Abu Vulkanik Bisa Sebabkan Mesin Pesawat Ngadat

Sabtu, 11 Juli 2015 – 05:32 WIB
Erupsi Gunung Raung. Foto: dok.Jawa Pos

jpnn.com - JAKARTA - Penasehat Federasi Pilot Indonesia (FPI), Manotar Napitupulu mengatakan debu vulkanik dari letusan gunung berapi sangat berbahaya bagi penerbangan. Pasalnya, debu vulkanik bersifat menempel ke benda yang disinggahinya.

"Berbahaya, kalau nempel di kaca kokpit itu susah sekali dibersihkan. Kalau kita pakai wiper yang ada semprotan airnya debu malah tambah tebal. Jadi sebaiknya dijauhi," ujarnya saat dihubungi kemarin (10/7), terkait erupsi Gunung Raung.
       
Penumpukan debu di kaca kokpit seperti itu bisa sangat berbahaya karena menghalangi atau mengurangi jarak pandang pilot. Selain itu, debu vulkanik juga bersifat tajam sehingga bila tersedot masuk ke dalam ruang pembakaran, mesin bisa mati.

BACA JUGA: Jadi PNS karena Menyuap? Siap-Siap Saja Dipecat

"Meskipun debunya sedikit tapi kalau dipakai terbang beberapa kali debunya bisa menumpuk di ruang bakar, itu yang menyebabkan mesin bisa mati mendadak saat terbang," kata pilot senior Garuda Indonesia ini.
       
Oleh karena itu, sebaiknya sebuah pesawat yang terindikasi terkena debu vulkanik selama periode tertentu harus di tes kondisi mesinnya. Berdasar pengalamannya, secara kasat mata debu vulkanik yang menempel di pesawat biasanya meninggalkan bekas.

"Kalau di body pesawat itu seperti bintik-bintik cat jadi tidak rata. Sementara kalau di bahan logam juga berbintik dan menimbulkan korosi," ungkapnya.
       
Manotar mengungkapkan, sudah semestinya otoritas penerbangan menutup bandara di Bali hingga Lombok. Pasalnya di bulan Juni-Juli arah angin umumnya bergerak ke timur. Namun dia mengingatkan agar pemerintah mengawasi pergerakan angin secara mendadak ke arah barat.

BACA JUGA: Peradi Bakal Ajak MA dan KPK Rumuskan Cara Jitu Awasi Pengacara

"Bisa saja dalam sehari angin tiba-tiba berubah ke barat. Kalau itu terjadi bandara Juanda Surabaya dan bandara Abdul Rachman Saleh Malang harus siap-siap ditutup demi keselamatan penerbangan," tegasnya.
       
Dalam kondisi force majour seperti ini, lanjut Manotar, yang terpenting adalah memberikan informasi sejelas-jelasnya kepada penumpang. Hal itu hendaknya dilakukan oleh pihak bandara maupun pilot yang menerbangkan pesawat.

"Kalau misalkan di tengah penerbangan tiba-tiba ada pengalihan rute, Return to Base (kembali ke bandara semula. red) atau delay, penumpang harus dikasih tahu penyebabnya. Saya yakin mereka bisa mengerti," jelasnya. (wir)
       

BACA JUGA: Polisi Dalami Motif Selain Teroris untuk Ungkap Pelaku Bom Alam Sutera

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Desak Rini Jelaskan Suntikan Dana ke BUMN ketimbang Galang Relawan demi Jokowi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler