Andrea Decker, Biduan Dangdut yang Juga Peneliti

Selasa, 25 September 2018 – 20:42 WIB
Andrea Decker. FOTO : Jawa Pos

jpnn.com, SURABAYA - Pencinta Sodiq Monata dipastikan mengenal wajah Andrea Decker. Dalam sejumlah pertunjukan, Sodiq mengajak seorang bule perempuan cantik untuk menyanyi. Dia adalah peneliti dangdut untuk gelar doktor.
==

MASIH teringat jelas di benak Andrea Decker saat kali pertama menjadi biduan dangdut dalam sebuah acara pernikahan. Saat itu dia mengikuti orkes kenamaan Monata untuk mengisi acara pernikahan di daerah Jawa Tengah. Sempat ditanya bisa menyanyi atau tidak, dia lantas diboyong Cak Sodiq, pentolan grup Sonata, untuk ikut meramaikan panggung.

BACA JUGA: Mari Bergoyang agar Ahok-Djarot Menang

''Kaget jelas. Gugup juga pasti,'' ujarnya saat ditemui di salah satu kafe di daerah Gubernur Suryo. Namun, kondisi itu tidak menghalanginya untuk unjuk gigi. Dengan hati berdebar-debar, Andrea memegang mikrofon dan mulai bernyanyi. Lagu berjudul Kandas pun dipilih. Alasannya sederhana. Dia berpikir lagu itu hanya beberapa lirik untuk suara sang perempuan.

''Akhirnya saya duet sama Cak Sodiq menyanyikan lagu Kandas,'' ucapnya, lantas tertawa. Ketika asyik berduet, Andrea tiba-tiba dikagetkan dengan saweran Dia sempat bingung. Fokus menyanyinya pun terbelah. Antara menyanyi dan menerima saweran. Apalagi, dia tidak tahu harus dikemanakan uang saweran yang didapat.

Sementara itu, saat dia melirik penyanyi lain di sebelahnya yang lebih senior, mereka terlihat mahir menerima uang saweran tersebut. Bahkan sampai bertumpuk di tangan. ''Saya heran bagaimana mereka bisa tetap menyanyi dengan baik dan menerima saweran begitu banyak,'' tambah perempuan yang tengah menempuh pendidikan doktor di Universitas California tersebut.

Tidak lama kemudian, dia kembali diminta tampil di atas panggung. Meski masih grogi, Andrea lebih siap lantaran sebelumnya melakukan cek sound. Dalam penampilannya kali ini, Cak Sodiq memintanya untuk lebih romantis saat berduet. Penampilan itu pun diabadikan dan viral di dunia maya.

Tidak banyak yang tahu bahwa sejak 2017 Andrea memang khusus meneliti dangdut. Dia langsung terjun dan melakukan penelitian partisipatoris sebagai biduan dangdut.

''Sejak itu beberapa kali ikut jadi penyanyi di atas panggung. Pernah juga diundang stasiun TV untuk nyanyi bareng Fitri Karlina,'' kata Andrea. Karena itu, dia diperlakukan layaknya artis. Penjagaan sama ketatnya dengan penyanyi lain. Tentu, kondisi tersebut membuat pergerakannya tidak leluasa sebagai seorang peneliti. Waktunya untuk bisa mengobrol dengan para musisi pun ikut terbatas.

Perempuan yang mendapat beasiswa Fullbright dari AMINEF tersebut juga shock ketika melihat tawuran untuk kali pertama. Dia tidak menyangka para penonton bisa sampai berantem hanya karena melihat dangdut. Padahal, dalam pandangannya, para penonton dangdut terbilang cukup sopan. ''Masih tidak mengerti kenapa tawuran bisa terjadi sampai sekarang,'' jelasnya.

Selain tawuran, hal yang membuat Andrea geleng-geleng kepala adalah daya tahan anggota tim orkestra. Selama berhari-hari mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam mobil. Berhenti hanya ketika tampil, makan, tidur, dan mandi. ''Mereka bisa selama seminggu seperti itu. Saya kalau ikut dua hari sudah menyerah, setidaknya istirahat dulu sehari,'' lanjut Andrea.

Andrea bukan kali pertama datang ke Indonesia. Pada 2013 dia pernah datang ke Indonesia untuk mengikuti kursus bahasa Indonesia di Malang. Ketertarikannya dengan dangdut berawal dari sana. Gara-gara sebuah pesta pernikahan yang menghadirkan pertunjukan dangdut. Andrea merasa jatuh hati dengan melodi dan cengkoknya. ''Sempat kaget juga. Stereotip yang ada di otak aku itu semua orang Indonesia suka karawitan. Tetapi ternyata ada juga musik dangdut koplo yang seperti ini,'' tuturnya.

Perempuan yang juga mengambil penelitian S-2 tentang dangdut itu tertarik untuk mendalaminya. Ada banyak hal menarik tentang dangdut di matanya. Mulai gender hingga status sosial. Itulah yang dijadikan tema besar dari penelitiannya.

Dalam penelitian tersebut, dia dibimbing dua dosen dari Universitas Gadjah Mada dan Universitas Airlangga. (dwi/c15/ano)


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler