Daripada Lapar, Korban Gempa Jarah Truk Kontainer Bantuan

Senin, 01 Oktober 2018 – 11:07 WIB
Seorang warga dengan hasil jarahannya berjalan di kawasan Palu Grand Mall. Foto: Adek Berry/AFP

jpnn.com, PALU - Sejumlah warga korban gempa dan tsunami di Palu terpaksa menjarah pertokoan. Lapar memicu anarki.

Warga tidak takut lagi meskipun ada aparat di sekitar pertokoan. Bahkan, mereka berombongan membobol ruko dan ritel di Kota Palu. Nyaris tak ada yang lolos. Aparat pun tak berani melarang.

BACA JUGA: Terminal BBM Donggala Mulai Salurkan BBM

Di Carrefour Jl Hasanuddin penjarahan terjadi sehari sejak gempa terjadi. Lapar menjadi alasannya. Sementara, bantuan masih minim. Jangankan makanan, camilan pun susah. Belum lagi kesulitan air bersih.

Di Jl Pramuka, tak jauh dari Markas Korem 132 Tadulako, warga bahkan membawa linggis untuk membobol pintu ruko yang terbuat dari besi dan teralis. Demikian halnya di Jl KH Ahmad Dahlan dan Jl Gusti Ngurah Rai.

BACA JUGA: Pertamina Salurkan Solar untuk Genset dan PLN di Sulteng

Di Jl Muh Yamin, ratusan kendaraan mengepung stasiun pengisian bahan bakar minyak umum (SPBU). Mereka menjarah BBM. Mereka bahkan membawa pipa untuk mengalirkan BBM dari dalam tangki. "Warga sudah tidak takut. Bahkan rela mati daripada kelaparan," kata Cholis, seorang warga yang ikut menjadi relawan.

Petugas SPBU pun memilih membiarkan mereka menjarah. Alasannya, tak mau mengambil risiko jadi korban amuk warga yang beringas. Demikian halnya pemilik toko, tak bisa bertindak apa-apa saat toko mereka dibobol.

BACA JUGA: Ariel Tatum Ajak Ringankan Beban Korban Terdampak Gempa Palu

Saat ini, BBM memang sangat langka di semua wilayah Palu. Ada beberapa penjual eceran, namun harganya bahkan dijual antara Rp30 ribu-Rp100 ribu. "BBM sangat langka. Kan SPBU dijarah semua toh," ujar Herlina Taslim, warga Palu keturunan Bone.

Selain di Jl Muh Yamin, SPBU di Jl Pramuka, Jl Yos Sudarso, Jl Maluku, Jl Cumi-cumi, Jl Pangeran Diponegoro, Jl Ahmad Yani, dan Jl Imam Bonjol, juga tak luput dari aksi penjarahan.

Sementara itu, rombongan pembawa logistik BNPB dikabarkan juga jadi korban penjarahan saat hendak masuk ke Palu dari Donggala. "Truk kontainer pembawa bantuan dijarah di Donggala," beber salah seorang relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulsel.

Sementara itu, evakuasi terhadap korban gempa dan tsunami Donggala-Palu, Sulteng, dinilai lamban. Ratusan warga masih tertimbun reruntuhan. Korban reruntuhan Hotel Roa-roa Jl Pattimura, Kota Palu yang diperkirakan mencapai ratusan orang, juga belum dievakuasi. Sejauh ini, evakuasi hanya dilakukan kepada jenazah yang ada di jalan.

Di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, ratusan rumah hanyut. Andri, salah satu warga yang masih sempat menyelamatkan diri saat rumahnya ambruk. Namun, harta bendanya hancur. Mobil dan sepeda motor penyot tertimpa reruntuhan.

Di Palu Grand Mall (PGM), evakuasi juga belum maksimal. Korban kebanyakan terjebak di basement saat gempa dan tsunami datang. Selain itu, di salah satu kampung di Desa Biromaru, Kabupaten Sigi, nyaris tak ada korban tsunami selamat. "Masih belum ada (jenazah) didapatkan. Yang bisa selamat hanya yang masih bisa keluar dari lumpur saat tsunami," sambung Andri. (zuk/rif/fajar)

BACA ARTIKEL LAINNYA... 100 Tenaga Medis NasDem Dikirim ke Palu dan Donggala


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler