Beredarnya berita bahwa para ilmuwan telah menciptakan embrio badak putih hibrida telah memberi harapan baru bagi mereka yang khawatir badak putih utara mengalami kepunahan.

Tetapi, apakah para ilmuwan bisa membangkitkan spesies lain yang sudah punah dan lebih purba - dan jika memang bisa, haruskah hal itu dilakukan?

BACA JUGA: Tinggalkan Mobil Tak Terkunci di New South Wales Bisa Kena Denda

Studi untuk menyelamatkan badak putih utara menggunakan teknologi IVF (bayi tabung), tetapi metode itu tidak mungkin bekerja pada hewan yang telah punah selama ribuan tahun.

Jurnalis sains Swedia, Torill Kornfeldt, berkeliling dunia meneliti ilmu "menangkal kepunahan" untuk bukunya ‘The Re-Origin Of Species’ (mendatangkan kembali spesies-spesies).

BACA JUGA: Federasi Basket Australia Dan Filipina Minta Maaf

Ia mengatakan, Jurassic Park menunjukkan seperti apa proses itu seharusnya terlihat: para ilmuwan menemukan seekor nyamuk purba yang terperangkap dalam fosil pohon, mengambil darah dinosaurus dari spesimen yang diawetkan dengan sempurna, kemudian menggunakan DNA itu untuk mengkloning reptil yang telah punah tersebut.

Kecuali para peneliti telah mencoba hal ini dan itu tidak berhasil.

BACA JUGA: Dua Remaja Tewas Ditembak Di Sydney

"Mereka tidak menemukan DNA dinosaurus apapun, mereka juga tidak menemukan DNA nyamuk," kata Kornfeldt, seraya menjelaskan bahwa DNA yang terawetkan dengan baik-pun mengalami penurunan seiring waktu.Peluang gajah purba

Jadi mungkin dinosaurus tak bias dihidupkan kembali (seperti halnya nyamuk era Jurassic) tetapi bagaimana dengan makhluk yang punah sedikit lebih baru, seperti gajah purba berbulu?

"Gajah purba berbulu itu rumit," kata Kornfeldt, memprediksi bahwa manusia bisa melihat gajah purba hidup dalam "15 tahun, atau tidak pernah sama sekali".

"Penelitian itu masih tergantung pada beberapa terobosan ilmiah yang belum pernah terjadi - tapi masih mungkin."

Bahkan jika terobosan itu terjadi, makhluk yang diciptakan para ilmuwan itu tidak akan menjadi gajah purba kloningan.

Kloning hanya mungkin jika ada sampel jaringan dari hewan hidup, atau yang "baru mati".

Gajah purba berbulu telah punah selama ribuan tahun, jadi meski masih ada DNA di dalamnya, "itu benar-benar sudah terdegradasi".

Para ilmuwan bisa mengumpulkan DNA itu bersama-sama di komputer dengan membandingkannya dengan spesies kerabat yang masih hidup, seperti gajah Asia.

"Seperti melihat bagian penutup ketika Anda membuat teka-teki bergambar, Anda melihat semua potongan dan melihat ke mana mereka mengarah," kata Kornfeldt.

"Anda tidak memiliki kromosom lengkap di tabung lab, tetapi Anda memiliki file digital." Photo: Gajah purba berbulu terakhir mati sekitar 4000 tahun yang lalu. (Wikimedia Commons: Flying Puffin)


Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi perbedaan genetik antara gajah dan gajah purba -gen yang menentukan bulu hewan, misalnya - dan kemudian mengolah gen gajah untuk membuatnya lebih seperti gajah purba.

"Anda pada dasarnya membuat gajah seperti gajah purba," kata Kornfeldt.Pilihan habitat

Setelah Anda memiliki kawanan gajah purba berbulu, masalah berikutnya adalah di mana menempatkan mereka.

Kornfeldt melakukan perjalanan ke Siberia, di mana para periset mencoba menciptakan kembali habitat era gajah purba berbulu.

"Ini adalah ekosistem yang sangat kaya - dalam beberapa hal, ini sebanding dengan savana Afrika," katanya.

"Ada banyak hewan di padang rumput ini, dan kemudian ketika Zaman Es berakhir -dan ketika manusia datang -ekosistem ini berubah.”

"Banyak hewan, termasuk gajah purba, menghilang ... dan padang rumput digantikan oleh hutan," kata Kornfeldt.

Tanpa akses ke gajah purba berbulu yang masih hidup, para peneliti memiliki spesies pengganti yang tak mungkin dipakai.

"Mereka memiliki tank era Soviet kuno yang mereka kendarai dan menghancurkan pepohonan," kata Kornfeldt.

"Salah satu fungsi seekor gajah purba, sama seperti gajah, adalah merobohkan pohon sehingga rumput memiliki tempat untuk bertumbuh." Photo: Habitat gajah purba berbulu mulai hilang di akhir Zaman Es. (Wikimedia Commons: Mauricio_Antón)

Mencontoh semangat penjelajahan ke bulan

Bahkan jika menciptakan mahluk berbulu seperti gajah purba adalah kemungkinan, mengapa kita harus repot-repot?

Dalam mempromosikan penjelajahan AS ke bulan tahun 1969 ke publik, John F Kennedy membicarakan secara terbuka tentang manfaat mengambil tantangan besar:"Kami memilih untuk pergi ke Bulan dalam dekade ini dan melakukan hal-hal lain, bukan karena mereka mudah, tetapi karena mereka sulit; karena tujuan itu akan berfungsi untuk mengatur dan mengukur yang terbaik dari energi dan keterampilan kami."

Kornfeldt mengatakan mengkloning gajah purba berbulu bisa memiliki manfaat yang serupa dengan program Apollo.

"Kita tidak pergi ke Bulan untuk mengumpulkan emas atau sesuatu, kita melakukannya hanya untuk melalui proses - dan dengan cara yang sama, melalui proses mencari sesuatu seperti ini memiliki nilai yang sangat bagus di dalamnya," sebut Kornfeldt.

"Ini membuat para peneliti lebih sadar tentang bagaimana berbagai gen bekerja dan apa fungsi mereka, gen apa yang dapat Anda ubah dan gen apa yang tidak dapat Anda ubah, dan bagaimana semua jenis itu bias berdampingan."

Ada alasan yang lebih praktis untuk menghalau kepunahan.

Beberapa peneliti berusaha untuk menghidupkan kembali spesies yang punah untuk menyeimbangkan kembali ekosistem yang menderita karena hilangnya mereka.

Pada tahun 1914, merpati penumpang terakhir mati di penangkaran, tetapi hanya 50 tahun sebelumnya, burung itu kemungkinan menjadi burung yang paling banyak jumlahnya di dunia.

"Ini adalah merpati yang hidup di kawanan yang sangat padat," kata Kornfeldt.

Begitu padat, katanya, ada deskripsi tentang "langit menjadi gelap dan feses merpati jatuh seperti salju".

"Pada interval yang sangat tidak teratur mereka akan masuk dan mengganggu semuanya," katanya.

"Spesies pohon akan beradaptasi dengan ini, dan Anda akan memiliki kelahiran kembali bibit dan tunas baru." Photo: Perburuan dan penebangan hutan di abad 1800an memusnahkan merpati penumpang. (Wikimedia Commons: Hayashi and Toda)


Perbaikan dalam komunikasi dan transportasi di AS berarti kawanan burung merpati penumpang bisa dilacak, diburu dan dagingnya diangkut, dan pada saat itu, daging merpati penumpang adalah daging termurah yang tersedia di AS.

Populasi merpati penumpang merosot, tidak pernah pulih.

Kornfeldt mengatakan kepunahan merpati tersebut menabur benih-benih gerakan lingkungan modern.

"Pemikiran bahwa Anda bisa kehilangan sesuatu yang begitu berlimpah benar-benar menyadarkan orang-orang akan konsep kepunahan," katanya.

Terlepas dari tujuan untuk spesimen laboratorium, para peneliti bekerja untuk membawa kembali merpati penumpang dalam jumlah jutaan untuk mengembalikan spesies itu ke tempatnya di ekosistem Amerika Utara.

"Mereka ingin burung-burung pengganggu ini berkeliaran di AS lagi," jelas Kornfeldt.Lawan kepunahan vs konservasi

Pertanyaan besarnya adalah apakah kita harus mengeluarkan uang untuk menghalau kepunahan atau konservasi.

Kornfeldt mengatakan ia menanyakan pertanyaan itu kepada setiap peneliti pencegahan kepunahan yang ia temui.

"Mereka semua setuju bahwa jika pilihannya jelas antara dua alternatif ini Anda harus mencoba menyelamatkan spesies yang ada di sini sekarang, karena itu akan selalu menjadi solusi yang lebih baik," katanya.

"Tapi itu jarang menjadi pilihan."

Merpati penumpang adalah salah satu contoh spesies yang kebangkitannya bisa memiliki manfaat nyata bagi lingkungan.

"Fakta bahwa spesies ini punah mengancam banyak spesies lain, dan mendesak mereka yang lebih dekat ke kepunahan," kata Kornfeldt.

"Membawa spesies ini kembali mungkin sebenarnya ... menghidupkan kembali dan merevitalisasi beberapa ekosistem yang sekarat ini."

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Opsi Keluarkan Kelompok Remaja Thailand Dari Gua

Berita Terkait