BPIP Nilai Desa Sebagai Masa Depan Indonesia

Kamis, 16 September 2021 – 04:49 WIB
Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar dalam Pertemuan Nasional Kepala Desa bertema Membangun Ekonomi dan Demokrasi dari Desa secara virtual, Rabu (15/9). Foto: Kemendes PDTT

jpnn.com, JAKARTA - Keberadaan desa-desa di Indonesia akan kian penting di masa depan. Desa akan menjadi pusat-pusat peradaban yang mampu merumuskan kebutuhan dan mempunyai ruang untuk mewujudkan kepentingan warganya.

“Saat ini sudah banyak desa yang menunjukkan contoh-contoh terbaik dalam pengelolaan wewenang dan sumber daya. Fenomena ini memberikan bukti jika desa-desa di Indonesia merupakan masa depan Indonesia,” ujar Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasial (BPIP) Yudian Wahyudi, dalam Pertemuan Nasional Kepala Desa yang bertema Membangun Ekonomi dan Demokrasi dari Desa secara virtual, Rabu (15/9).

BACA JUGA: PT GNI Bantu Angkat Perekonomian Warga di Desa Bunta

Dia mengatakan saat ini ada banyak hal positif yang bisa dipelajari dari desa-desa di Indonesia. Mulai dari transparansi penggunaan dana desa, isu pemberdayaan masyarakat hingga inovasi layanan.

“Desa-desa di Indonesia terus menunjukkan kemandirian dan inovasi yang mengembirakan dalam menggunakan dana desa, mendorong tumbuhnya inovasi, hingga meningkatkan layanan kependudukan bagi warganya,” katanya.

BACA JUGA: Warga 23 Desa di Cirebon Berpeluang Kaya Mendadak

Tren positif, lanjut Yudian, tidak lepas dari dari pendampingan yang dilakukan oleh  Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

Menurut dia, Kemendes PDTT memiliki tradisi yang hebat dalam memberikan insentif, penghargaan untuk desa-desa dengan prestasi terbaik.

BACA JUGA: Gus Menteri Bersyukur Kemendes PDTT Raih WTP Lima Kali Beruntun

“Kemendes PDTT juga memiliki pendekatan yang menarik, yang secara holistik mengembangkan desa dari berbagai sudut, seperti tangguh bencana dan mengarusutamakan Sustainability Development Goals (SDGs) perkasa PBB ke kebijakan Desa,” jelasnya.

Yudian mengungkapkan secara umum desa masih sering dipandang hanya menjadi penyangga dan penyuplai kebutuhan masyarakat kota. Mulai dari tenaga kerja sektor domestik, produk pertanian sehingga tempat untuk menyimpan sampah kita.

“Kerangka berpikir seperti ini merupakan representasi dari pandangan desa di masa lalu. Padahal saat ini desa-desa di Indonesia sudah banyak berubah,” katanya.

Dia menegaskan tren perbaikan di level desa yang saat ini terjadi, akan mengubah cara pandang masyarakat.

Tren perbaikan desa akan membuat publik melihat jika masa depan kehidupan berkualitas itu ada di desa, bukan lagi di kota. Perubahan cara pandang ini bukan sesuatu yang tidak mungkin karena dalam sejarahnya, desa pernah menjadi pusat perlawanan gerilya terhadap kekuatan militer kolonial.

“Imajinasi desa sebagai ruang yang damai dan penuh gotong royong seharusnya tidak dimaknai sebagai romantisasi sejarah saja, melainkan sebagai spirit dan cita-cita bersama sebagai bangsa untuk menjadi masyarakat yang menjunjung tinggi gotong royong,” ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar juga terus berikhtiar menguatkan desa-desa menjadi harapan masa depan Indonesia.

“Seperti yang disampaikan oleh Prof. Yudian tadi, kita tidak lagi menempatkan desa sebagai masa lalu, justru sebaliknya kita harus menempatkan desa menjadi masa depan,” jelasnya.

Oleh karena itu, pihaknya selalu mengembangkan istilah ruralisasi, atau kembali desa.

Menurut Gus Halim sapaan akrabnya, dari berbagai kondisi yang dihadapi oleh bangsa dan negara benteng teraman, terbaik dan terkuat adalah Desa.

“Termasuk hari ini ketika bicara tentang kondisi pandemik yang melanda  dunia, ternyata Desa memiliki daya tahan yang luar biasa bukan hanya urusan kesehatan, bahkan urusan ekonomi pun seluruh sektor mengalami pertumbuhan minus kecuali pertanian dan semua tahu bicara pertanian adalah kehidupan di desa,” ungkap Gus Halim.(jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler