Claus Wamafma Bukti Banyak Orang Sangat Cerdas dari Papua

Kamis, 20 Februari 2020 – 16:26 WIB
Direktur PT Freeport Claus Wamafma optimis masyarakat Papua bisa menjabat posisi apa saja di perusahaan nasional. Foto: Afut Syafril/ANTARA

jpnn.com, JAKARTA - Peneliti Alpha Research Database Indonesia (ARDI) Ferdy Hasiman memuji langkah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menunjuk Claus Wamafma menjadi direktur baru PT Freeport Indonesia.

Paling tidak, menunjukan bahwa putra asli Papua memiliki kecerdasan tinggi yang mampu memanage perusahaan tambang kelas dunia seperti Freeport. Apalagi tambang Freeport di Grasberg memilki tingkat kesulitan tinggi dengan menggunakan teknologi tambang canggih.

BACA JUGA: Erick Thohir Tunjuk Claus Wamafma Jadi Direktur Freeport, Begini Komentar Direktur Papua Circle Institute

'Tambang Grasberg bukan hanya open pit (hanya 7 persen dari total cadangan) tetapi tambang underground (total cadangan 93 persen). Itu butuh direktur yang mampu dan mengerti persoalan tambang secara teknis. Claus memiliki segudang pengalaman di internal Freeport. Dia juga tamatan ITB yang punya kemampuan mengelola dan memanage karyawan dengan baik," ujar Ferdy di Jakarta.

Ferdy berharap Claus nantinya melahirkan kebijakan strategis. Misalnya, terkait pendekatan community development bagi Suku Amungma, Komoro dan komunitas Papua, diharapkan berubah. Pendekatannya bukan memberi dana bantuan, tetapi pemberdayaan dengan membimbing dalam konteks budaya dan sosial politik Papua.

BACA JUGA: TNI Terima Hibah Lahan Pembangunan Markas Kogabwilhan III di Papua

"Claus juga diharapkan bisa menjadi jembatan antara kepentingan Indonesia dan Freeport McMorran sebagai induk usaha. Pekerjaan berat lain yang harus segera ditangani, terkait penyelesaian pembangunan pabrik smelter tembaga yang sampai saat ini baru capai lima persen," ucapnya.

Menurut Ferdy, penyelesaian pabrik smelter sangat penting karena akan mengakhiri rezim ekspor konsentrat mentah. Selama bertahun-tahun, Freeport hanya mengirim 36 persen konsentrat tembaganya untuk diolah di pabrik milik PT Smelting Gresik, sisanya sekitar 60 persen diekspor untuk diolah di smelter mereka di Atlantic Coper di Spanyol.

BACA JUGA: Putra Papua Diangkat Jadi Direktur Freeport Indonesia

"Pembangunan smelter ini penting agar rakyat Indonesia paham, apakah Freeport hanya mengekspor tembaga dan emas, atau ada unsur uranium yang selalu menempel dalam logam emas dan tembaga dengan harga tinggi. saya berharap Claus bisa menyelesaikan pembangunan pabrik tembaga dalam 3-5 tahun ke depan, agar ada multiplier effect bagi pembangunan dan penerimaan negara meningkat," katanya.

Menurut penulis buku 'Freeport: Bisnis Orang Kuat Vs Kedaulatan Negara' ini, akan lebih bagus jika Claus mampu memperjuangkan pembangunan pabrik smelternya di Papua. Karena untuk jangka panjang, biaya produksi yang dikeluarkan akan lebih murah.

"Jika alasan Freeport tak ada pabrik yang bisa menampung asam sulfat dari limbah pabrik smelter, ya tinggal dibangun saja pabrik Pupuk NPK di Papua. Lebih murah lahan dan tak ada ongkos sewa kapal angkut tembaga Papua-Gresik," pungkas Ferdy. (gir/jpnn)


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler