Ada Potensi Besar Penularan COVID-19 di Stasiun dan KRL, Ini Buktinya

Selasa, 05 Mei 2020 – 11:20 WIB
Suasana Stasiun Bogor beberapa waktu lalu. Foto: Ricardo/JPNN

jpnn.com, BOGOR - Tiga penumpang kereta rel listrik atau KRL yang ikut tes swab di Stasiun Bogor pekan lalu dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Dari penelusuran Dinas Kesehatan Kota Bogor, tiga orang positif itu berjenis kelamin laki-laki dan bukan warga Bogor.

“Hasil telusur kami, dua orang tinggal di Jakarta. Satu orang tinggal di Sukabumi,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Sri Nowo Retno, Senin (4/5).

BACA JUGA: Sebelum Meninggal, Didi Kempot Galang Dana Bantu Lawan COVID-19

Retno menjelaskan, ketiga penumpang ini diketahui bekerja di Jakarta dan kini sudah mendapatkan penanganan oleh masing-masing Dinas Kesehatan domisili masing-masing. Mereka diketahui setiap hari menggunakan KRL.

“Untuk orang Sukabumi kerja di Jakarta. Dua orang lagi juga sama, kerja di Jakarta tetapi sedang melakukan tugas ke Bogor,” imbuhnya.

BACA JUGA: Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19 di Jatim Bertambah

Dengan adanya kasus tiga yang positif ini sambung dia, maka ada potensi besar penularan COVID-19 di stasiun dan KRL.

Karena itu, dia mengimbau bagi masyarakat yang benar-benar harus keluar rumah wajib memperhatikan protokol pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

BACA JUGA: Ridwan Kamil Ungkap Fakta Hasil Swab Test Penumpang KRL, Astaga!

“Tetap pakai masker, jaga jarak. Kalau tidak penting-penting banget tidak usah keluar rumah. Kalau pakai moda transportasi umum, mempunyai risiko seperti itu yang kita tidak tahu,” ujar dia.

Dari hasil swab tersebut juga terungkap, ketiga pasien positif itu merupakan orang tanpa gejala (OTG).

Merasa ada orang-orang yang sehat-sehat saja tapi sangat berpotensi menularkan virus lebih besar karena beraktivitas normal.

“OTG ini ada orang yang merasa sehat dan merasa tidak memiliki virus. Kalau dia menularkan ke orang yang rentan yang mempunya penyakit bawaan, itu akan jatuh ke dalam kondisi yang lebih buruk. Itu yang perlu diwaspadai,” tegasnya.

Sementara itu, Wali Kota Bogor Bima Arya meninjau aktivitas di Stasiun Bogor, kemarin. Dari pengamatannya, masih terjadi kepadatan penumpang pada pagi hari.

“Memang sudah berkurang 60 persen. Dari keadaan biasa sampai PSBB itu berkurang 60 persen. Namun, 40 persen ini adalah orang-orang yang bekerja di sektor yang dikecualikan seperti perbankan, cleaning service, apotek, minimarket, logistik,” ujar Bima.

Ia menyatakan, harus ada evaluasi kebijakan agar PSBB yang sedang berlangsung tidak menjadi hal yang sia-sia.

“Jadi opsi pertama paling ideal adalah setop (operasional KRL) total. kedua, memperketat di sini (stasiun). ketiga mungkin dievaluasi layanan gerbong dan jadwalnya semaksimal mungkin,” jelasnya.

Opsi lain yang bisa diambil adalah memaksimalkan layanan antarjemput dari perusahaan yang dikecualikan boleh beroperasi selama PSBB di seputar Jakarta. Bagi perusahan, pabrik atau unit ekonomi apapun silahkan menyediakan layanan bagi karyawannya. ”Jadi lebih terkontrol,” tambahnya.

Berdasarkan kajian epidemiologi, kata dia, yang terpapar Covid-19 itu mayoritas dari kerumunan seperti stasiun dan pasar. Karena itu, dia mengaku evaluasi PSBB ini akan disampaikan kepada pemerintah pusat untuk menjadi dasar perubahan kebijakan.

“Harus ada evaluasi kebijakan. Kemarin kami koordinasi di WhatsApp Group 5 kepala daerah. Kami akan bersurat lagi lebih detail memberikan opsi-opsi tadi untuk dibahas oleh kementerian,” pungkasnya. (ded/*/c/radarbogor)


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Covid-19   Stasiun   KRL   Corona  

Terpopuler