Badak Jawa di Balai Taman Nasional Ujung Kulon Bertambah

Jumat, 13 Desember 2019 – 10:57 WIB
Badak Jawa. Foto: KLH

jpnn.com, PANDEGLANG - Populasi Badak Jawa yang ada di Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Pandeglang, Banten, selama 2019 bertambah empat ekor. Penambahan itu diketahui setelah terekam kamera.

Keempat anak badak yang memiliki cula satu ini berjenis kelamin betina dua ekor, jantan satu ekor, dan satu individu belum teridentifikasi.

BACA JUGA: Dua Bayi Badak Jawa Lahir di Ujung Kulon

"Monitoring populasi Badak Jawa tahun 2019 dilaksanakan dengan mengoperasikan 100 unit kamera video otomatis jenis trophy camp pada lokasi yang sering dikunjungi Badak Jawa di Semenanjung Ujung Kulon," kata Kepala Balai TNUK Anggodo, Kamis (12/12).

Anggodo menjelaskan, berdasarkan hasil perhitungan jumlah minimum Badak Jawa di TNUK hasil monitoring tahun 2019 sebanyak 72 individu, dengan komposisi jenis kelamin 38 jantan dan 33 betina, satu anak belum diketahui jenis kelaminnya dan kelas umur anak 15 individu dan remaja dewasa 57 individu.

BACA JUGA: Populasi Badak Jawa Tinggal 35 Ekor

"72 individu saat ini merupakan angka jumlah populasi tertinggi yang tercatat sejak tahun 1967, 1980, 1983 dan 2007 yang sebelumnya berjumlah 64 individu Badak Jawa yang ada di TNUK," katanya.

Menurutnya, kondisi habitat Badak Jawa sampai saat ini masih bagus. Itu terbukti sejak 2012 selalu terekam kelahiran anak Badak Jawa di TNUK.

"Badak Jawa merupakan spesies paling langka di antara lima spesies Badak yang ada di dunia, sehingga dikategorikan sebagai critically endangered. Apalagi Badak Jawa juga terdaftar dalam Apendiks I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) sebagai jenis yang jumlahnya sangat sedikit di alam dan dikhawatirkan akan punah, karena Badak Jawa diklasifikasikan sebagai jenis satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar," terangnya.

"Informasi mengenai parameter demografi Badak Jawa menjadi sangat penting sebagai dasar pengelolaan. Namun demikian kehidupan Badak Jawa dihabitatnya sendiri sulit dijumpai secara langsung. Di samping itu, sosok Badak Jawa yang sifatnya cenderung soliter merupakan salah satu kendala dalam kegiatan inventarisasi dan monitoring," katanya. (yanadi)


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler