Bandel, DAU 52 Daerah Dipotong

Jumat, 26 Oktober 2012 – 08:53 WIB
JAKARTA - Gara-gara bandel tak juga menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (LPP APBD) Tahun Anggaran 2011, sebanyak 52 daerah dikenakan sanksi berupa penundaan 25 persen dari jumlah Dana Alokasi Umum (DAU) bulanan.

Seperti dirilis Bagian Humas Direktorat Jenderal (Ditjen) Perimbangan Keuangan Kementerian (Kemenkeu), dari 52 daerah itu, Provinsi Aceh merupakan satu-satunya yang dikenai sanksi untuk tingkat provinsi. Yang lain adalah kabupaten/kota dan terbanyak dari wilayah Papua.(lihat tabel)

Dari Sumut juga banyak, yakni ada enam kabupaten/kota yang ditunda pembayaran 25 persen DAU-nya. Yakni adalah Kabupaten Nias, Kota Sibolga, Kota Tanjungbalai, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Nias Utara, dan Kabupaten Nias Barat.

Sanksi ini berdasarkan monitoring penyampaian LPP APBD Tahun Anggaran 2011, hingga tanggal 19 Oktober 2012.  "Sehingga dikenakan sanksi berupa penundaan penyaluran DAU bulan November tahun 2012 sebesar 25% dari jumlah DAU yang diberikan setiap bulannya," demikian keterangan resmi Ditjen Perimbangan Keuangan Kemenkeu, kemarin.

Dijelaskan, sanksi itu merujuk pada ketentuan Pasal 17 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 65 Tahun 2010 tentang Perubahan atas PP Nomor 56 tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD).

Data yang diperoleh koran ini dari Kemenkeu, untuk tahun 2012 alokasi transfer DAU ke Pemprov Aceh sebesar Rp911, 08 miliar. Untuk Pidie Jaya Rp307,809 miliar, Nias Rp289,6 miliar, Kota Sibolga Rp292,87 miliar, Kota Tanjungbalai Rp313,72 miliar, Sergai Rp554,245 miliar, Nias Utara Rp267,28 miliar, dan Nias Barat Rp227,86 miliar.

Hanya saja, transfer dilakukan setiap bulan, bukan langsung dalam setahun. Nah, yang ditunda pembayarannya hanya 25 persen dari besaran transfer yang dikucurkan untuk Nopember saja. Dana DAU ini lebih banyak untuk membayar pegawai.

Ekonom dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latief Adam pernah mengingatkan kemenkeu bahwa penundaan pembayaran DAU hingga 25 persen bagi daerah itu akan menimbulkan dampak yang serius.

"Karena sebagian besar DAU ini disalurkan untuk anggaran rutin khususnya gaji pegawai, sehingga dampaknya akan sangat signifikan terhadap semangat kinerja dari birokrat di daerah," ujar Latief Adam di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selain akan berdampak langsung bagi kinerja PNS di daerah itu, menurut Latief, sanksi penundaan DAU sebesar 25 persen itu juga akan mempengaruhi pelaksaan anggaran secara umum. Perencanaan penggunaan anggaran oleh pemda, bisa terganggu. Lebih lanjut, harapan APBD sebagai stimulan perekonomian di daerah, tidak bisa terwujud.

Hanya saja, kekhawatiran itu dibantah pakar pengelolaan keuangan daerah dari Direktorat Fasilitasi dan Perimbangan Keuangan Daerah Kemendagri, Fermin Silaban. Dikatakan, memang perencanaan penggunaan anggaran di daerah itu akan terganggu jika pemotongan DAU benar-benar dilaksanakan.

Hanya saja, lanjutnya, pemda itu tidak akan berani menunda pembayaran gaji PNS, yang alokasi dananya berasal dari DAU yang dikucurkan dari pusat itu. "Gaji PNS pasti tetap dibayar. Pasti dibayar. Apa mau didemo para PNS pemda-pemda itu?" ujar Fermin Silaban kepada koran ini di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Lantas dari mana dana untuk membayar gaji jika DAU dipotong hingga 25 persen" Dijelaskan, pembayaran gaji PNS tetap diambilkan dari dana DAU, yang 75 persen dibayarkan pusat. "Karena dana DAU itu tidak semuanya untuk membayar gaji pegawai. Jadi yang terganggu adalah anggaran rutin lainnya selain untuk gaji pegawai. Tenang saja, gaji pasti dibayar," cetusnya lagi. (sam/jpnn)



DAFTAR DAERAH YANG DIKENAKAN SANKSI PENUNDAAN PENYALURAN DAU      
AKIBAT TERLAMBAT MENYAMPAIKAN      
LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN PELAKSANAAN APBD TA 2011      
No    Daerah                                               No    Daerah      
1    Prov. Aceh                                            27    Kab. Ngada      
2    Kab. Pidie Jaya                                     28    Kab. Maluku Tenggara      
3    Kab. Nias                                              29    Kab. Seram Bagian Barat      
4    Kota Sibolga                                         30    Kab. Maluku Barat Daya      
5    Kota Tanjung Balai                                31    Kab. Buru Selatan      
6    Kab. Serdang Bedagai                         32    Kab. Sarmi      
7    Kab. Nias Utara                                    33    Kab. Keerom      
8    Kab. Nias Barat                                    34    Kab. Yahukimo      
9    Kab. Kampar                                        35    Kab. Tolikara      
10    Kota Dumai                                         36    Kab. Boven Digoel      
11    Kab. Muaro Jambi                               37    Kab. Waropen      
12    Kab. Sarolangun                                38    Kab. Supiori      
13    Kab. Tanjung Jabung Barat                39    Kab. Mamberamo Raya      
14    Kab. Bengkulu Utara                          40    Kab. Mamberamo Tengah      
15    Kab. Lampung Utara                          41    Kab. Yalimo      
16    Kab. Tanggamus                                42    Kab. Lanny Jaya      
17    Kab. Pesawaran                               43    Kab. Puncak      
18    Kota Singkawang                              44    Kab. Dogiyai      
19    Kab. Barito Selatan                            45    Kab. Intan Jaya      
20    Kab. Barito Timur                               46    Kab. Deiyai      
21    Kota Kotamobagu                              47    Kota Ternate      
22    Kab. Bolaang Mongondow Utara      48    Kab. Kepulauan Sula      
23    Kab. Bolaang Mongondow Selatan   49    Kota Sorong      
24    Kota Pare-Pare                                  50    Kab. Raja Ampat      
25    Kab. Lembata                                    51    Kab. Teluk Bintuni      
26    Kab. Manggarai                                 52    Kab. Teluk Wondama     


Sumber: Ditjen Perimbangan Keuangan Kemenkeu
BACA ARTIKEL LAINNYA... Chevron Garap Ladang Minyak Area 13 Duri Utara

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler