Cinta, Rindu dan Hujan Tutup MIWF 2014

Minggu, 08 Juni 2014 – 10:11 WIB
Cinta, Rindu dan Hujan Tutup MIWF 2014. Fajar Online/JPNN.com

jpnn.com - Cinta, rindu, dan hujan menjadi penutup Makassar international Writers Festival (MIWF) 2014. Beragam penampilan dan sambutan dari beberapa tokoh di malam penutupan membuat acara berjalan cukup khidmat.

Pembacaan puisi mengawali penutupan MIWF 2014, Sabtu (7/6) malam. Sejumlah volunter dan komunitas puisi membacakan puisi karyanya sendiri.

BACA JUGA: Emily Blunt Nyaris Membunuh Tom Cruise

Salah satu yang menarik adalah pembacaan puisi dari Rafiqah Ulfah Masbah. Mahasiswa FKM Unhas ini cukup menghayati dan tetap tenang membaca puisi cinta di genggamannya.

Direktur MIWF, Lily Yulianti Farid, mengatakan, kita semua bisa menjadi rakyat yang hebat dan kehebatan bisa hadir dengan kerjasama yang baik. "Sebuah kegiatan yang menarik seperti yang kita laksanakan selama empat hari ini menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan. Terutama bagi siapa saja yang datang ke kegiatan ini," ucapnya.

BACA JUGA: Pevita Sakit, Al Mulai Perhatian

Sebanyat 77 volunter ikut berpartisipasi demi suksesnya kegiatan. "Kita akan meninggalkan Makassar, tetapi percayalah kita akan selalu punya alasan untuk datang dan datang lagi ke tempat bersejahar ini," ucap Lily, tampak terharu. Dia kemudian menyampaikan kalimatnya tadi ke dalam bahasa Inggris.

Jika pada pembukaan dihadiri oleh Wakil Walikota Makassar, Syamsu Rizal, kali ini penutupan dihadiri oleh Walikota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto. Dia datang bersanma istrinya yang juga ketua tim PKK Kota Makassar.

BACA JUGA: Iwan Fals Ingin Bikin Konser Nyanyian Raya Usai Pilpres

Robi dan Dadang dari Band Navicula juga tampil membawakan sejumlah lagu.

Ribuan pengunjung menjadi saksi penutupan MIWF tahun ke-4 ini. Mayoritas pengunjung duduk di atas rumput atau berdiri di belakang jejerann kursi yang telah penuh.

Mohammad Ramdhan Pomanto, saat membawakan sambutan memuji penampilan para seniman semalam. Dia mengaku bangga dan bersyukur kehadirat Allah. "Saya berada di tengah tempat yang luar biasa. Kenapa saya bangga karena saya penganut orang yang percaya bahwa manusia adalah peradaban. Penampilan yang ditampilkan berkualitas peradaban," kata Ramdhan seperti yang dilansir Fajar Online (Grup JPNN.com), Minggu (8/6).

Kita tahu Makassar ini dibangun oleh para budayawan. Saya lihat anak-anak Makassar sudah kelas dunia. Peradaban itu hanya dua, arsitektur dan tulisan. "Malam ini kita menulis peradaban kita. Jika kita tahu akan mati maka tulisan yang tetap membuat kita hidup," lanjutnya.

Di akhir sambutan Dani menutup kegiatan. Penutupan itu diiringi hujan yang jatuh di bumi Makassar. Para pengunjung dan panitia terpaksa berlindung mencari tempat berteduh.
"Baruka mau pidato Makassar tidak rantasa' sudah hujanmi," ujar Dany kepada sejumlah panitia saat turun dari panggung.

Usai hujan reda, pertunjukan dalam rangkaian penutupan MIWF, kembali digelar. Penampilan musisi perempuan asal Yogyakarta, Tata, cukup memukau para hadirin. Demikian halnya pembacaan puisi dari Sinta Febriany.

Para pengunjung kembali ke tengah lokasi. Mereka antusias menyaksikan jalannya acara hingga selesai. (fajar/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Banyu Biru Aktif Rangkul Kalangan Muda demi Jokowi-JK


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler