Antara Soekarno, Nasionalisme, dan Asian Games 2018

Senin, 03 September 2018 – 09:10 WIB
Komarudin Watubun. Foto: Charlie Lopulua/Indopos/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Oleh: Ketua Bidang Kehormatan DPP PDI Perjuangan Komarudin Watubun

 

BACA JUGA: Tak Hadiri Closing Ceremony Asian Games, Via Vallen ke Mana?

“Dalam nation building Indonesia, olahraga mempunjai fungsi jang amat penting sekali, jaitu membangun manusia Indonesia Baru,”

Begitu sebagian isi Keputusan Presiden RI Soekarno No. 131 Tahun 1962 dalam rangka persiapan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962 di Jakarta. Hasilnya, Indonesia berada di posisi kedua klasemen akhir perolehan medali.

BACA JUGA: Atasi Badan Lemas Usai Nonton Closing Ceremony Asian Games

Kini, 56 tahun berselang, Indonesia finis di urutan keempat pada Asian Games 2018.

Para atlet Indonesia meraih 31 medali emas. Sebanyak 14 di antaranya disumbangkan para pesilat.

BACA JUGA: Semoga Kedamaian Asian Games 2018 Berlanjut ke Pilpres 2019

Asian Games 2018 dibuka mirip Olimpiade 2012. Ratu Elizabeth II dan bintang film James Bond seolah-olah terjun ke arena Stadion Olimpiade di London, Inggris.

Mirip dengan gaya Presiden Joko Widodo yang melesat atau menerobos kemacetan jalanan Jakarta dan akhirnya muncul dari ruang VIP Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).

Pada Asian Games 1962, Indonesia meraih sebelas emas, 12 perak, dan 28 perunggu.

Mohammad Sarengat meraih medali emas 100 meter sprint dengan catatan waktu 10,5 detik dan medali emas 110 meter lari rintang (14,3 detik).

Sarengat mengikuti saran pelatih asal Amerika Serikat (AS) Tom Rosandich untuk menekuni lari jarak pendek. (Harsuki dan Siregar, M.F. et al., 1991: 352).

Presiden RI Soekarno meletakkan dasar kisah sukses bangsa dan negara Indonesia, merajut, dan membangun nasionalisme melalui olahraga, arsitektur dan infrastruktur.

Maret 1947, wakil RI menghadiri Asian Relations Conference (ARC) di New Delhi (India) yang membahas Asian Games (Wienakto et al, 1958:20).

Tahun 1949, atase pers RI A.B. Lubis menghadiri ARC di New Delhi, yang dihadiri oleh G.D. Sondhi dan Shri Madavindra (India), R.R. Ylanan

(Filipina), Maung Maung Lwin (Birma), Fonseka (Sri Lanka), S. Ghulam Mohammad (Afghanistan), Nur Kan (Pakistan), S. Basnjat (Nepal), dan Sonthi Danasonthun (Thailand).

Tidak ada wakil Tiongkok, Jepang, dan Korea. Wakil sembilan negara Asia ini menyutujui perubahan nama Asian Amateur Athletic Federation menjadi The Asian Games Federation (AGF).

Asian Games pertama digelar di New Delhi (India) pada 4-11 Maret 1951. Kejuaraan AGF pertama ini diikuti oleh 600 atlet dan ofisial dari sebelas negara Asia dan memperebutkan medali 14 cabang.

Yakni, atletik, basket, tinju, lomba sepeda, loncat indah, sepak bola, hoki, menembak, renang, tenis, tenis meja, voli, angkat berat, dan gulat (Wienakto dan Soetopo, 1958:9-10).

Pada pertemuan wakil AGF di Wasankei, Tokyo, Jepang, tahun 1958, tiga negara mengajukan proposal tuan rumah AGF keempat, yaitu Indonesia, Taiwan, dan Pakistan.

Wakil RI pada AGF itu ialah Sri Paku Alam, Halim dan H.E. Maladi, Menteri olahraga. Usai perdebatan panjang, akhirnya proposal Indonesia diterima oleh wakil AGF.

Indonesia akhirnya menjadi tuan-rumah Asian Games keempat di Jakarta.

Semula wakil-wakil negara anggota AGF kurang mendukung pelaksanaan AGF keempat di Indonesia karena keterbatasan fasilitas olahraga, akomodasi, infrastruktur transportasi dan rendahnya kinerja standar olahraga kompetisi serta keterbatasan sumber daya (Harsuki et al, 1991).

Indonesia menghadapi kondisi darurat ekonomi. Awal 1960-an, inflasi mencapai 600 persen per tahun (Robison, 1986). Utang pemerintah mencapai 1.113.000.000 USD (George McTurnan Kahin, 1997:30).

Soekarno lantas mengajukan proposal pinjaman sebesar 12,5 juta USD ke Uni Soviet untuk membangun infrastruktur olahraga, seperti Stadion GBK sports hall, penginapan atlet dan bangunan-bangunan lainnya (Harsuki et al, 1991).

Alumnus ITB Bandung dan insinyur asal Uni Soviet membangun Stadion GBK. Pada 21 Juli 1962, Soekarno membuka Stadion GBK.

Gedung plaza dengan satu eskalator Sarinah dibangun di Jalan Thamrin (Jakarta) dan Hotel Indonesia juga dibangun oleh Soekarno.

Jalur bypass dari Tangjung Priok ke Cililitan dibangun. Kota Jakarta menjadi modern (Anthony Paul, 2004).

Hotel-hotel, plaza, stadion, seluruh infrastruktur dan arsitektur kota mewujudkan nation building! Itulah (Presiden) Soekarno!

Pada 24 Agustus 1962, Soekarno membuka Asian Games di Jakarta.

Himne Asian Games hasil gubahan Ramadhan K.H. dilantunkan pada acara itu dengan spirit nasionalisme negara Indonesia dan suatu struggle full for fairness.

Atlet 16 negara bersaing pada 17 jenis cabang olahraga. Pemerintah RI menerapkan strategi talent identification.

Hasilnya, terjaring 419 atlet dari 20 provinsi Indonesia yang dilatih oleh 14 pelatih asing (8 dari Uni Soviet dan Eropa Timur) untuk 14 cabang olahraga.

Kemudian, pada 13 Februari 1963 di depan Konferensi Komite Olahraga Nasional,

Soekarno mengumumkan GANEFO sebagai ajang kejuaraan olahraga negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Selatan (Ewa Pauker, 1964: 6).

Atlet dan wakil dari 50 negara, termasuk atlet Palestina, Tiongkok, Uni Soviet, Jepang, dan Meksiko, mengikuti GANEFO 1963 di Jakarta.

Begitulah legasi atau jejak sejarah warisan Soekarno! (jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Asian Games 2018 Buka Mata Dunia soal Kebesaran Indonesia


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler