawan. Namun, donator tetapnya, ya Jumhur Hidayat dan Yayasan Puri Cikeas. "Kami juga dibantu Dinsos Tangerang," kata Yudhi.

Dia mengakui memasang standar tinggi bagi calon orang tua asuh. Misalnya, dia benar-benar memastikan bahwa calon orang tua asuh tersebut beragama Islam seperti agama orang tua si bayi. Selain itu, calon orang tua angkat harus mampu secara finansial menghidupi anak angkatnya.

Bagaimana jika tidak ada yang mengadopsi bayi-bayi tersebut" Yudhi tidak khawatir. Dia siap secara mental dan spiritual untuk membesarkan mereka. "Selama saya masih bernyawa, saya akan menghidupi mereka dengan cara apa pun, bahkan sampai mereka lulus SMA dan mampu hidup mandiri," ujarnya. "Mereka adalah anak-anak bangsa yang harus dilindungi dengan sepenuh hati dan saya siap melakukannya," katanya. (*/c2/cfu)

Berita Terpopuler

Cerita Ayah Gayatri saat Mendampingi Anaknya Menjemput Ajal
Jum'at, 24 Oktober 2014 , 18:01:00
Pura-pura Memijat Lalu Meng-Oral Siswa SMA di Kamar Kos
Sabtu, 25 Oktober 2014 , 01:02:00
Tweet Terakhir Gayatri, Beri Pesan Buat Jokowi-JK
Jum'at, 24 Oktober 2014 , 14:43:00
Nilai Kurang, Putri Presiden Jokowi Gagal CPNS
Jum'at, 24 Oktober 2014 , 07:07:00
Gayatri, Remaja Penguasa 14 Bahasa Itu Telah Pergi
Jum'at, 24 Oktober 2014 , 14:02:00
Ical Sebut Golkar Sudah Gabung Pemerintah
Jum'at, 24 Oktober 2014 , 15:45:00