Akhir Tahun Beras Organik Sudah Ekspor

Sabtu, 25 Agustus 2018 – 05:36 WIB
Beras. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, BONDOWOSO - BI (Bank Indonesia) Kantor Perwakilan Wilayah Jatim mendorong klaster binaan di sektor pertanian yang memproduksi beras organik supaya bisa memperluas pemasaran produknya. Klaster binaan beras organik di Bondowoso itu sedang mempersiapkan diri masuk ke pasar ekspor.

Kepala Grup BI Jatim Harmanta mengatakan, strategi pengembangan unit-unit usaha kecil dan menengah di daerah dilakukan dengan menyiapkan capacity building.

BACA JUGA: Bondowoso Ditetapkan Jadi Status Siaga Bencana

Yakni, mempersiapkan sumber daya manusia maupun kelembagaan secara menyeluruh. BI telah membina klaster beras organik di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso.

”Usaha ini tidak hanya bersifat mikro, tapi bisa didorong untuk mandiri dan berpeluang menjadi usaha besar. Juga bisa membina usaha kelompok lain sehingga tercipta gerakan,” ucapnya di sela kunjungan klaster beras organik binaan Kantor Perwakilan BI Jember di Bondowoso, Kamis (23/8).

Klaster yang dikunjungi tersebut adalah usaha yang dikembangkan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Al Barokah dengan produksi akhir berupa beras merah, beras hitam, dan beras putih.

”Bagaimana gapoktan tersebut didorong supaya bisa meningkatkan nilai tambah produk berasnya,” jelasnya. Sebab, dengan nilai tambah tersebut, peluang pasar makin terbuka, salah satunya ke pasar internasional.

Pendamping Gapoktan Indah Prihantini dari Universitas Muhammadiyah Malang menuturkan, total lahan yang dikembangkan untuk pertanian beras organik itu seluas 160 hektare yang terbagi atas tujuh kelompok tani.

”Hingga sekarang baru 20 hektare yang sudah mengantongi sertifikat internasional. Mudah-mudahan ke depan seluruhnya bisa tersertifikasi,” jelasnya.

Sertifikasi itu dikeluarkan Control Union pada Maret 2018 lalu. Dengan mengantongi sertifikat tersebut, petani makin dekat dengan target menempuh pasar ekspor. Sekarang mengirim sample ke Hongaria dan Belgia.

”Diperkirakan akhir tahun ini sudah bisa ekspor,” jelasnya. Untuk ekspor, minimal volumenya 25 ton. Rata-rata produktivitas sekarang per hektare 7–8 ton, sedangkan ketika awal dikembangkan baru 4–6 ton per hektare. (res/c25/oki)


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler