Ada Bumil Meninggal, Kepala Puskesmas Bilang Begini

Jumat, 22 Juni 2018 – 03:45 WIB
Ibu hamil alias bumil. Foto: Alamy

jpnn.com, SIMEULUE - Kepala Puskesmas Kuala Makmur, Kecamatan Simeulue Timur, Afrida Handayani, mengaku telah menerima kabar tentang seorang ibu hamil dan anak yang dikandungannya meninggal dunia di Pulau Siumat.

Ibu malang tersebut disebutkan meninggal dunia kerena tidak mendapat pertolongan medis karena para tenaga medis di puskesmas pembantu itu sedang cuti.

BACA JUGA: Tenaga Medis Cuti Lebaran, Bumil dan Anaknya Meninggal Dunia

"Dua petugas medis yang bertugas di Pustu Pulau Siumat memang sedang cuti lebaran ke kampung halamannya. Tapi mereka mendapat ijin lebaran, karena hasil laporan dari kedua petugas, tidak ada ibu hamil yang akan melahirkan dalam waktu dekat," katanya.

Dia menambahkan, hasil laporan kontrol terhadap bumil oleh kedua petugas di Pustu Pulau Siumat, bahwa perkiraan dan sesuai umur kandungan Aslina, diprediksikan akan melahirkan sekitar bulan Agustus 2018.

BACA JUGA: Dua Nelayan Terombang-ambing di Laut Berhasil Diselamatkan

Sehingga kedua petugasnya tersebut mendapat ijin resmi untuk berlebaran di Kecamatan Simeulue Tengah dan Kecamatan Salang.

Informasi yang dirangkum Rakyat Aceh dari sejumlah sumber, pada saat Aslina ditangani pihak tim medis RSUD Simeulue, dua dokter Obgyn juga tidak berada ditempat. Saat itu, juga sedang berlebaran. Hal itu dijelaskan drg Farhan, Direktur RSUD Simeulue.

BACA JUGA: Korban Terserang DBD di Aceh Singkil Terus Bertambah

"Saat bumil itu masuk RSUD Simeulue, sekitar pukul 14.00 WIB, Sabtu (16/6). Dan benar dua dokter Obgyn kita, dr Effi sedang di Medan, sudah cuti sejak tanggal 9 Juni 2018, dan pada siang Selasa tanggal 19 Juni 2018, telah tiba di Simeulue. Sedangkan dr Buyung juga cuti tanggal 16 Juni 2018," katanya.

Sehingga tidak adanya kedua dokter Obgyn pada saat emeregncy tersebut, sesuai prosedur tetap untuk menangani pasien tersebut, pihak manajemen RSUD Simeulue, maka kewenangan klinis ditangani dokter bedah yakni dr Asrinudin.

Sehingga pasien bumil itu hanya mampu bertahan hidup sekitar 40 jam, sejak dari Pulau Siumat hingga ditangani tim medis setempat.

Farhan menambahkan, sejak awal telah memberikan peringatkan kepada seluruh PKM dan petugas Pustu melalui dinas, supaya pasien yang terindikasi kesehatannya beresiko tinggi, untuk secepatnya di laporkan kepada pihak RSUD Simeulue, sehingga tim medis khusus tetap siaga.

"Pasien Bumil itu, hanya bertahan sekitar 40 jam dan prosedur yang kita lakukan untuk penanganan pasien itu, kewenangan klinis kepada dokter bedah, dan sejak awal telah memberikan peringatkan kepada seluruh PKM dan petugas Pustu melalui dinas, supaya pasien yang terindikasi kesehatannya beresiko tinggi, untuk secepatnya dilaporkan kepada pihak RSUD Simeulue, sehingga tim medis khusus tetap siaga," imbuhya.

Terkait tercorengnya dunia kesehatan, meninggal dunia ibu dan anak itu, telah diketahui dan diakui pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Simeulue, namun tidak mengetahui dan tidak ada pemberitahuan maupun informasi dari RSUD setempat bahwa dua dokter Obgyn tidak berada ditempat.

"Benar kita sudah mengetahui ada kasus pasien ibu hamil dan anak dalam kandungannya meninggal dunia, dan kita tidak mengetahui maupun informasi dari manajemen RSUD, bahwa dua dokter Obgyn tidak berada ditempat," kata Asludin, Kadinkes Kabupaten Simeulue, Kamis (21/6).

Masih menurut Asludin, untuk persoalan rumah tangga manajemen RSUD Simeulue, pihak Dinkes setempat tidak mau ikut campur, namun karena persoalan bidang kesehatan, hingga ada kasus meninggal dunia pasien bumil dan anak dalam kandungannya, telah mencoreng dunia kesehatan di Kabupaten Simeulue. (ahi/bai)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gempa Berkekuatan 4,7 Skala Richter Guncang Aceh


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler