Berbahaya Tinggal di Sekitar Area Obvitnas, Buffer Zone Sangat Penting Diterapkan

Senin, 13 Maret 2023 – 22:15 WIB
Ratusan warga mendatangi lokasi kebakaran Depot Pertamina Plumpang, Jakarta Utara, Sabtu (4/3). Foto: Kenny Kurnia Putra/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat sosial Dr Mukhijab mengingatkan, pentingnya buffer zone bagi objek vital nasional (Obvitnas), seperti Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Plumpang.

Oleh karena itu, sangat memprihatinkan, ketika masyarat malah mendekat objek tersebut, yang sangat berbahaya bagi mereka.

BACA JUGA: Jamkrindo Beri Bantuan kepada Korban Kebakaran di Plumpang & Tanah Longsur di Natuna

“Buffer zone penting sekali, karena tinggal di sekitar Obvitnas seperti TBBM Plumpang, tentu sangat berbahaya. Jadi memang memprihatinkan dari sisi keselamatan dan sangat berisiko,” jelas Mukhijab.

Mengenai banyaknya masyarakat yang mendiami kawasan buffer zone, Mukhijab berpendapat, memang merupakan fenomena sosial di Indonesia, terutama di perkotaan.

BACA JUGA: Langkah Erick Thohir Merelokasi Depo Pertamina Plumpang Patut Dipuji

Karena lahan sangat terbatas dan masyarakat yang terbilang miskin sulit membeli, maka mereka bersikap pragmatis dan sering mengabaikan aspek legalitas dan keselamatan.

Bahkan, tidak sedikit menghalalkan berbagai upaya.

BACA JUGA: Dorong Percepatan Pemulihan Ekonomi, Wika dan Bukit Asam Menggelar Bazar UMKM BUMN

“Jadi problemnya memang terletak pada sosial ekonomi. Mereka (masyarakat) tahu bahwa lahan itu terlarang dihuni dan terkait keselamatan aset negara, tetapi mereka sering menghalalkan segala cara untuk bisa tinggal,” tutur Mukhijab.

Sementara terkait pentingnya buffer zone, Mukhijab mengambil contoh masyarakat yang tinggal di daerah gunung berapi. Karena di kawasan gunung berapi, juga diterapkan buffer zone.

Dalam hal ini, masyarakat tidak diperbolehkan tinggal dalam jarak tertentu dari puncak gunung. Masyarakat pun sudah mengetahui mengenai berbagai risiko yang mereka hadapi.

“Itu di gunung berapi. Pada Obvitnas tentu juga harus diberlakukan,” imbuhnya.

Terpisah, psikolog Tika Bisono menilai, dari sisi psikologi humanistik, soal keamanan memang belum menjadi prioritas di Indonesia. Dalam praktiknya, keamanan masih berada pada nomor tiga di negeri ini.

“Safety itu nomor tiga di sini. Safety meliput asuransi, health, safety, environment (HSE), dan lain-lain. Biologis nomor satu dan kedua, sandang pangan, papan. Padahal di negara maju, safety menempati posisi tertinggi. Itu karena di sini masih fokus pada urusan perut serta sandang, pangan, dan papan,” serunya.

Tika mencontohkan, video viral mengenai pesta pernikahan, lengkap dengan pelaminan dan tenda, yang dilangsungkan di atas rel kereta api.

Meski rel itu merupakan jalur buntu, namun tetap mencerminkan bahwa soal safety memang bukan prioritas.

Untuk itu, terkait buffer zone, Pertamina diminta menginventarisasi seluruh Obvitnas yag bersiko tinggi di seluruh Indonesia. Misal pipe line, gas line, termasuk onshore dan offshore.

Dalam hal ini, jika terdapat warga maka harus digeser.

“Dan kalau sudah persoalan geser-menggeser adalah urusan dengan Pemda. Itulah yang disebut contingency plan. Jadi jangan menunggu adanya korban terlebih dahulu,” seru Tika Bisono.(chi/jpnn)


Redaktur & Reporter : Yessy Artada

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler