Cerita Kepala Sekolah Mimpi Bertemu Perempuan Cantik, Oh Ternyata

Selasa, 30 Juli 2019 – 07:57 WIB
Mengenakan pakaian khas yang biasa dipakainya saat mengobati pasien, Rintong berdiri di depan bengkel patah tulang, beberapa waktu lalu. Foto: AGUS PRAMONO/KALTENG POS

jpnn.com - Rintong sudah 33 tahun silam mengabdi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Pria yang merupakan kepala SDN Gandrung itu juga membantu masyarakat dengan membuka bengkel patah tulang.

ANISA B WAHDAH, Tamiang Layang

BACA JUGA: Perlukah Minum Susu untuk Memperkuat Tulang?

MENGABDI untuk negara sudah menjadi komitmennya. Sabar dan berjiwa penolong. Rintong yang menjabat kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gandrung, Kecamatan Paku, Kabupaten Barito Timur (Bartim), berkomitmen membawa anak didiknya mampu mewujudkan cita-cita mereka.

Padahal, awalnya pria berbadan tambun ini tak terpikir bisa menjadi seorang guru, apalagi menjadi seorang kepala sekolah. Dahulunya ia menempuh Sekolah Pendididikan Guru (SPG). Orang tua memintanya menjadi guru dan kuliah terlebih dahulu. Dua kali mendaftar, gagal.

BACA JUGA: 4 Gejala Kanker Tulang yang tak Boleh Disepelekan

“Akhirnya saya memutuskan bekerja di perusahaan perkebunan karet di wilayah sini,” ucapnya kepada Kalteng Pos, beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, sang ayah seolah-olah tak merestui keputusan itu. Padahal di tahun 80-an, gaji Rp90 ribu yang diterimanya terbilang besar untuk masa itu.

BACA JUGA: Siapa Nama Dokter Muda Cantik Pendukung Jokowi ini?

BACA JUGA: Honorer K2 juga Pengin Mendapatkan Keppres seperti Baiq Nuril

Mungkin takdirlah yang membuatnya berubah pikiran dan meninggalkan perusahaan yang membayarnya dengan upah sebesar itu. Ia pun kembali ke rumah dan memutuskan menjadi guru dengan gaji tak mencapai Rp50 ribu.

Kini ia telah menyadari amanah ayah yang memaksanya menjadi guru. Jika saat itu ia masih bertahan sebagai karyawan perusahaan, entah siapa yang akan melanjutkan mengurus SDN Gandrung. Apalagi, ia melihat antusiasme bersekolah dari anak-anak yang kini dipimpinnya, meski di tengah perekonomian yang bisa dikatakan masih lemah.

“Banyak guru dan kepala sekolah yang tidak betah dan memilih mengundurkan diri. Saya juga pernah mengundurkan diri, tapi bukan alasan tak betah. Alasan saya karena ingin bergantian dengan yang lainnya, karena selama 22 tahun saya menjabat sebagai kepala sekolah tanpa jeda,” kisahnya.

Menurutnya, setiap akhir masa jabatan selalu dilakukan evaluasi. Berdasarkan ketentuan, apabila kepala sekolah dinilai profesional dan bekerja dengan benar, maka yang bersangkutan akan diangkat kembali menjadi kepala sekolah.

“Seharusnya, jika sudah dua periode menjabat, maka saya tidak boleh menjabat lagi sebagai kepala di sekolah di sekolah yang sama. Mau tak mau harus pindah. Tetapi nyatanya sampai 22 tahun saya tetap menjadi kepala sekolah,” kata pria kelahiran 12 Oktober 1965 silam.

Diakuinya, sudah tiga kali dirinya melayangkan surat pengunduran diri, dengan alasan agar bergantian tugas dengan guru lain. Lagi-lagi, Dinas Pendidikan menolak. Terakhir ia melayangkan surat pengunduran diri adalah 2018 lalu.

“Ya, saya jalani saja. Saya merasa bahwa saya dipercaya untuk mengurus sekolah itu. Amanah ini harus dijaga. Ini sebagai motivasi agar anak-anak didik bisa berhasil dan menjadi anak yang sukses ke depannya,” ungkap Rintong.

“Saya bersyukur, saat ini jalan menuju ke sekolah tidak seperti dahulu. Sekarang sudah dibangunkan jalan oleh pemerintah daerah, bukan oleh perusahaan sekitar,” tambahnya.

Sudah 33 tahun Rintong mengabdi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Tak hanya itu. Meski di tengah kesibukannya menjadi guru, pria berkulit sawo matang ini pun membuka pelayanan bagi mereka yang mengalami patah tulang.

Wartawan Kalteng Pos terkejut dengan tulisan “Bengkel Patah Tulang” yang terpajang pada salah satu pintu ruangan di teras rumahnya.

“Ini adalah kamar tempat saya mengobati orang-orang yang mengeluhkan penyakitnya, karena saya bisa mengobati orang yang mengalami patah tulang,” katanya.

Meski demikian, Rintong selalu mengutamakan tugasnya sebagai guru. Keahliannya dalam mengobati mereka yang menderita patah tulang dilakukannya di luar jam sekolah. Dilayaninya dengan ikhlas hati.

“Saya tidak pernah menarik harga. Saya hanya ingin membantu masyarakat yang sakit. Saya hanya menerima jika diberi dengan ikhlas,” ucapnya.

Kakek yang memiliki lima orang cucu ini pun menceritakan asal mula munculnya kemampuan mengobati patah tulang.

“Ceritanya dulu saya sering ke hutan untuk berburu. Kadang bermalam di hutan. Saya bermimpi bertemu perempuan cantik yang mengatakan akan memberikan saya sesuatu. Kapan-kapan,” kisahnya.

Saat akan kembali ke rumah, ia bertemu perempuan tua sembari membawa seekor anjing. Perempuan itu bercerita bahwa anjing itu pernah alami patah tulang tapi sembuh berkat minyak yang ia miliki.

BACA JUGA: Kisah Pak Guru Honorer K2, Usai Mengajar Cari Kayu Bakar, Istri Pergi Ogah Kembali

Spontan Rintong meminta obat yang dimiliki perempuan tua itu, karena saat itu anjing peliharaannya di rumah ada yang tengah mengalami patah tulang.

“Sampai di rumah, saya beri obat itu ke anjing. Ternyata langsung pulih. Sejak saat itulah akhirnya saya bisa membantu orang-orang yang mengalami patah tulang,” kisah Rintong. (*/ce/ram)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hotman Paris Ngaku Pusing Tangani Kasus Perceraian


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler