Cegah Pemanasan Global, Pertamina Dorong Kolaborasi Semua Negara Sukseskan Transisi Energi

Jumat, 15 Juli 2022 – 07:23 WIB
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati (dua dari kanan) saat berbicara dalam dalam dialog 'Sustainable Finance For Climate Transition' di Bali, Kamis (14/7). Foto: Dokumentasi Pertamina

jpnn.com, JAKARTA - Pemanasan global dan perubahan iklim menjadi tantangan semua negara di dunia, baik negara maju maupun negara berkembang, termasuk di dalamnya perusahaan energi dan kalangan industri.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan transisi energi merupakan kunci untuk mencegah bencana pemanasan global dan perubahan iklim.

BACA JUGA: Negara Hadir! Pemerintah Bayar Kompensasi Rp 64,5 T, Perkuat Arus Kas Pertamina, Proteksi Daya Beli Masyarakat

Namun demikian, transisi energi ini tidak boleh mengganggu agenda pembangunan yang belum selesai di negara-negara berkembang.

Apalagi, rata-rata konsumsi energi, pengeluaran emisi dan pendapatan per kapita negara-negara berkembang pada umumnya berada di bawah negara-negara maju.

BACA JUGA: Makin Kuat, Implementasi ESG Pertamina Diakui Sejumlah Lembaga Internasional

“Negara-negara maju harus mendukung negara-negara berkembang dalam transisi ke energi berkelanjutan jika dunia ingin memiliki peluang untuk memenuhi target pemanasan global,” ujar Nicke dalam dialog 'Sustainable Finance For Climate Transition' di Bali, Kamis (14/7).

Sebagai BUMN Energi, kata Nicke, Pertamina telah mengalokasikan Capex (Capital expenditure) sebesar 14 persen dari total dana investasi untuk menyukseskan transisi energi di Indonesia.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dari rata-rata investasi perusahaan energi dunia untuk energi terbarukan sebesar 4,3 persen.

“Mengatasi perubahan iklim merupakan salah satu strategi sustainability Pertamina, dengan target penurunan emisi 30 persen pada tahun 2030 atau di atas target NDC Indonesia pada tahun 2030," tegas Nicke.

Dia menyebutkan tercatat selama 2010-2020, Pertamina telah mengurangi 6,8 juta ton CO2 Equivalent (MmtCO2E) atau 27 persen dari 26 persen baseline 2010.

Nicke yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Task Force Energy, Sustainability, and Climate B2 menambahkan, transisi energi harus direncanakan dengan baik untuk memastikan keamanan energi dan aksesibilitas energi bagi seluruh masyarakat tetap terjaga.

Pertamina akan mempercepat transisi energi menuju penggunaan energi yang berkelanjutan, memastikan transisi yang adil dan terjangkau serta meningkatkan ketahanan energi.

Menurut Nicke, transisi energi membutuhkan teknologi dan biaya yang besar.

Untuk itu, Pertamina terbuka untuk kemitraan dan kolaborasi, untuk mendorong inovasi dan menurunkan biaya teknologi.

“Ambisi Pertamina adalah menjadi perusahaan energi global terkemuka dan bereputasi baik serta diakui sebagai perusahaan yang menerapkan prinsip-prinsip ESG secara terintegrasi,” tandas Nicke.

Hadir dalam acara yang diselenggarakan secara hybrid itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Direktur Utama PLN Darmawan Prasojo, Direktur Utama PGE Ahmad Yunianto dan Vice President of Jinko Solar Co Ltd Ms Dany Qian. (mrk/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler