Banjir Rendam Empat Desa di Pantura

Minggu, 08 Februari 2015 – 08:32 WIB

jpnn.com - TEGAL - Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Pantura, Kabupaten Tegal pada Jumat (6/2) sore hingga Sabtu (7/2) siang. Akibatnya, empat desa di wilayah tersebut terendam banjir.

Meski tidak ada korban jiwa, tapi bencana banjir itu telah merusak lahan pertanian dan rumah warga. Keempat desa itu yakni, Kemuning, Plumbungan, dan Maribaya. Tiga desa itu berada di wilayah Kecamatan Kramat. Sedangkan satu desa lainnya berada di wilayah Kecamatan Suradadi, yakni Desa Sidaharjo.

BACA JUGA: Cegah Banjir Gajah pun Ikut Penghijauan

Banjir terparah berada di Desa Sidaharjo. Ketinggian banjir mencapai sekitar 1,5 meter. Tak heran, ratusan rumah terendam dan sejumlah fasilitas pendidikan tidak bisa digunakan untuk kegiatan belajar dan mengajar (KBM).

”Pelajar banyak yang balik lagi. Mereka tidak bisa berangkat sekolah, karena jalan menuju sekolah terendam banjir. Termasuk dengan gedung sekolahnya juga terendam,” tutur Bakhrun (37), warga Desa Sidaharjo kemarin.

BACA JUGA: Aneh, Pengasuh Ponpes Itu Mengaku Tubuhnya Dirasuki Makhluk Halus

Bakhrun mengungkapkan, banjir mulai terjadi pada Jumat (6/2) pukul 22.00. Ketinggian banjir bervariatif. Mulai dari 30 sentimeter hingga 1,5 meter. Banjir terparah di wilayah RW 5 dan RW 6. Di sana, ratusan rumah terendam dan warga pun tidak bisa beraktivitas.

Selain rumah penduduk, lahan pertanian yang baru ditanami padi juga terendam banjir. Usia padi mulai dari 0-30 hari. Sejatinya, apabila sampai 3 hari terendam banjir, maka dipastikan tanaman tersebut bakal membusuk dan rusak.

BACA JUGA: Setuju Batam jadi Provinsi

”(Bencana) Ini harus ada penanganan khusus dari pemda,” kata petani melati ini.

Bakhrun menuturkan, banjir yang merendam ratusan rumah di desanya itu merupakan yang ke-6 kalinya selama Januari hingga Februari 2015 ini. Menurut dia, banjir itu berasal dari luapan Sungai Cacaban yang tidak mampu menampung debit air dari selatan. Semestinya, sungai yang melintas di desanya itu segera dinormalisasi. Dirinya tak menampik, belum lama ini sungai tersebut memang sudah pernah dinormalisasi. Hanya saja, normalisasi tidak maksimal.

”Normalisasi tidak sampai tuntas. Seharusnya dilanjutkan sampai ke perbatasan Desa Sidaharjo dan Jatibogor,” pintanya.

Sementara itu, tim relawan dari Palang Merah Indonesia (PMI) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan pantauan di lokasi. Mereka siaga di lokasi dengan menyiapkan perahu karet dan sejumlah perlengkapan lainnya.

”Kami sudah standby di sini (Sidaharjo) sejak Jumat malam,” kata Humas PMI Kabupaten Tegal Sunarto.(yer/fat/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Razia Miras, Amankan 1.080 Liter Arak


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler