Bullying Beri Dampak Berkelanjutan

Sabtu, 23 Agustus 2014 – 01:08 WIB

jpnn.com - Kata bullying tidak pernah dapat dipisahkan dari pergaulan saat ini. Mulai anak-anak sampai dewasa. Baik menjadi korban maupun pelaku bullying. Jika kita tidak dapat mengatasinya, kelak bullying dapat memengaruhi pola asuh terhadap anak.

* * *

BACA JUGA: Wajah Bule Bikin Mahal

BULLYING adalah perilaku agresif dan negatif. Perilaku tersebut dilakukan seorang atau sekelompok orang berulang-ulang. Tujuannya, menyakiti korban secara fisik maupun psikis.

Menurut dr Erikavitri Yulianti SpKJ, perilaku bullying dapat muncul sejak remaja. Terutama remaja yang bermasalah perilaku kronis, masalah emosional, dan perkembangan. Kelompok itu rentan menjadi pelaku maupun korban bullying. ’’Satu karakteristik kunci pelaku bullying adalah miskinnya empati,’’ kata psikiater yang berpraktik di National Hospital Surabaya tersebut.

BACA JUGA: Wajah Bule Bikin Mahal

Mereka merasa senang melihat penderitaan orang lain.Tentu korban sangat dirugikan. Terlebih, bullying adalah peristiwa yang traumatis. Karena itu, bullying berpeluang besar meninggalkan pengaruh kepada diri seseorang. Dampak itu dapat berlangsung sementara maupun berkelanjutan sampai menjadi orang tua.

Menurut dokter 38 tahun tersebut, hal itu bergantung pada beberapa faktor. Di antaranya, terapi yang diterima korban, kepribadian, dukungan lingkungan, serta tingkat keparahan bullying.

BACA JUGA: Curahan Hati Ibu Korban Bullying

Dokter alumnus FK Unair Surabaya tersebut menegaskan, memori mengenai hal traumatis itu akan dibawa sampai dewasa dan diinternalisasi dalam diri seseorang. Korban bullying bakal tumbuh ’’mirip’’ dengan pelaku bullying yang mem-bully dirinya. Sadar atau tidak, orang tersebut akan bersifat otoriter.

Dra Mierrina MSi menyebutkan, ada tiga jenis perilaku orang tua yang menjadi korban traumatis. Pertama, orang tua sadar bahwa dirinya adalah korban bullying lantas mudah mengatasi permasalahan pribadi atau malah susah mengatasi problemnya. Jenis kedua, orang tua yang sadar bahwa dirinya menjadi korban bullying namun tidak mau berubah. Jenis ketiga, orang tua yang tidak sadar bahwa dirinya menjadi korban bullying tetapi mudah mengembangkan diri.

Trauma bullying harus segera ditangani. Kalau tidak, hal tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap anak. ’’Bullying psikis biasanya lebih membekas ketimbang bullying fisik. Misalnya, punya pengalaman dikunci di kamar mandi. Akan timbul trauma sehingga dilakukan kepada anaknya kelak,’’ terang psikolog yang berpraktik di Siloam Hospitals Surabaya tersebut.

Rudi Cahyono, dosen psikologi Unair Surabaya, mengungkapkan bahwa tidak sedikit orang tua korban bullying yang memilih anaknya belajar melalui homeschooling. ’’Dengan begitu, orang tua lebih mudah mengawasi anak,’’ paparnya. Kalaupun di sekolah umum, tidak jarang orang tua menunggui anak, mulai berangkat sampai pulang.

Pria kelahiran Lumajang, 10 September 1981, tersebut menambahkan, perilaku itu disebabkan tingkat ketakutan orang tua yang meningkat dan lebih posesif. ’’Seharusnya orang tua berkomunikasi dengan pihak sekolah. Tujuannya, membangun rasa kepercayaan agar dapat menitipkan anak dengan legawa,’’ ujar Rudi.

Selain itu, pendekatan kepada anak perlu dilakukan. Dengan terbiasa berkomunikasi, ketika punya cerita negatif, anak akan cerita kepada ayah atau ibunya.

Meski demikian, tidak semua cerita negatif dapat langsung dimasukkan dalam hati. Dosen yang mengajar psikologi pendidikan itu menuturkan bahwa orang tua perlu menyaring cerita anak.

Curahan Hati Ibu Korban Bullying

Tidak ingin pengalaman pribadi terjadi lagi, Sarah (bukan nama sebenarnya) menjadi overprotektif kepada dua buah hatinya. Sarah adalah orang tua yang memiliki pengalaman sebagai korban bullying masa SMP hingga SMA. Menemukan binatang di dalam tas, dikunci di dalam kamar mandi, mendapat ejekan karena memiliki badan mungil, dan setiap hari ditertawakan teman-teman sekelas merupakan beberapa pengalaman buruk yang tak terlupakan oleh Sarah.

Ujungnya, kejadian tersebut membuat Sarah tidak ingin bersekolah lagi. Hingga akhirnya dia mengalami depresi. Perasaan ingin bunuh diri sempat merasukinya. ’’Saya sangat tertekan dengan hal tersebut. Ditambah lagi, orang tua saya otoriter dan keras pada saya. Saya sempat merasa tidak mendapat perlindungan,’’ cerita perempuan 39 tahun tersebut.

Tekanan mental itu juga berakibat pada kondisi badannya. Sarah menjelaskan, dirinya merasakan sakit kepala yang terus-menerus tanpa sebab yang jelas. Sejak saat itu, hati Sarah terdorong untuk ke psikolog demi menjalani terapi.

Kondisi Sarah sedikit demi sedikit membaik. Dia mampu menjalani aktivitasnya secara normal. Namun, kejadian fatal yang pernah dialami Sarah itu memengaruhi pola asuh kepada dua anaknya. Dia menjadi overprotektif kepada anaknya, sebagai benteng perlindungan dari gangguan seperti yang dialaminya.

Overprotektif yang dimaksud, antara lain, anak sulung homeschooling dan mengawasi kegiatan anak secara terus-menerus. Selain itu, Sarah selalu meminta anaknya untuk bercerita apa pun kejadian di sekolah kepadanya. ’’Saya hanya ingin anak tidak menjadi korban bullying seperti saya sebelumnya. Saya ingin anak selalu dekat. Saya berusaha mengajak ngobrolanak-anak,’’ terangnya.

Namun, Sarah sadar pola asuhnya tersebut berlebihan. Dia mendapat saran dari temannya, yang seorang psikolog, bahwa homeschooling baik untuk anak. Meski demikian, anak tidak bisa bersosialisasi dengan teman sebaya. Sarah pun memindahkan anaknya ke sekolah umum. ’’Waktu itu, saya pikir kalau sekolah umum hanya berfungsi sebagai pembentukan secara akademis. Namun, ada seorang teman dekat yang mengingatkan saya bahwa sekolah umum itu penting untuk membangkitkan sosialisasi anak,’’ ungkapnya.

Kini, Sarah lebih memilih selalu mengajarkan kepada anaknya untuk berani bercerita. Bukan bertujuan protektif, Sarah selalu ingin anak merasa nyaman dan dekat dengannya. ’’Saya merasa anak korban bully itu karena ada kesempatan. Anak tidak berani berontak dan kurangnya supportmental dari orang tua dalam pembentukan karakter anak,’’ ujarnya.(bri/cik/c14/c7/nda)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bullying Beri Berdampak Dari Korban Jadi Pelaku


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler