Analisis Para Ekonom Terkait Dampak Pemindahan Ibu Kota Negara

Jumat, 20 Agustus 2021 – 19:50 WIB
Presiden Jokowi saat meninjau lokasi untuk ibu kota negara. Foto: M Fathra Nazrul Islam/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - The Indonesia Democracy Initiative (TIDI) menggelar diskusi daring pada Senin (16/8) kemarin, membahas rencana pemindahan ibu kota negara yang dilihat dari aspek ekonomi dari Jakarta ke Kalimantan Timur.

Sejumlah ekonom hadir dalam diskusi kali ini seperti Fithra Faisal Hastiadi dan Handi Risza Idris.

BACA JUGA: Tammy Abraham Resmi Berseragam Serigala Ibu Kota

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi menyebutkan dampak ekonomi pemindahan ibu kota dari sisi cost-benefit analysis tidak terlalu signifikan.

“Saya hitung dampak ekonomi dalam konteks ini dampaknya terhadap GDP itu angkanya di antara 0,05 persen sampai 0,1 persen ekonomi tumbuh, tetapi tidak terlalu besar," kata Faisal saat diskusi.

BACA JUGA: Pemerintah Diingatkan Soal Ibu Kota Negara yang Baru, Penting!

Dia menuturkan biaya pemindahan ibu kota negara sekitar Rp 480 triliun.

Dana itu seharusnya digunakan pemulihan ekonomi, menambah bantuan sosial, dan subsidi industri semasa pandemi.

BACA JUGA: Ekonom UI: Donasi GoJek Ringankan Beban Driver Sekaligus Menggerakkan Roda Perekonomian

“Pemindahan ibu kota memerlukan planning konseptual berdasarkan kontemplasi empiris. Sebab, menggunakan uang masyarakat harus efisien. Kalau tidak, incremental capital-output ratio Indonesia akan berasa di level terburuk di ASEAN," tutur dia.

Ekonom Universitas Paramadina Handi Risza Idris mempertanyakan rencana pemindahan ibu kota negara.

Dia ragu pemindahan dilakukan secara matang dan melibatkan seluruh pihak.

“Apakah pemindahan ibu kota ini berdasarkan kajian alamiah mendalam pemerintah dengan melibatkan seluruh stakeholder yang ada atau sekadar keinginan pemimpin untuk membuat monument sebagai legasi kepemimpinan," ujar Handi.

Dia mengungkapkan kondisi perekonomian di Indonesia mengalami ketidakpastian semasa pandemi dan langkah memaksakan pemindahan ibu kota akan menyulitkan keuangan negara.

“Kebijakan pemindahan ibu kota perlu dipertimbangkan secara matang karena masih berada di situasi ketidakpastian dan stagnansi ekonomi, beban utang, serta ketimpangan," tutur Handi. (ast/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:

BACA ARTIKEL LAINNYA... Lonjakan Kasus Mendekati Level Tertinggi, Filipina Lockdown Ibu Kota


Redaktur : Rasyid Ridha
Reporter : Aristo Setiawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler