Beda 10+5 dan 10-3 untuk Cantik

Oleh Dahlan Iskan

Sabtu, 14 Juli 2018 – 13:53 WIB
Dahlan Iskan.

jpnn.com - Inilah prinsipnya: 10 +5 = 15.  Itu benar. Bukan baik. Tapi 10–3 = 9, itu salah. Bukan jelek.

”Ilmu itu mengenai benar dan salah. Bukan baik atau buruk,” ujar Prof. Dr. dr. Djohansjah Marzuki.

BACA JUGA: Ditutup dengan Bir Istri Semobil

Ia profesor pertama ahli bedah plastik di Indonesia. Dari Universitas Airlangga Surabaya. 

”Dalam ilmu, benar tidak identik dengan baik. Dan salah tidak sama dengan jelek,” katanya lagi.

BACA JUGA: Piala Dunia untuk Celeng

Saya terpaksa pulang sebentar dari Samarinda. Untuk menghadiri undangannya: tribute lecture. Tanggal 12 Juli kemarin.

Bertepatan dengan HUT Prof Djo ke 78. Di aula fakultas kedokteran. Yang dibangun tahun 1913. Atau lima hari setelah Mahathir Muhamad ulang tahun ke 93.

BACA JUGA: Tim Celeng Happy Ending

”Melihat Pak Mahathir itu saya ini masih muda. Harus tetap semangat,” katanya mengenai umurnya.

Prof Djo -panggilannya- sangat gundah pada kehidupan kampus. Yang masih belum menjadi masyarakat ilmiah.

Benar-salah masih kalah dengan emosi, keberpihakan dan klik-klikan. ”Kepentingan masih mengalahkan keilmuan,” katanya dalam pidato itu.

Seharusnya setiap masalah dilihat dulu benar atau tidak. Setelah itu: baru dilihat baik atau tidak. Terakhir: penting atau tidak.

”Jangan mengerjakan sesuatu tanpa dilihat benar atau tidak. Tahu-tahu dikatakan: ini penting,” katanya lagi.

Begitulah urutan berpikir ilmiah. Itu juga yang membuat saya dekat dengan Prof Djo. Termasuk memintanya untuk sering menulis. Dengan tema kesenangan saya: ‘menegakkan akal sehat’.

Di usianya itu Prof Djo masih sangat sehat. Jalannya masih cepat. Badannya ideal. Tinggi: 170 cm. Berat: 74 kg.

”Prof Djo itu rajin olahraga,” ujar Dr. dr. Lynda Hariani, spesialis bedah plastik yang juga murid Prof Djo. Olahraganya fitnes. Juga gerakan mendayung.

”Ia punya alat dayungnya di rumahnya”, ujar dokter Lynda. ”Beliu sendiri tidak pernah menjalani operasi plastik untuk dirinya,” tambah Dr Lynda.

Hanya rambutnya tidak lagi sepanjang tengkuk. Sudah dipotong lebih pendek.

Ketika belum banyak klinik kecantikan Prof Djo sudah punya. Sejak tahun 1973: Djohan Clinic.

Kini klinik itu diteruskan oleh putrinya: dr Lobredia Zarazade. Yang juga spesialis bedah plastik.

Kalau toh ada yang kurang membanggakan adalah: setelah Prof Djo tidak segera muncul banyak ahli bedah plastik. Yang mengikuti jejaknya. Profesor bedah plastik kedua baru lahir 10 tahun kemudian: Prof. Dr. dr. David S Perdanakusumah. Juga di Unair.

Saat ini hanya dua itulah guru besar bedah plastik kita. Ada sih satu lagi. Di UI. Tapi bukan di jalur keilmuan. Dan sebentar lagi pensiun.

Kepada Prof David saya bertanya. Kebetulan tempat duduknya di sebelah saya: apakah itu karena tidak ada potensinya? Atau tidak ada peminatnya?

David sudah 10 tahun  jadi profesor. Belum lahir guru besar baru.

”Ahli bedah plastik umumnya di bawah kementerian kesehatan. Tidak ada dana untuk tunjangan guru besar,” jawab Prof David. ”Yang berhak memberi tunjangan hanya kementerian Ristek dan Dikti,” tambahnya.

Baru setelah Gubernur Jatim Soekarwo mau menanggung tunjangan itu ada perubahan. Dikti mau memproses guru besar di jalur Kemenkes.

Prof David ini orangnya asyik. Orang Sunda tapi bernama David. ”Sebenarnya orang tua saya memberi nama saya Dawud,” ujarnya.

Nama ayahnya sendiri: Musa. Akan jadi Dawud bin Musa.

Tapi istri Musa melahirkannya di Singkawang, Kalbar. Di rumah sakit Katolik. Pimpinan rumah sakitnya saat itu orang Belanda. Ia minta kenangan. Agar bayi itu diberi nama David.

Di Belanda Dawud memang dipanggil David. Pak Musa, jaksa di sana saat itu, setuju.

David sendiri alumni Universitas Indonesia. Spesialisasi bedah plastiknya juga di UI. Hanya saja tugas pertamanya di Surabaya. Di RS Dr Soetomo: menjadi staf Prof Djo.

”Prof Djo itu bagi saya adalah ayah, guru, teman dan sekaligus lawan,” katanya.

Hadirin gerrrr. ”Saya bisa jadi doktor dan profesor karena beliau,” tambahnya.

Di samping menjadi wakil dekan Prof David praktek di Miracle Beauty Clinic di Surabaya. Dan sekarang kian sibuk: diminta grup SCTV-Indosiar. Untuk ikut membidani rumah sakit yang baru mereka beli. Agar bisa menjadi rumah sakit kecantikan. Akan menjadi rumah sakit kecantikan pertama di Indonesia.

Rumah sakitnya di Sentul. Dekat sirkuit balap motor itu. Yang dulu dikenal sebagai RS baru milik Pertamina. Yang saya pernah sering ke sana.

Rupanya kini sudah dibeli grup Emtek. Pemilik SCTV-Indosiar. Yang memang lagi ekspansi ke bisnis kesehatan. Dengan cara membeli rumah-rumah sakit yang ada.

”Lantai empatnya akan sepenuhnya untuk estetika. Satu lantai,” kata David. ”Agar orang tidak lagi ke Korea. Atau Singapura,” tambahnya.

Apakah mungkin akan bisa bersaing dengan Korea dan Singapura? “Bisa. Saya mau ikut di RS itu karena semua permintaan saya dipenuhi,” kata Prof David.

Permintaan terpentingnya adalah: beli alat-alat yang termodern. Yang harganya mahal.

Misalnya? “PicoWay,” kata Prof David.

”Singapura pun belum punya,” tambahnya.

PicoWay adalah alat untuk memuluskan kulit. Dengan laser. Tapi berbasis suara. Bukan sinar. Ini alat baru.

Selama ini pemulus kulit adalah laser berbasis heat. Cara kerja PicoWay: bercak, atau flek, atau bekas luka dan sebangsanya diurai. Lalu kembali ke mulus. Bahkan bisa meremajakan kulit.

Apakah tenaga ahlinya ada? Yang bisa bersaing dengan Korea tadi? Prof David punya cara: memanggil ahli-ahli mereka ke Indonesia.

Rebutan ahli bedah plastik memang luar biasa. Di Indonesia saat ini ada 1.400 klinik kecantikan. Yang mengerjakan botox, tarik benang, reparasi hidung-bibir-rahang, sampai hilangkan tato. Tapi hanya ada 200 spesialis bedah plastik di Indonesia.

”Di Korea di satu jalan Gangnam saja ada kira-kira 200 klinik kecantikan,” ujar Prof David. Ahli bedah plastiknya 2 ribu orang. Sepuluh kali lipatnya Indonesia.

Di Indonesia hanya ada dua universitas yang memiliki departemen ilmu bedah plastik. Unair dan UI. Yang di Unair hanya mampu menerima mahasiswa baru 4 orang. Setiap semester. Yang di UI lebih sedikit lagi.

Kenyataan itu membuat potensi bersaing dengan Korea penuh tanda tanya. Atau perlu waktu lama. Bisakah kesukaan pada yang serba Korea menular ke ilmunya juga? (***)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tim yang Sama untuk Gua yang Sama


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler