Analisis Kapten Vincent tentang Jatuhnya Sriwijaya Air SJ182

Senin, 11 Januari 2021 – 11:49 WIB
Kapten Pilot Vincent Raditya. Foto tangkapan layar YouTube

jpnn.com, JAKARTA - Kapten Pilot Vincent Raditya menilai jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 pada Sabtu, 9 Desember 2021 bukan disebabkan karena armadanya tua.

Menurutnya, ada banyak faktor yang menyebabkan pesawat jatuh.

BACA JUGA: Di dalam Pesawat Sriwijaya Panca Widya Nursanti Memohon Doa kepada Suami dan Banyak Berselawat

"Mohon maaf, bukan maunya mendahului Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan membela Sriwijaya Air, tetapi persepsi bahwa pesawat tua lebih mudah jatuh harus diubah," kata Kapten Vincent dalam kanal YouTube pribadinya.

Dia menambahkan, track record Sriwijaya Air bisa dilihat dari tahun-tahun lalu.

BACA JUGA: Sudah 7 Kantong Jenazah Diduga Penumpang Sriwijaya Air Masuk RS Polri

Sriwijaya selalu menggunakan pesawat mulai dari A737 klasik, A737 Engine. Sekian lama belum ada kejadian meski bukan pesawat baru.

Malah, tidak sedikit juga pesawat yang walaupun baru tetapi jatuh. Jadi, kata pilot Batik Air sejak 2014 sampai sekarang, tidak bisa memasalahkan berdasarkan dari umur pesawat.

BACA JUGA: Video Tenaga Kesehatan Tolak Vaksin Covid-19 Viral

Sebab, sambung dia, terjadinya suatu kecelakaan bukan umur pesawat yang dilihat tetapi banyak faktor.

"Yang jelas saya tidak akan mendahului pihak KNKT. Saya pernah kok menerbangkan pesawat yang sudah tua," katanya.

"Intinya pesawat itu sudah ada jadwalnya kapan harus dicek. Umur bukan suatu determinasi pesawat itu jelek," tegas pilot yang pernah menerbangkan pesawat Citilink sejak 2012-2014.

Dia menjelaskan, pesawat dikatakan tua ketika memasuki 50 ribu jam ke atas. Pesawat tahun 1930, 1940, kalau memang dirawat dengan baik masih bisa digunakan.

Cuma yang jadi masalah adalah cost untuk memperbaiki pesawat. Makin lama pesawat itu inservice, kian banyak jam terbang, otomatis lebih banyak pengecekan yang harus dilakukan. 

Airlane pun kata pilot yang juga YouTuber ini, semakin berpikir ketika mereka harus replace berkali-kali sendiri, tiba di satu titik mereka harus keluarkan uang terlalu besar. Jadi mereka pun memutuskan tidak layak lagi mempertahankan pesawat ini. Airlane akan memilih mengganti armadanya.

"Jadi secara finansial mereka sudah menganggap ini tidak worthed lagi untuk dipertahankan lebih baik diganti pesawat baru," ujarnya.

Pada umumnya pesawat itu menghentikan service ketika cost-nya sudah terlalu tinggi.

Pesawat makin baru kian efisien. Namun, bukan berarti pesawat baru tidak akan jatuh dan pasti bagus.

"Ini tidak bisa jadi indikator pesawat baru aman, pesawat bekas pasti ada apa-apa," ucapnya.

Dia mengaku banyak melihat pesawat yang sudah cukup tua tetapi dirawat dengan baik.

Malah, kata dia, ada pesawat baru yang banyak kerusakan ketika akan terbang. Walaupun bukan sesuatu yang utama sehingga bisa terbang.

"Ada saya pernah melihat seperti itu karena dalam dunia penerbangan kalau kerusakannya minor masih bisa terbang. Sehingga perlu klarifikasi bahwa pesawat tua dan muda bukan sebagai suatu indikator pesawat itu jatuh," kata Kapten Pilot Vincent. (esy/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler