Aksi Kejam KKB Dipimpin Langsung Egianus Kogoya

Rabu, 05 Desember 2018 – 15:46 WIB
Personel TNI - Polri di Mapolres Jayawijaya, sebelum diberangkatkan untuk melakukan evakuasi korban penembakan oleh KKB di Distrik Yigi, Nduga, Selasa (4/12). Foto: Polres Jayawijaya for Cendrawasih Pos

jpnn.com, JAKARTA - Tim gabungan TNI dan Polri hingga Selasa (4/12) masih berusaha menjangkau Distrik Yigi, lokasi pembangunan jembatan Trans Papua yang diserbu KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata).

Kemarin pasukan gabungan itu masih tertahan di Distrik Mbua. Mereka bergerak bersama-sama dari Wamena di Kabupaten Jawawijaya melalui jalur darat. Butuh waktu sekitar 8 sampai 12 jam untuk menjangkau Distrik Yigi dari Wamena.

BACA JUGA: KKB di Papua Berulah, Fadli Zon Salahkan Pemerintah

”Tentu pergerakan itu kami tidak mempertimbangkan kecepatan. Tapi, kami pertimbangkan keamanan,” Kapendam XVII/Cendrawasih Kolonel Infanteri Muhammad Aidi.

Tugas awal mereka tidak lain memastikan seluruh informasi yang diterima oleh TNI maupun Polri. Mereka perlu melakukan itu lantaran informasi awal masih satu arah. Petugas tidak bisa mengonfirmasi ulang karena terkendala akses komunikasi.

BACA JUGA: Jokowi Sebut Korban Kebiadaban KKB Pahlawan Pembangunan

Sejauh ini, analisis dan identifikasi Kodam XVII/Cendrawasih merujuk informasi awal. Salah satunya soal pimpinan KKB yang diduga menghabisi puluhan pekerja bangunan itu.

Menurut Aidi mereka adalah kelompok lama yang selama ini berbasis di Nduga. Yakni KKB pimpinan Egianus Kogoya. Akhri Oktober lalu, mereka juga beraksi di Mapenduma. Distrik yang lokasinya bersebaeahan dengan Distrik Yigi. Di Mapenduma mereka menyandera dan memerkosa guru.

BACA JUGA: Kapolri Beber Penyebab KKB Masih Eksis di Papua

”Dia yang melakukan penganiayaan terhadap guru dan tenaga kerja yang ada di Mapenduma,” imbuhnya.

Walau belum bisa memastikan, Aidi menuturkan, tidak menutup kemungkinan puluhan pekerja PT Istaka Karya diburu dan dibunuh oleh kelompok tersebut karena mereka merasa terusik. Minggu (1/12) kelompok itu melaksanakan upacara guna memeringati hari kemerdekaan Papua Barat.

Aktivitas itu lantas diabadikan oleh pekerja yang membangun jembatan di sana. ”Sehingga mereka marah,” ungkap Aidi.

Selain itu, sambung Aidi, kelompok tersebut memang sudah lama tidak senang dengan upaya pemerintah membangun Papua. Mereka khawatir pembangunan itu membuat masyarakat semakin percaya dan yakin untuk teguh membela NKRI.

Sebab, pelan-pelan pembangunan infrastruktur membuat masyarakat kian mudah beraktivitas. ”Makin banyak masyarakat pro terhadap NKRI, mereka merasa terhambat perjuangannya,” tuturnya.

Beragam aksi teror yang ditebar oleh KKB kerap dibuntuti tuntutan agar pemerintah melepaskan Papua. Karena itu, Aidi menyebut, setiap usaha membangun Papua terus mereka ganggu. Bukan hanya pekerja yang membangun infrasruktur, aparat keamanan dari TNI dan Polri juga kerap jadi sasaran. Bahkan, tidak sedikit dari mereka kehilangan nyawa. Senjata api yang dimiliki KKB juga banyak diperoleh dari merampas milik petugas.

Senjata api itu pula yang diduga kuat mereka gunakan untuk menyerang pekerja bangunan PT Istaka Karya. Hingga banyak di antara para pekerja itu meninggal dunia. Tidak sampai disitu, Senin malam (3/12) mereka juga beraksi dengan menyerbu Pos Batalyon Infanteri (Yonif) 755/Yalet.

Menurut Wakapendam XVII/Cendrawasih Letkol Infanteri Dax Sianturi, pos itu berada di wilayah Distrik Mbua. Distrik yang juga berdekatan dengan Distrik Yigi.

Pria yang akrab dipanggil Dax itu menyampaikan, personel gabungan TNI dan Polri yang bertolak dari Wamena tiba Pos Yonif 755/Yalet sekitar pukul 14.00 WIT kemarin. ”Didapat informasi bahwa Pos Yonif 755/Yalet di Distrik Mbua juga diserang oleh KKSB pada kemarin malam (Senin) sekira pukul 18.30 WIT,” ujarnya. Akibat serangan itu, seorang prajurit TNI meninggal dunia. Sedangkan seorang lainnya terluka.

Usai mendapat laporan tersebut, personel gabungan TNI dan Polri lantas menysir Distrik Mbua. Mereka juga beristirahat di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke Distrik Yigi. ”Jarak dari Distrik Mbua ke Distrik Yigi masih sekitar sepuluh kilometer,” jelas Dax. Tentu saja dengan medan yang tidak mudah ditempuh. Dari Distrik Mbua, personel gabungan itu mengevakuasi 12 orang masyarakat sipil.

Seluruhnya terdiri atas dua orang pekerja bangunan di SMPN Mbua, enam orang pekerja bangunan Puskesmas Mbua dan empat orang karyawan PT Istaka Karya. Dari 12 orang tersebut tiga di antaranya didapati mengalami luka-luka. ”Tiga (karyawan) PT Istaka Karya luka tembak,” ungkap Dax.

Dia pun menyebut, 12 orang tersebut berhasil dievakuasi ke Wamena pada pukul 17.55 WIT menggunakan helikopter.

Berdasar data dari Kabidhumas Polda Papua Kombespol A. M. Kamal, pasukan gabungan TNI dan Polri memang sudah menjangkau Distruk Mbua kemarin. Mereka lantas melanjutkan perjalanan ke Distrik Yigi dengan berjalan kaki. ”Dalam perjalanan inilah ditemukan empat orang pekerja,” jelasnya. Empat pekerja itu, sambung dia, sedang berjalan kaki dan mengalami luka yang cukup parah.

Empat orang itu terdiri atas dua pekerja PT Istaka Karya bernama Martinus Sampe dan Jefrianto. Nama kedua mengalami luka tempat di pelipis kiri. Sedang Martinus kena tembak pada kaki kiri. ”Mereka melarikan diri dari kejaran KKB,” ujarnya.

Dua orang lainnya bernama Irawan yang merupakan pekerja Telkomsel dan John petugas yang terdata sebagai petugas puskesmas. Mereka berdua tidak mengalami luka.

”Dari keterangan keempatnya diketahui bahwa sebuah pos TNI diserang oleh KKB dan seorang anggota TNI meninggal Dunia,” tuturnya. Dari keterangan mereka pula diketahui bahwa KKB yang melakukan pembantaian dipimpin Egianus Kogoya.

Saat melakukan penyerangan tersebut diketahui dengan dibantu warga sebanyak 250 orang. Dengan jumlah tersebut tentunya TNI dan Polri perlu kekuatan tambahan. Sebab, jumlah mereka saat ini 153 orang. (bay/far/idr/nis/syn)

Aksi Sadis Pemberontak Papua

Sabtu (1/12)

Seorang pekerja ketahuan memotret peringatan OPM pada 1 Desember. Dia dikejar oleh KKB pimpinan Egianus Kogoya hingga ke basecamp pekerja. Puluhan pekerja ditembak. Delapan orang berhasil kabur.

Minggu (2/12)

Delapan pekerja yang melarikan diri ditolong anggota DPRD. Namun, KKB menjemput delapan orang tersebut dan mengeksekusi tujuh di antaranya. Satu orang berhasil kabur.

Senin (3/12)

Polri dan TNI mendapatkan laporan pembantaian tersebut. Satu peleton pasukan gabungan dikerahkan. Namun, jalan diblokade oleh KKB.

Selasa (4/12)

Pasukan gabungan berupaya menjebol blokade. Di perjalanan ditemukan empat korban. Dua pekerja mengalami luka tembak di pelipis dan kaki. Ada pula seorang karyawan Telkomsel dan satu karyawan Puskesmas.

Catatan: Jumlah pekerja yang dibantai belum jelas, ada yang menyebut 24 dan ada yang menyebut 31 orang.

Sumber: Polri dan TNI

BACA ARTIKEL LAINNYA... Papua Circle Institute Kecam Tindakan Keji KKB di Nduga


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler