Cerita Tatkala Laut Marah

Kamis, 02 Agustus 2018 – 12:53 WIB
Suasana di Muaro Padang, kemarin. Belakangan, daerah jalur laut ke Mentawai ini nyaris tiap hari diguncak gempa. Foto: Wenri Wanhar/JPNN.com

jpnn.com - SELAMA berabad, kisah laut adalah cerita tentang kesetiaan. Apa pun yang dimuntahkan manusia dan alam ditelannya sendiri. Hingga sampai di suatu masa... 

Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network

BACA JUGA: Menteri LHK: Prioritas Evakuasi Pendaki di TN Gunung Rinjani

Hari itu almanak masehi bertarekh 29 Juli 1885. Seratus tiga puluh tiga tahun nan lampau.
 
Gempa melanda Pantai Barat Sumatera. Berdasarkan data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA)--lembaga Amerika Serikat yang mengaji kondisi atmosfer dan laut, serta tentu mencatat tiap kejadian tsunami di dunia--episentrumnya di Air Bangis, Pasaman Barat.

“Gempa terjadi pukul 23:34 waktu setempat. Dengan koordinat: 0 S, 99,5 E, Magnitude: 6.75 SR,” tulis arsip NOAA

BACA JUGA: Jokowi Langsung Menuju Pengungsian Korban Gempa Lombok Timur

Karena catatan itu menulisnya Air Bangis—diksi Minang yang di-Melayu-kan—boleh ditaksir bahwa sebelum gempa 1885 daerah itu sudah bernama Ayia Bangih, dan pernah ada peristiwa tsunami sebelumnya.

Pantai Ayia Bangih, satu di antara pelabuhan tua di Pantai Barat Sumatera selain Singkil, Barus, Tiku, Pariaman dan Indrapura. Ayia bangih bahasa Minang yang artinya air marah.

BACA JUGA: Gempa Lombok: Tegar pun Lahir di Halaman Puskesmas Senaru

Kembali ke catatan NOAA... 

“Gempa 1885,” begitu tertulis, “Air Bangis kembali didera gempa yang disusul oleh tsunami. Di sini, gejala tsunami ditandai dengan mengeringnya air sungai, lalu terdengar suara gemuruh dari arah laut. Tak membutuhkan waktu lama, air laut dengan kekuatan besar datang menghantam pantai.”
 
Menurut Yose Hendra, sejarawan muda dari sejarawan Universitas Andalas Padang, yang konsen mengaji sejarah bencana, keberadaannya di teras Samudera Hindia, menjadikan Air Bangis salah satu daerah yang rawan gempa.
 
“Efek pelepasan patahan Indo-Australia, sekarang patahan Samudera Hindia, pernah juga berdampak di Air Bangis tahun 1861. Saat itu, Air Bangis juga diterjang tsunami,” katanya kepada JPNN.com, dalam sebuah perjumpaan di Muaro Padang. Belakangan daerah jalur laut ke Mentawai ini nyaris tiap hari diguncang gempa.
 
Pacific Ring of Fire
 
Dalam buku Mentawai—Potret Kebencanaan Pulau Terluar, Yose memaparkan, Pantai Barat Sumatera merupakan simpul Pacific Ring of Fire. Yaitu sebuah zona yang rentan gempa bumi dan meletusnya gunung berapi.
 
“Lebih dari 90 persen gempa bumi yang terjadi di dunia, sekitar 81 persen gempa berkategori kuat terjadi di zona ini. Berada di simpul seismik dunia, Pantai Barat Sumatera menjadi sumber subduksi, salah satu sumber gempa bumi,” tulisnya.
 
Subduksi atau penekukan terjadi ketika lempeng samudera bertabrakan dengan lempeng benua, yaitu pertemuan dua lempeng Samudera Indo–Australia dan lempeng Eurasia.
 
Sebelumnya diikenal tiga lempeng benua melewati Indonesia yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik.
 
Namun, beberapa tahun terakhir Lempeng Indo-Australia terpisah, sehingga menjadi dua bagian yakni Lempeng Australia dan Lempeng India.
 
“Terpisahnya diklaim karena zona subduksi terus bergerak dan berproses. Bahkan, gempa yang melanda Aceh 11 April 2012 lalu, diyakini sebagian ahli telah mempertegas batas kedua lempeng,” ungkapnya.
 
Dia menerangkan, lempeng lautan Hindia dan Australia bergerak ke utara sekitar 50 hingga 70 mm pertahun dan menunjam di bawah palung laut dalam Sumatera-Jawa sampai ke barat Pulau Timor di NTT.
 
Kemudian, di sepanjang tepian lempeng kepulauan dari Pulau Timor ke arah timur dan terus menular ke utara berlawanan arah jarum jam menuju wilayah perairan Maluku, Lempeng Benua Australia menebarak dengan kecepatan  kurang lebih 70 mm pertahun.
 
Di Utara Indonesia Timur, Lempeng Pacifik menabrak sisi utara Pulau Irian dan pulau-pulau di utara Maluku dengan kecepatan 120 mm pertahun. Dua kali lipat lebih cepat dari kecepatan penunjaman lempeng di bagian sisi barat dan selatan Indonesia.  
 
Zona subduksi membujur dari Laut Andaman, membujur di Pantai Barat Sumatera, hingga melingkar ke Pantai Selatan Jawa dan perarairan bagian timur Indonesia. Agaknya gempa yang hampir tiap hari terjadi di Pantai Barat Sumatera belakangan ini, bertalian dengan gempa yang belum lama mengguncang Lombok. Entah…
 
Proses subduksi ini, sambungnya, akan terus berproses. Artinya, gempa bumi pun akan terus berlangsung. Hal inilah yang menjadi sumber gempa yang juga bisa memicu tsunami.
 
Belajar dari Pengalaman
 
Merujuk catatan NOAA, gempa yang disusul tsunami di Air Bangis pada 1885, diketahui tidak memakan korban jiwa.
 
Ditengarai, rakyatnya sudah belajar dari pengalaman gejala alam dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya.
 
Besar kemungkinan, pengalaman itu pula yang membuat rakyatnya menamai wilayah tersebut Ayia Bangih. Nama yang kini di-Indonesia-kan jadi Air Bangis, yang secara administrasi masuk Pasaman, Sumatera Barat.

“Secara terminologi, Air Bangis, dalam bahasa Minang disebut aia bangih.Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, berarti air yang datang membawa malapetaka tanpa belas kasihan, dan menyebabkan penderitaan yang berat,” demikian Yose.

Oiya, gempa disusul tsunami yang terjadi lagi di Ayia Bangih pada 1861, menurut catatan NOAA, berkekuatan 8,5 SR.
 
Dengan episentrum Pantai Barat Sumatera, gempa bawah laut ini melahirkan tsunami setinggi 7 meter. Getarannya terasa hingga Bangladesh, timur India, dan Malaysia.
 
Setelah melacak sekian sumber sejarah, Yose menyimpulkan, tahun 1861 itu adalah periode intensitas gempa paling banyak di Indonesia. (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Personel Polda NTB Dikerahkan Bantu Evakuasi Korban Gempa


Redaktur & Reporter : Wenri

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler