Belajar Debat dari Hillary

Oleh Dahlan Iskan

Jumat, 30 September 2016 – 04:39 WIB

jpnn.com - HILLARY Clinton menang telak. Itu kalau debat pertama calon presiden Amerika Serikat kemarin jadi ukuran. Nilai Hillary 8,5. Nilai Donald Trump 7. 

Ternyata Trump tidak segarang yang saya perkirakan. Hillary ternyata lebih agresif. Bahkan berhasil mengendalikan situasi selama 1,5 jam penuh. Trump dibuatnya terus dalam posisi defensif. 

BACA JUGA: Taubatan Pajak Nasuha secara Bersama

Hillary begitu sempurna kemarin. Mulai dari busananya, tata rambutnya, sampai intonasi bicaranya. Pilihan warna merah baju atasannya sangat eye-catching. Cutting atasannya juga perfect. 

Tata rambutnya mengingatkan Hillary yang energetik. Make-up wajahnya sempurna. Hilanglah kerutan tuanya. 

BACA JUGA: Penantian Besar di Akhir Bulan September

Kalau toh ada kekurangannya, itu pada bawahannya. Celana panjang yang sewarna dengan atasannya itu rasanya membuat agak monoton. 

Hillary kelihatan lebih gemuk. Dan langkah kakinya mengesankan lamban. 

BACA JUGA: Kiai Ahong dari Makam Wali Ningxia

Sayangnya, Trump tidak berusaha mengalahkan dari segi sosok lahiriah tersebut. Cutting jasnya terasa longgar. Kerah baju dalamnya sangat biasa. Dan dasinya begitu buruk: warnanya maupun ukurannya. 

Warna dasi yang biru dan ukurannya yang terlalu besar membuat penampilan busana Trump tidak seperti seorang presiden. 

Melihat busananya itu, teman saya, seorang wanita yang tasnya seharga Rp 400 juta, sampai nyeletuk: ke mana tuh Ivanka. 

Maksudnya: kok anak perempuan Trump yang ahli mode itu tidak bisa membuat penampilan bapaknya lebih menarik. 

Bibir Trump yang pucat, wilayah sekitar matanya yang kerut, dan ekspresi wajahnya yang sinis menambah nilai negatif penampilannya. 

Dari segi kualitas yang dibicarakan, Trump hanya imbang di satu topik. Tentang kepolisian. Di lima topik lainnya Trump kalah telak. Bahkan tersudut. 

Soal pajak Trump tersudut dua kali. Pertama tentang keengganannya menyerahkan laporan pajak pribadinya. Kedua tentang ketidakmampuan keuangan pemerintah. 

Trump mempersoalkan ”kemunduran” Amerika sehingga tidak mampu membangun infrastruktur. Akibatnya, Amerika menjadi seperti negara dunia ketiga. Kalah dengan infrastruktur di Tiongkok, misalnya. Dengan cerdas Hillary menyeletuk hal seperti itu terjadi karena orang seperti Trump tidak taat bayar pajak. 

Dalam hal laporan pajak, Hillary menyudutkan Trump dengan telak. ”Selama 40 tahun terakhir semua calon presiden selalu membuka laporan pajaknya, kecuali Trump sekarang ini,” katanya. 

Trump mencoba defensif di bidang itu, tapi malah menjadi bahan tertawaan. ”Saya akan menyerahkan laporan pajak kalau Hillary menyerahkan e-mail-e-mail pribadi yang dia hapus dari komputer kementerian selama dia menjabat menteri luar negeri,” ujar Trump.

Sungguh satu defensif yang sangat buruk. Tidak ada ketulusan hati sama sekali. Sementara dalam hal e-mail, Hillary dengan tulus mengaku telah berbuat salah, minta maaf, dan akan bertanggung jawab penuh. 

Trump yang belakangan mencoba mendekati pemilih kulit hitam dan Latino tersudut dengan telaknya. 

Yakni, saat Hillary mengungkapkan kerasialisan Trump di masa muda dan saat Trump tidak ingin orang hitam menjadi pembeli apartemen yang dia bangun. 

Trump hanya bisa menyela serangan Hillary itu dengan mendekatkan mulutnya ke mik sambil berucap ”tidak betul, tidak betul”. 

Dalam hal body language, Trump juga jauh dari simpatik. Saat Hillary bicara, mulut Trump hampir selalu dalam ekspresi mencibir. Wajahnya juga tidak menunjukkan empati. 

Sedangkan Hillary menunjukkan body language yang perfect. Serangan-serangannya kepada Trump diucapkan tanpa nada benci. Hillary juga berhasil tidak terlihat jengkel yang berlebihan saat diserang. 

Bahkan ketika serangan itu begitu tidak masuk akal, Hillary hanya bilang pendek: kita semua sudah mendengar apa yang bisa dia ucapkan. 

Bahkan di kesempatan yang lain, ketika serangan Trump berlebihan, Hillary hanya seperti menjondil gembira: Wow! Respons seperti itu lebih membuat simpatik pada Hillary. Juga lebih menunjukkan kelas Hillary lebih tinggi. 

Pada kesempatan terakhir, Trump berusaha mengeluarkan senjata pemungkas. Senjata itu kelihatan memang sudah dipersiapkan lama. Mula-mula, dulunya, untuk menunjukkan bahwa wanita itu lemah dibanding laki-laki. 

Ini untuk memuaskan banyak orang Amerika kulit putih, terutama dari kalangan pengikut gereja Evangelis yang sangat besar, yang belum bisa menerima seorang wanita jadi pemimpin. 

Belakangan Trump dapat amunisi baru. Yakni, ketika tiga minggu lalu Hillary dipapah ke mobil karena jatuh pingsan di satu acara di New York. 

Karena itu, saat pertanyaan terakhir berupa ”apa penilaian Trump terhadap Hillary”, Trump langsung mengatakan bahwa Hillary itu tidak punya cukup energi. Padahal, katanya, untuk menjadi presiden, dibutuhkan energi yang luar biasa. 

Ternyata Hillary berhasil meluncurkan rudal penghancur. Dengan halus Hillary hanya membalikkan satu pertanyaan berikut ini: kalau seorang wanita mampu terbang ke begitu banyak negara dengan tidak henti-hentinya, termasuk mampu dicecar pertanyaan selama 11 jam di depan DPR, apakah tidak cukup energi? 

Hadirin yang sebenarnya dilarang mengekspresikan diri sampai terlepas secara spontan dengan tepuk tangan yang gemuruh. 

Sebenarnya Trump kurang pas mempersoalkan energi itu. Selama debat, Trump terus-menerus minum air putih dari gelas yang disediakan. Hillary tidak minum satu kali pun. 

Skor 4:1 untuk Hillary. Masih akan ada dua debat lagi. (*)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kejutan Jokowi di Shanghai


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler