2 Alumni Binaan Startup Studio Indonesia Ini Sukses Berkembang Setelah Pelatihan

Kamis, 27 April 2023 – 14:09 WIB
Ilustrasi. logo startup atau perusahaan perintis. Foto: Antara

jpnn.com, JAKARTA - Program Startup Studio Indonesia (SSI) yang rutin diselenggarakan dua kali setahun oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemnkominfo) resmi memasuki angkatan Batch ke-6.

Program inkubasi intensif itu bertujuan untuk mendampingi dan membina para startup digital tahap awal (early-stage) tanah air untuk bisa mencapai product-market fit secara optimal.

BACA JUGA: Startup Aruna Ajak Masyarakat Indonesia Konsumsi Ikan Sehat dan Bermutu

Program SSI itu telah meluluskan 65 alumni startup untuk mengembangkan bisnisnya, baik dengan meraih pendanaan, investor baru, hingga memperluas jangkauan operasional.

Menurut data SSI, alumni yang berhasil mendapatkan pendanaan tahap awal setelah lulus dari program berkisar di angka 13-40% di setiap batch.

BACA JUGA: Gelar SSI Batch 6, Kemenkominfo Pilih 17 Startup, Berikut Daftarnya

Per Desember 2022, total pendanaan yang mengalir ke alumni SSI telah mencapai Rp 392,1 miliar.

Salah satu alumni Startup Studio Indonesia yang berkembang pesat pasca-mengikuti pelatihan adalah Surplus Indonesia.

BACA JUGA: Tahap Akhir SSI, Para Startup Digembleng Lebih Keras

Surplus Indonesia adalah startup peduli lingkungan yang hadir sebagai solusi untuk mengatasi banyaknya sampah makanan di Indonesia.

Sampai saat ini, Indonesia masih menjadi negara kedua dengan jumlah sampah makanan terbesar di dunia.

Bekerjasama dengan pelaku usaha (seperti restoran, hotel, cafe), Surplus menjual stok makanan berlebih yang masih berkualitas, aman, dan layak konsumsi – dengan harga 50% lebih terjangkau melalui aplikasi food rescue pertama di Indonesia.

Pada awal tahun ini, Surplus Indonesia berhasil meraih pendanaan tahap awal dari Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) Ventures.

Jangkauan operasi pun kian meluas, yakni merambah Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang, dan Bali, dengan total pengguna aplikasi aktif mencapai 10.000.

Tahun ini, Surplus Indonesia akan memfokuskan bisnisnya untuk meningkatkan akuisisi merchant customer di daerah Jawa dan Bali.

Co-founder & CEO Surplus Indonesia, Muh. Agung Saputra mengatakan setelah berjalan beberapa waktu dan mulai scale up, barulah fokus menggencarkan marketing.

"Keputusan kami untuk mengikuti program Startup Studio Indonesia Batch 4 juga sangat berpengaruh ke sisi marketing Surplus Indonesia, salah satunya karena mendapatkan eksposur dari berbagai pemberitaan dan konten media sosial yang dilakukan Startup Studio Indonesia,” kata Agung Saputra dalam siaran persnya, Kamis (27/4).

Agung mengaku program SSI membuka jalan bagi Surplus untuk memperluas networking, terutama dengan pelaku startup baik yang sudah berpengalaman maupun yang sama-sama merintis di tahap awal.

Tidak hanya mendapatkan sesi mentoring yang sangat membantu perkembangan bisnis,, SSI rutin berinteraksi dengan para alumni untuk menyediakan program khusus agar startup bisa scale up dengan unit ekonomi yang aman dan berkelanjutan.

Oleh karena itu, dia berpesan kepada semua peserta SSI di batch yang baru untuk selalu fokus dan proaktif di semua sesi mentoring, serta memanfaatkan jejaring selama program berlangsung maupun setelahnya.

Sementara itu, CEO dan Co-founder Broom.id Pandu Adi Laras mengatakan banyak mendapatkan jejaring baru dari para startup dan mengumpulkan banyak insight bermanfaat untuk mengembangkan Broom.

Dia berpesan, startup yang mengikuti program SSI harus mampu berkomitmen untuk meluangkan waktu demi belajar hal baru.

Broom adalah startup platform digital untuk ekosistem mobil bekas yang menyediakan modal kerja jangka pendek kepada showroom melalui program “buy back”.

Para pemilik showroom dapat menjual inventori mobil kepada Broom, memutar dana yang didapat ke keperluan bisnis lain, lalu melakukan pembelian mobil kembali ketika sudah jatuh tempo.

Solusi ini memungkinkan pebisnis mobil bekas untuk mengoptimalkan perputaran modal maupun inventarisnya.

“Kami banyak memanfaatkan jejaring dari startup lainnya, karena kami berfokus pada model Business-to-Business (B2B). Karena itu, partisipasi kami di SSI membuahkan hasil yang baik, karena program tersebut membuka banyak pintu kesempatan baru bagi kami yang notabene adalah startup ‘muda’,” ungkap Pandu.

Surplus Indonesia dan Broom merupakan dua contoh startup alumni Startup Studio Indonesia yang berhasil membawa materi pelatihan dan mempraktekannya untuk pengembangan bisnis.

Namun, di luar itu, ada banyak pula alumni Startup Studio Indonesia di berbagai batch yang mencetak prestasi membanggakan.

Misalnya, 11 alumni SSI Batch 3 berhasil meningkatkan pendapatan perusahaan sebesar 153,1%, dan mayoritas di antaranya mencapai revenue Rp 1-10 miliar.

Selain itu, tercatat pula pertumbuhan bisnis hingga 792,2% untuk startup B2B dan 107,2% untuk startup yang bergerak di bidang B2C.

“Salah satu tujuan Startup Studio Indonesia adalah menciptakan ekosistem startup digital di Indonesia yang sustainable dengan terciptanya transfer of knowledge,” kata Sonny Hendra Sudaryana, Koordinator Startup Digital, Kominfo RI. (ddy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... SSI Sumut Bagi-bagi 1.000 Takjil Gratis


Redaktur & Reporter : Dedi Sofian

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler