Adu Sound Jelang Takbiran hingga Dugem Jalanan

Selasa, 29 Juli 2014 – 14:28 WIB
AJANG GENGSI: Para peserta menyulap mobil trailer menjadi audio mobile. Foto: Shulhan Hadi/Radar Banyuwangi/JPNN/com

jpnn.com - BANYUWANGI – Warga di Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur memiliki tradisi unik untuk merayakan datangnya malam 1 Syawal.

Sejak siang puluhan truk berukuran besar disulap menjadi mesin superaudio dengan kekuatan yang luar biasa. Setelah mobil siap, mereka pun berkeliling jalanan di kota penghasil ikan terbesar di Indonesia tersebut.

BACA JUGA: Hotspot Kalbar Capai 268 Titik

Menurut Heri Kurniawan, 27, untuk menyemarakkan acara itu, mereka mengaku iuran untuk menyewa sound system dari luar kota. ”Ini kita ambil dari Bandung. Saingannya ada yang mengambil dari Jogja dan Bali,” ujarnya.

Tidak tanggung-tanggung, untuk menyewa serangkat alat audio tersebut, biaya yang dikeluarkan mencapai puluhan juta. ’’Anak kecil iuran Rp 1 juta, yang besar Rp 2 juta,” ungkapnya.

BACA JUGA: Hantam Avanza, Wajah Robek Kena Pecahan Kaca

Panitia pelaksana Purwanto menuturkan, acara yang sebenarnya adalah takbir keliling dan pesta kembang api saat malam Lebaran. Namun, sebelum malam tiba, banyak peserta yang sengaja mengadu kekuatan sound system-nya. ”Itu di luar ketentuan panitia, tapi gengsinya sangat besar, hadiahnya ya cuma gengsi,” jelasnya.

Penjurian untuk menentukan pemenang sound pun cukup unik. Setelah memutar dengan kekuatan penuh, penjurian diserahkan kepada pengunjung yang hadir di lapangan.

BACA JUGA: Pengungsi Syiah Wajib Lapor saat Pulang Kampung

Lain lagi cara ratusan anak muda Pamekasan untuk menyambut Idul Fitri malam Senin. Mereka malah menjadikan ruas jalan di Kabupaten Pamekasan sebagai diskotek jalanan dengan musik yang mengentak. Tak pelak, aksi dugem ratusan pemuda tersebut mendapatkan kecaman dari sejumlah organisasi Islam di Kota Gerbang Salam.

Aksi konvoi tersebut dimulai pukul 20.30. Sedikitnya 20 mobil rombongan yang terdiri atas mobil jenis truk dan pikap membawa sound system.

Bahkan, saat mobil diskotek jalanan itu diparkir di Jl Trunojoyo, puluhan anak muda berjoget dan menyetop kendaraan yang melintas. Akibatnya, kemacetan tak terhindarkan. Dua ruas jalan searah sempat lumpuh sekitar dua jam. Bahkan, antrean mencapai 3 kilometer.

Aksi ala diskotek itu berlangsung hingga dini hari. Namun, tidak ada petugas kepolisian ataupun satpol PP yang melakukan penertiban. Suara bising dan suara sound system pun mengganggu masyarakat setempat. ”Jelas saya terganggu. Karena mobil itu banyak dan musiknya bukan musik slow, tapi sangat bising,” keluh Amin Tohari, 35, warga setempat.

Selain itu, aksi dugem tersebut dikecam sejumlah organisasi Islam di Pamekasan. Di antaranya, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pamekasan. Mereka mengaku kecewa dengan sikap para pemuda yang sudah menyimpang. Sebab, saat malam takbiran, mereka memperagakan gemerlapnya dunia malam dengan aksi dugem dan tari erotis.

Ketua HMI Cabang Pamekasan Moh. Khafifi mengatakan prihatin dengan perkembangan anak muda di Pamekasan. Menurut dia, pemuda yang melakukan aksi itu tidak memperhatikan etika sosial. Dengan demikian, perlu ada pembenahan dan pembinaan khusus dari pemerintah. ”Ini malam takbiran, bukan caranya menyambut Idul Fitri dengan cara dugem dan aksi tari erotis. Itu bertentangan dengan agama kita,” katanya.

Sekkab Pamekasan Alwi Beiq mengatakan, pihaknya berjanji menertibkan takbiran pada kesempatan selanjutnya. ”Kami sudah beri imbauan untuk melakukan takbir kepada masyarakat. Namun, ternyata mereka menyalahgunakannya. Tahun ini akan menjadi evaluasi sehingga tahun depan kami memperbaikinya,” katanya. (sli/c10/ami)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Emon Siap Jalani Sidang Perdana Pasca Lebaran


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler