Bukan hanya itu, anak-anak jalanan ini cukup kreatif menyanyikan lagu ciptaan sendiri. Aksi simpatik itu disambut langsung Kepala Dikbud Kota Malang, Dra. Sri Wahyuningtyas, M.Si . Dikbud juga sempat berdialog dengan Agustinus Tedja, Ketua JKJT. Dalam dialog tertutup itu pria yang akrab disapa Tedja itu menyampaikan aspirasinya kepada Dikbud Kota Malang.
“Ada empat anak kami yang mengalami perbuatan diskriminasi dari oknum sekolah. Ada yang ditolak, ada yang disuruh pindah program keahlian karena tidak mampu membayar,” ungkap Tedja.
Dikatakan Tedja semua anak yang mendapat perbuatan kurang simpatik dari oknum sekolah itu berasal dari masyarakat yang kurang mampu dan yatim piatu. Bahkan, mereka ada yang bekerja sebagai pemulung dan pengamen. Menurutnya, anak-anak jalanan juga juga ingin bersekolah, sangat disayangkan jika ada oknum sekolah yang melakukan tindakan diskriminatif.
“Sambutan Dikbud luar biasa, di luar perkiraan kami. Dikbud berkomitmen membantu anak-anak jalanan yang ingin bersekolah,” ujar Tedja.
Sementara itu Yuyun, panggilan akrab Sri Wahyuningtyas telah melakukan pembinaan kepada sekolah agar menggratiskan biaya pendidikan kepada siswa yang kurang mampu. Hanya saja, dalam pelaksanaan tidak semua staf dan guru memahami aturan tersebut.
“Jika ada sekolah yang diskriminatif laporkan, akan kami tindak sesuai peraturan. Aturan sudah jelas untuk membebaskan biaya bagi yang tidak mampu,” ujar Yuyun.
Yuyun menambahkan, siswa yang tidak mampu akan dibebaskan dari biaya pendidikan hingga lulus. “Tidak usah khawatir tidak bisa bersekolah,” tegas Yuyun.
Dalam aksi kemarin Dikbud juga memberikan uang pembinaan kepada JKJT. Dikbud berjanji akan mengembalikan biaya yang sudah dibayarkan ke sekolah. “Harapan kami anak-anak ini juga bisa terwadahi mendapat pendidikan yang layak dan bisa berprestasi,” pungkas Yuyun. (nin)
BACA ARTIKEL LAINNYA... SMA 70 Terancam Kehilangan Sponsorship
Redaktur : Tim Redaksi