7 Desa di Kabupaten Bekasi Tenggelam, 17 Ribu Warga Mengungsi, Batuk, Pilek

Selasa, 23 Februari 2021 – 15:01 WIB
Sejumlah anak-anak makan nasi bungkus usai main air saat banjir melanda Desa Sukalaksana Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi, Senin (22/2). Banjir akibat luapan sungai Citarum meluas. Foto: ARIESANT/RADAR BEKASI

jpnn.com, KABUPATEN BEKASI - Banjir telah menenggelamkan tujuh desa di Pabayuran Kabupaten Bekasi Jawa Barat, Senin (22/2).

Dari tujuh desa tersebut, empat desa di antaranya terisolasi karena terputusnya jalan.

BACA JUGA: TNI AL Berangkatkan Satgas Penanggulangan Banjir ke Babakan Bekasi

Akibatnya, warga bertahan dirumah mereka atau mendirikan tenda darurat.

RadarBekasi.id melansir, tujuh desa yang kini terendam banjir yakni, Bantarsari, Bantarjaya, Karangpatri, Sumberurip, Sumbereja, Karangsegar, dan Karangharja.

BACA JUGA: Informasi dari Mayjen Dudung Abdurachman soal Evakuasi Korban Jebolnya Tanggul Sungai Citarum

Sementara desa yang tidak bisa dilalui yakni Desa Sumberurip, Sumbereja, Karangsegar, dan Karangharja.

Ketinggian air di desa tersebut mencapai 150 cm.

BACA JUGA: KLHK Meresmikan Fasilitas Pengelolaan Sampah untuk Menunjang Perbaikan DAS Citarum

Kapolres Metro Bekasi Kombes Hendra Gunawan mengatakan, debit air di Sungai Citarum mengalami kenaikan, menyebabkan banjir yang sebelumnya merendam empat desa, sekarang bertambah menjadi tujuh.

Dengan penambahan ini, masyarakat yang terdampak juga bertambah menjadi 17 ribu.

"Sekarang ada penambahan, sebelumnya 12 ribu jiwa yang terdampak. Sekarang menjadi 17 ribu jiwa, karena ada kenaikan debit air,” ujar kapolres di lokasi pengungsian, Senin (22/2).

Menurutnya, tiga desa yang sekarang ikut terendam banjir, kondisinya tidak separah empat desa sebelumnya.

Untuk proses evakuasi kepada masyarakat yang terdampak terus dilakukan.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Alamsyah menuturkan, sampai saat ini sudah banyak pengungsi yang mengalami gejala penyakit, mulai dari batuk pilek, penyakit kulit, dan lainnya, penyebabnya karena memang kelelahan.

Bahkan, satu orang pengungsi harus dirujuk ke puskesmas, karena memang menderita penyakit lumpuh dari sebelum banjir.

Untuk pos kesehatan berada di setiap desa, puskesmas, dan tempat ibadah, jumlahnya sekitar 20 posko.

"Untuk pengungsi yang mengalami gejala penyakit sampai saat ini sudah ratusan. Kami menerjunkan sekitar 200 tenaga kesehatan,” katanya. (pra)

Yuk, Simak Juga Video ini!


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler