Anak Petani Miskin Memimpin Polri

Minggu, 27 Oktober 2013 – 02:31 WIB
Komisaris Jenderal Sutarman Saat Dilantik Menjadi Kapolri di Istana Negara. Foto: Setneg

jpnn.com - Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri, Komisaris Jenderal Sutarman sedianya dilantik menjadi Kapolri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tentunya, jabatan itu menjadi amanah dan kebanggaan tersendiri, terutama bagi putra-putri Komjen Sutarman yang juga menjadi bagian dari korps bhayangkara. Tak banyak yang tahu, Kanit Regident Polres Bogor, Ipda Dicky Dwi Priambudi Arief, merupakan putra kedua dari sang Jenderal.

Laporan : Dede Supriadi

BACA JUGA: Sukses Beternak Kambing, TKI Indramayu Ogah Kembali ke Luar Negeri

Kepada Radar Bogor (grup JPNN), Ipda Dicky berbagi cerita tentang sosok Komjen Sutarman sebagai ayah dan kepala keluarga. Sutarman menjadi panutan sekaligus alasan mengapa dirinya ikut mengabdi di Polri. Menurutnya, prestasi yang diraih sang ayah adalah buah dari kerja keras. “Dia orang yang sangat luar biasa,” ujarnya ketika ditemui di lingkungan Polres Bogor kemarin.

Dicky menceritakan, Komjen Sutarman terlahir sebagai anak seorang petani miskin yang harus bekerja keras agar bisa tetap sekolah. Bahkan, Sutarman kecil nyaris putus sekolah karena tak ada biaya. Meski sempat dilarang, anak pertama dari lima bersaudara itu tetap melanjutkan sekolah dengan mencari uang tambahan. “Menjadi pengembala kerbau dan mencari kayu bakar. Setelah terkumpul, kayu bakar lalu dijual. Uang yang terkumpul untuk biaya sekolah,” tutur Dicky menirukan cerita sang ayah.

BACA JUGA: Berangkat Sehat, Syamsuri Berharap Pulang ke Tanah Air

Pria yang baru saja menikah Maret 2013, menilai prestasi sang ayah hingga dipercaya menjadi Kapolri adalah cerminan kerja keras sedari kecil. Sutarman mengenyam pendidikan dasar hingga SMA di desa terpencil di daerah Sukoharjo, Jawa Tengah. Untuk mencapai lokasi sekolah, Sutarman kecil harus menempuh jarak 30 kilometer dari rumahnya dengan bersepeda. “Karena tidak ada uang untuk kuliah, bapak lalu mencoba mendaftar ke AKABRI (kini TNI-Polri). Kemudian diarahkan untuk masuk Akpol (akademi kepolisian) dan berhasil menamatkan pendidikan pada tahun 1981,” tuturnya.

Dicky memandang Komjen Sutarman sebagai sosok pengayom. Sang ayah pula yang membuatnya tertarik menjadi polisi. Sebenarnya, cita-cita Dicky menjadi seorang pengusaha sukses. "Tapi Bapak bilang, polisi bisa menjadi wiraswasta, tetapi wiraswasta tidak bisa menjadi polisi," katanya. Dicky juga berminat menjadi polisi, karena sang ayah menanamkan pemahaman bahwa polisi adalah superhero yang menolong masyarakat.

BACA JUGA: Bentuk Huruf Lucu, Siswa pun Senang Mempelajari

Menjadi putra seorang pekerja keras, dirasakan Ipda Dicky cukup menyiksa. Saat Dicky kecil, tak terhitung berapa kali dirinya harus berpindah-pindah, mulai dari perkotaan hingga daerah terpencil untuk mengikuti Sutarman bertugas. Di masa SMP, barulah keluarga memilih menetap di Jakarta dan Sutarman tetap bekerja di Polda Jawa Timur. “Karena kesibukan masing-masing, minimal sebulan sekali Ayah menyempatkan bertemu keluarga. Entah keluarga yang ke sana atau ayah yang ke Jakarta. Jadi lebih sering keluarga yang nemunin ke sana,” kata lulusan Akpol 2010 itu.

Dicky menyadari, tugas sang ayah sebagai polisi tentu kerap menghadapi masalah besar. Namun hebatnya, kata dia, Sutarman tak pernah membawa beban kerja ke rumah. “Apa yang dialami Bapak, tidak pernah dialami keluarga. Kalau di rumah, paling hanya membahas keluarga,” katanya.

Sebagai anak, Dicky sering diarahkan untuk bekerja baik dan tidak melanggar aturan. “Kalau ada kesulitan baru saya nanya kepada dia,” katanya. Sutarman juga dirasakan Dicky sebagai sosok ayah yang sangat tegas dan disiplin dalam mendidik anak. “Kalau pukul, pukul beneran. Tapi ketika sudah dewasa baru diserahkan kebebasan. Yang penting jangan ada pelanggaran,” ungkapnya.          

Selain Dicky, Sutarman juga memiliki seorang putra, Dani Trisespianto dan seorang putri, Devina Ekowati. Menurut Dicky, sang ayah tak pernah memanjakan ketiga anaknya. “Bapak juga paling suka talas Bogor. Setiap kali ke rumah Bapak, saya selalu membawa talas. Kalau tidak bawa, Bapak juga sering nanyain,” ujarnya.

Dicky menyadari, sebentar lagi statusnya akan berubah menjadi anak Kapolri. Namun Dicky merasa tak ada perlakuan istimewa bagi dirinya di Polres Bogor. “Menjadi anak polisi sebenarnya tidak enak. Kalau saya bagus dan punya prestasi, disangka kerena adanya campur tangan orang tua. Begitu juga jika saya melanggar, pandangan orang bisa sangat miring,” ucapnya.

Meski begitu, Dicky mengaku tak ingin memanfaatkan nama besar ayahnya. “Saya harus lebih berhasil dari Bapak saya,” pungkasnya.

Terpisah, Kapolres Bogor, AKPB Asep Safrudin menegaskan, tidak akan ada perlakuan istimewa terhadap Ipda Dicky. Meskipun sebagai anak Kapolri, menurut Asep, Dicky tidak memperlihatkan dirinya sebagai anak petinggi di Kepolisian. “Dicky itu, orangnya low Profile,” kata dia.

Asep juga mengaku tak merasa canggung dengan keberadaan Dicky di Polres Bogor. Dia memastikan akan menegur putera Kapolri itu terbukti bersalah atau melanggar. “Sebagian besar anggota tidak tahu Dicky anak Komjen Pol Sutarman,” tandasnya.(*)

 

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bahasa Ibu Mulai Punah, Aksara Hangeul Jadi Pengganti


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler