Bus Dicegat Paksa, Penumpang Disuruh Turun..Ayo Bukber!!

Minggu, 26 Juni 2016 – 05:37 WIB
Tradisi kuno berbuka puasa bersama di Al Nuba, Sudan. Foto: AFP

jpnn.com - AL-NUBA - Sejumlah pemuda menghentikan bus yang melintas di Jalan Raya Khartoum, Al-Nuba, Jazeera, Sudan. Di antara pemuda itu, ada yang bernama Ibrahim Abdelrahim. Sopir bus kaget, dan melakukan rem mendadak.

Sopir kemudian diminta untuk segera memarkir bus dan mengajak penumpang turun. "Mari kita berbuka puasa bersama. Sudah waktunya," ujar Abdelrahim.

BACA JUGA: Waspada Longsor, KAI Siagakan 4.200 Personel

Ya, di Al-Nuba, tradisi buka bersama (bukber) masyarakatnya sangat unik. Begitu senja datang, warga bergegas menuju pinggir jalan yang tidak jauh dari kampung mereka. Tikar serta buah-buahan dan makanan dalam piring mereka usung ke pinggir jalan yang tidak pernah sepi kendaraan itu. Ya, setiap sore mereka berbuka puasa di sana.

Di tepi jalan, teman-teman Abdelrahim sudah menggelar tikar yang mereka bawa dari rumah dan menata piring-piring buah serta makanan. Selain buah, para pemuda dan pemudi itu menyediakan sayuran serta panekuk yang terbuat dari sorgum (makanan pokok Sudan). Berkaleng-kaleng jus dan air putih pun mereka siapkan. 

BACA JUGA: Melatih Kesabaran dan Kejujuran

Selama sekitar 20 menit, para pemuda Al-Nuba berbuka puasa bersama orang asing. Tepatnya para penumpang atau pengendara yang sebelumnya tidak pernah mereka kenal. Tentu dengan memisahkan perempuan dan laki-laki. 

Tradisi kuno di Provinsi Jazeera tersebut kini mungkin hanya bisa ditemukan di Al-Nuba. Sebab, masyarakat modern lebih memilih berbuka puasa dengan keluarga mereka di rumah. Lagi pula, lantaran kendaraan yang melintas di jalan utama menuju Kota Khartoum bertambah banyak, aksi mencegat kendaraan menjadi berbahaya. Para pengemudi yang kaget dengan kemunculan penduduk Al-Nuba secara tiba-tiba bisa saja kehilangan kendali.

BACA JUGA: KAI Pastikan Tidak Ada Penambahan Gerbong

"Berbuka puasa bersama adalah tradisi leluhur kami. Maka, siapa pun yang melintasi permukiman kami saat berbuka puasa harus kami ajak makan bersama,’’ jelas Abdelrahim yang sehari-hari berprofesi sebagai dokter tersebut. 

Dia menuturkan sangat menikmati tradisi tersebut. Apalagi, tradisi itu hanya terjadi saat Ramadan atau sekali dalam setahun. Di Sudan, puasa berlangsung selama sekitar 16 jam. Padahal, suhu udara di negara tersebut bisa mencapai 45 derajat Celsius ketika siang. 

Kondisi itu membuat warga Sudan tidak pernah bisa menolak ajakan berbuka puasa penduduk Al-Nuba. ’’Ini Ramadan dan masyarakat di sini terkenal suka menyetop kendaraan saat waktu berbuka tiba. Siapa bisa menolak?’’ ujar Abdallah Adam, salah seorang penumpang bus. (afp/hep/c15/any/adk/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jelang Lebaran, Salon Mulai Ramai


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler