Bahaya, Beri Makan Anak Sambil Nonton Gawai

Jumat, 05 Agustus 2022 – 10:51 WIB
Ilustrasi. Sejumlah anak-anak bersama orang tua menemani bermain di Taman di kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (1/12). Ruang publik mulai ramai digunakan oleh anak-anak sebagai wahana permainan dan hiburan dengan menerapkan protokol kesehatan dan pengawasan orang tua. Foto : Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Psikolog keluarga dari Universitas Indonesia Irma Gustiana Andriani menyatakan
permasalah orang tua kesulitan saat memberi makan kepada si buah hati dapat menimbulkan konflik emosional.

Akhirnya banyak orang tua mengambil cara membujuk dengan membiarkannya bermain gawai teknologi seperti tablet, ponsel pintar, dan televisi saat waktu makan anak.

BACA JUGA: Dinas Psikologi TNI AL Beri Bantuan Healing kepada Anak-Anak Pengungsi Semeru

"Terjadi perang psikis antara yang memberi makan dan anak saat proses ini terjadi. Waktu makan bisa menjadi situasi yang kurang menyenangkan."

"Anak menolak makan, ibu frustasi, dan muncul komparasi mengingat orang tua sekarang ini juga belajar parenting lewat media sosial," kata Irma dalam keteranganya, Selasa (2/8).

BACA JUGA: Ketahui Bahaya Menggunakan Gawai Menjelang Tidur

Namun, kata Irma, membiarkan anak makan sembari bermain gawai berpengaruh pada anak dalam meresapi cita rasa makanan yang dimakan.

"Sekarang ini banyak yang membiarkan anak makan sambil menonton (tayangan) di gadget. Ini berpengaruh pada anak yang tidak meresapi cita rasa yang masuk ke dalam mulutnya, karena fokusnya berada pada layar," jelas Irma dalam seminar daring, Selasa.

BACA JUGA: Begini Cara Ernest Prakasa Negosiasi dengan Anak Soal Penggunaan Gawai

Menurut Irma, hal ini membuat proses makan menjadi tidak menyenangkan dan bisa memicu adanya gangguan makan di masa dewasa.

Penting bagi anak untuk benar-benar berproses dalam mengenal dan mengingat cita rasa makanan atau minuman yang masuk ke dalam tubuhnya.

"Jadi waktunya makan, ya makan saja. Karena, kalau dilakukan bersama kegiatan lain seperti menonton di gadget, anak tidak bisa mengingat cita rasa dan tekstur, dan ini nantinya akan mempengaruhi pola makan dia ke depan," kata Irma.

"Selain membuat beban bagi orang tua, bisa membuat hubungan orang tua dan anak kurang harmonis, dapat menimbulkan trauma, dan status gizi anak menjadi kurang," katanya.

Jadi penting bagi ibu dan ayah untuk ikut serta memahami psikologis masing-masing dan si kecil, serta melibatkan anak secara langsung agar proses makan menjadi lebih hangat dan menyenangkan.

"Sebagai orang tua, bisa memulai dengan memahami perkembangan dan kebutuhan anak, melibatkan anak saat berbelanja, diskusi menu atau membuat menu harian, mengajak serta saat siapkan olahan makanan, berikan tanggung jawab kecil saat proses persiapan/memasak, membuat makanan dengan cita rasa yang menggugah rasa," kata Irma.

"Selain itu, buat jadwal makan teratur, makan bersama keluarga, mendorong anak untuk makan sendiri sesuai usia perkembangan dan kemampuannya, serta mencontohkan perilaku makan yang tepat," kata Irma. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Kennorton Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler