Bupati Ini Tak Pernah Makan Sahur, Buka Pun Cuma Pakai..

Selasa, 14 Juni 2016 – 17:10 WIB
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Foto: dok jpnn

jpnn.com - BANDUNG - Makan sahur menjadi hal yang wajib bagi setiap umat muslim sebelum menjalankan ibadah puasa. Selain bernilai ibadah, sahur pun akan menjadikan seseorang lebih kuat menjalankan ibadah hingga saatnya berbuka.

Akan tetapi, hal itu bukanlah rutinitas yang dilakukan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Selama berpuasa di bulan Ramadan ini, Dedi mengaku tidak pernah makan sahur.

BACA JUGA: Yummy..Kuah Palumara Cocok untuk Buka Puasa

Orang nomor satu di Purwakarta ini hanya minum segelas air putih dan segelas jus buah sebagai sahur setiap harinya. Meski hanya sahur dengan dua gelas air tersebut, Dedi mengaku kuat dalam menjalankan puasa sehari penuh.

Tenaga ketua DPD Golkar Jabar ini tidak berkurang meski memiliki agenda yang cukup padat sebagai pejabat negara. "Ini sudah 10 tahun saya lakukan, tidak makan sahur. Hanya air putih segelas, jus segelas," kata Dedi di kantor DPD Golkar Jabar, Kota Bandung, Senin (13/6).

BACA JUGA: 2 Hal Yang tak Dilewatkan Menteri Anies saat Ramadan

Dedi menyebut, pola makan sahurnya ini tidak mengurangi tenaga dan daya pikirnya. Sebab, kata dia, kekuatan diri tidak selalu bersumber pada makanan yang dikonsumsi. "Yang bikin sehat itu pikiran," katanya. 

Saat bukan pun, Dedi mengaku hanya memakan tiga butir kolang-kaling dan segenggam kecil nasi putih. Cara ini diyakininya mampu menurunkan kadar gula darah. "Yang ada saja, segitu. Tidak makan kolak. Kolang-kaling itu gantinya. Itu cukup segar badan saya, enggak ada problem," katanya.

BACA JUGA: Dirut AP II Ingin Pengoperasian Terminal 3 Jadi Kado Lebaran

Lebih lanjut Dedi katakan, umat muslim saat ini salah dalam menerjemahkan kehadiran bulan suci Ramadhan. Sebab, Dedi menilai, saat ini banyak umat muslim yang lebih meningkatkan pola belanja dibanding ibadah selama bulan puasa ini. "Ini yang ditingkatkan malah konsumsinya, bukan tirakatnya," kata Dedi. Dedi pun mengkritisi masyarakat menengah ke atas yang bersikap seperti itu.

Menurutnya, yang meningkatkan jumlah konsumsi selama bulan puasa berasal dari masyarakat menengah ke atas. Akibat ulah konsumtif tersebut, katanya, harga barang-barang melonjak naik karena tingginya permintaan. "Kan kasihan masyarakat kecil yang harus menanggung juga naiknya harga barang," pungkasnya. (agp/dil/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Wah wah...Harga Busana Muslim Ikut Melambung


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler