Sebuah restoran cepat saji KFC di pedalaman Australia yang telah menjadi rumah aman utama bagi para korban kejahatan memutuskan untuk tutup dua jam lebih awal setiap hari karena mengkhawatirkan keselamatan stafnya.

Di Facebook, waralaba makanan cepat saji di Alice Springs, Wilayah Utara Australia (NT) mengatakan sekarang akan menutup gerainya pukul 10:00 malam setiap hari - setidaknya dua jam sebelumnya - tetapi akan melanjutkan jam perdagangan normal ketika tingkat kejahatan turun.

BACA JUGA: Australia Alami Resesi Ekonomi Per Kapita

"Kami telah meminta orang-orang berlindung dari orang lain di restoran kami yang mengakibatkan kerusakan hampir $ 8.000 atau setara Rp 80 juta," tulis Sam Edelman dalam sebuah posting Facebook.

"Kami akan melanjutkan jam perdagangan normal kami segera setelah jalan-jalan sedikit lebih aman lagi."

BACA JUGA: Ribuan Pendukung IS Kebanyakan Wanita Menyerahkan Diri di Suriah

Waralaba ini telah dihubungi untuk memberikan komentar. Turis dipukul dibagian wajah

Pengumuman ini muncul tak lama setelah seorang turis Alice Springs diduga ditinju oleh orang asing yang meminta uang kepadanya.

BACA JUGA: Australia Terus Kejar Tunggakan Pajak Negara Kecil Hutt River

Polisi mengatakan wanita itu sedang berjalan melintasi jembatan sebelum tengah hari kemarin, ketika dia dicegat.

Wanita berusia 49 tahun itu menolak untuk menyerahkan uang dan kemudian diduga dipukul di wajahnya, menyebabkan dia menderita cedera wajah "signifikan" yang memerlukan perawatan di rumah sakit.

Inspektur Siri Tennosaar mengatakan pelaku adalah seorang pria yang digambarkan sebagai warga pribumi dengan tubuh kekar dan bertelanjang dada pada saat melakukan penyerangan, belum ditemukan.

"Tampaknya dia baru saja dipukul menggunakan tangan, tidak ada senjata sama sekali, tetapi luka-lukanya cukup signifikan," kata Duty Superintendent Tennosaar.

Polisi mengimbau kepada siapa pun yang berada di daerah itu sekitar pukul 11:30 pagi kemarin yang mungkin telah melihat pria itu untuk menghubungi polisi.

Statistik kejahatan yang dirilis bulan lalu menunjukkan bahwa pembobolan rumah di Alice Springs telah meningkat 83 persen pada tahun 2018, sementara pembobolan properti telah meningkat hampir 14 persen pada periode yang sama.

Meskipun demikian,kasus penyerangan telah menurun 7,8 persen sementara penyerangan terkait alkohol telah menurun secara signifikan, sebesar 14,8 persen.Pindah karena angka kejahatan

Bill Davis telah tinggal di Alice Springs selama hampir empat dekade dan mengatakan meningkatnya kejahatan membuatnya mempertimbangkan kembali apakah dia ingin tetap tinggal.

Minggu lalu sejumlah orang-orang mendobrak rumahnya dan mencuri ponsel, kartu kredit, dan van kemping, yang telah terbakar pada saat polisi menemukannya.

"Saya tidak khawatir rumah itu terancam, tidak menyesalinya, saya bisa santai mengenai hal itu," kata Davis.

"Tsunami pergolakan, gangguan, kegelisahan dan kerusakan ini diciptakan di semua tingkatan yang berbeda ... dan itu dibangun di atas gelombang besar," katanya.

Dia menyalahkan kurangnya sumber daya untuk pendidikan dan keterlibatan masyarakat untuk kejahatan remaja tingkat tinggi.

Simak beritanya dalam bahasa Inggris disini.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Peralatan Tato Tertua di Dunia Ini Diduga Terbuat Dari Tulang Manusia

Berita Terkait