Berbagi Pengalaman dengan Santri, Atikoh Mengutip Hadis Nabi & Petuah Sayidina Ali

Kamis, 28 Desember 2023 – 12:54 WIB
Para santriwati Pondok Pesantren Ma'ahidul Irfan di Soropaten, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (Jateng), menyalami Siti Atikoh Supriyanti, istri capres Pilpres 2024 Ganjar Pranowo. Atikoh mengunjungi pesantren tersebut pada Kamis, (28/12/2023) dalam rangka safari masa kampany Pilpres 2024. Foto: Aristo S/JPNN.com

jpnn.com, MAGELANG - Istri Ganjar Pranowo, Siti Atikoh Supriyanti, menyemangati para santri Pondok Pesantren Ma'ahidul Irfan di Soropaten, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (Jateng), terus gigih dalam menuntut ilmu.

Mbak Atik -panggilan akrab Atikoh- beralasan menuntut ilmu setinggi-tingginya bukan untuk mengejar jabatan atau karier, melainkan demi menyebarkan manfaat bagi sesama manusia.

BACA JUGA: Atikoh Ganjar Berjalan ke Tempat Sarapan di Magelang, Warga Mengenali, Lalu Selfie

Atikoh menyampaikan hal itu saat diminta oleh santriwati Ponpes Ma'ahidul Irfan untuk memaparkan pengalamannya, Kamis (28/12/2023).

Putri kiai nahdiyin di Purbalingga, Jateng, itu mengunjungi pesantren tersebut dalam rangka safari masa kampanye Pilpres 2024.

BACA JUGA: Jamaah Muhibin Ning Atikoh Nusantara Ungkap Sosok Penting di Balik Kesuksesan Ganjar

Dalam pertemuan dengan para santri dan santriwati, Atikoh diminta menceritakan pengalamannya menuntut ilmu.

Cucu pendiri Pesantren Riyadus Sholikhin Kalijaran Purbalingga K.H. Hisyam A Karim itu merupakan penyandang gelar master kebijakan publik dari Universitas Tokyo.

BACA JUGA: Mbak Atik Istri Mas Ganjar Terbukti Sudah Teruji, Cocok Jadi First Lady

“Kami tahu Ibu pernah berada di lingkungan pesantren, mohon bisa berbagi pengalaman," pinta seorang santriwati kepada Atikoh.

Adapun santriwati lainnya meminta Atikoh menjelaskan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) para perempuan demi kesetaraan gender.

"Apa yang dapat dilakukan santri perempuan untuk meningkatkan SDM perempuan agar adanya persamaan gender," tanya santriwati lainnya.

Atikoh pun dengan senang hati meladeni dua permintaan itu. Dia menyebut hal penting yang bisa dipelajari di pesantren ialah menyerap ilmu tentang ikhlas dan berbagi.

Menurut Atikoh, kiai tidak pernah memandang asal-usulnya calon santri.

"Jadi, kiai itu tidak pernah menolak santri, tidak pernah menanyakan nanti kamu bagaimana makannya. Tidak pernah,” ucap Atikoh.

Alumnus Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menegaskan kiai pula yang menanggung biaya makan bagi para santri.

“Itu kalau Salafiyah (pesantren tradisional, red). Itu mengajarkan Ibu (Atikoh) rezeki ada yang mengatur. Kita belajar untuk ikhlas dan berbagi," imbuhnya.

Selain itu, Atikoh juga mengatakan menjadi santri berarti menyerap ilmu tentang perlunya manusia bisa bermanfaat bagi sesama.

Ibunda M. Zinedine Alam Ganjar itu menuturkan manusia bisa bermanfaat apabila memiliki ilmu tinggi yang diperoleh melalui ketekunan belajar.

“Kita bisa bermanfaat dengan orang lain kalau kita punya ilmu tinggi, kita bisa berbagi ilmu. Itu yang menjadi pegangan saya ketika hidup di lingkungan pesantren, ya, karena kita harus bermanfaat," ujarnya.

Lebih lanjut Atikoh mengutip sebuah hadis tentang sebaik-baiknya manusia ialah yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Menurut dia, membawa manfaat bagi orang lain itu bisa melalui berbagai cara.

“Mungkin kita bisa bermanfaat dari sisi tenaga, dari sisi pikiran, dari sisi materi, tetapi setiap orang punya potensi," kata dia.

Adapun soal peningkatan SDM perempuan, Atikoh menyebut belajar menjadi kuncinya.

“Jangan pernah lelah belajar,” katanya.

Atikoh juga menyitir kata-kata Sayidina Ali bin Abu Thalib tentang risiko yang harus ditanggung orang yang tidak mau belajar.

“Sayyidina Ali bin Abu Thalib pernah menyampaikan orang yang tidak tahan dengan keletihan belajar, itu dia harus berhadapan dengan kepedihan karena kebodohan. Mungkin di sini ada yang hafiz (penghafal Al-Qur’an, red), ya, harus menghafal setiap hari,” kata Atikoh.

Perempuan yang sudah berjilbab sejak masih belia itu mengakui perjuangan hafiz dalam menghafal Al-Qur’an bukanlah hal mudah.

Namun, Atikoh meyakini proses itu pasti ada hasilnya. “Insyaallah akan nikmat pada waktunya," ucap Atikoh.(ast/jpnn.com)

Video Terpopuler Hari ini:

BACA ARTIKEL LAINNYA... Atikoh Ganjar Raun-Raun di Jalan Tunjungan, Massa Meruah, Surabaya Pecah


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler