Bencana Hidrometeorologi Mendominasi, 283 Nyawa Melayang

Selasa, 22 September 2020 – 14:09 WIB
Warga saat melintasi banjir yang merendam Pondok Cabe, Tangsel, awal Januari lalu. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Letnan Jenderal (Letjen) TNI Doni Monardo mengatakan tren bencana hidrometeorologi masih mendominasi di Indonesia sampai 21 September 2020.

Menurut Doni, dari 2.067 kejadian sampai 21 September 2020, sebagian besar didominasi bencana hidrometeorologi.

BACA JUGA: Saran untuk Luhut dan Doni yang Ditugaskan Jokowi Turunkan Corona di 8 Provinsi

"Bencana hidrometeorologi mendominasi antara lain banjir berada di posisi teratas diikuti puting beliung dan tanah longsor," kata Doni saat rapat kerja dengan Komisi VIII DPR, Selasa (22/9).

Doni menambahkan bencana alam di Indonesia hingga 21 September 2020 ini telah menyebabkan 4,2 juta jiwa penduduk yang terdampak atau mengungsi, 283 korban meninggal dunia, 427 orang luka-luka.

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Laeli Tidur Bersama Potongan Tubuh Korban, Bogor Hujan Deras, Pak Anies Siaga? Jokowi Diminta Ambil Alih

Doni juga mengungkap tahun ini terjadi anomali akibat perubahan iklim yang sedang dihadapi Indonesia. Dia menjelaskan, tahun lalu Indonesia menghadapi peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang luar biasa.

Bahkan, ujar Doni, untuk beberapa saat asap karhutla dari Indonesia melintasi Selat Malaka, dan sempat menyentuh Singapura dan Malaysia.

BACA JUGA: Korban Banjir Bandang di Sukabumi Ditemukan, Ini Identitasnya

Namun yang terjadi tahun ini, Kalimantan terutama Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat masih hujan. Padahal, kata Doni, pada tahun lalu sepanjang rute penerbangan yang dilalui mulai Banjarmasin, Palangkaraya, Pangkalanbun, dan ke Pontianak, nyaris terkepung kabut asap.

Nah, ujar Doni, hari ini yang terjadi hanya di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) saja yang terbakar. "Di luar itu, semuanya banyak mengalami banjir," ungkapnya. "Inilah yang kita hadapi akibat adanya perubahan iklim terjadi anomali," tambah mantan Danjen Kopassus TNI AD itu.

Menurutnya, kondisi anomali pun juga terjadi di DKI Jakarta. September tahun lalu, kata Doni, pihaknya mencatat terjadinya kualitas udara kurang bagus karena polusi pada DKI Jakarta.

Hari ini, selain karena bencana nonalam pandemi Covid-19 sehingga temperatur kendaraan kurang, juga karena curah hujan. Bahkan, kemarin siang hingga sore beberapa tempat kebanjiran.

"Ini yang senantiasa menjadi fokus kami," katanya.

Doni menjelaskan BNPB sudah bekerja sama dengan semua lembaga, khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengingatkan semua daerah yang memiliki ancaman hidrometeorologi lebih mempersiapkan diri.

"Sehingga bisa mengurangi risiko, menghindari kerugian harta benda, termasuk khususnya kerugian jiwa," paparnya. (boy/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler