Dewan Minta UN Disosialisakan

Senin, 18 Februari 2013 – 04:25 WIB
TOUNA - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Touna, Sulawesi Tengah sangat respek terhadap langkah antisipatif Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Touna dalam  menghadapi Ujian Nasional (UN) di Tahun 2013 ini yang tinggal beberapa bulan lagi.

Anggota Komisi I DPRD Touna Syahrir Muzammil mengatakan upaya pihak Disdikpora Touna menjelang pelaksanaan UN 2013 baik tingkat SD/MI, SMP/MTS, terlebih lagi SMA/MA atau yang sederajat yang tujuannya untuk meningkatkan angka kelulusan agar lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya patut diapresiasi.

Katanya, UN merupakan kegiatan evaluasi standar pendidikan secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. "Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional pada mata pelajaran tertentu yang dilaksanakan secara berkesinambungan dalam rangka meningkatkan mutu pendididkan di Indonesia," ujarnya seperti dilansir Radar Sulteng (JPNN Group), Minggu (17/2).

Menghadapi UN 2013, Syahrir yang juga mantan pengawas sekolah ini tentunya mengharapkan kinerja para guru dan kepala sekolah harus lebih dioptimalkan dan para siswa hendaknya dibimbing untuk lebih konsentrasi mempersiapkan diri menghadapi finalisasi usaha dan perjuangnya pada jenjang satuan pendidikan yang diikuti.

"UN 2013 ada beberapa perubahan dibanding UN pada tahun sebelumnya, dari informasi yang kami himpun untuk tingkat kesukaran ada pada soal UN, karena yang sulit itu, jika tahun lalu hanya berkisar 10 persen, maka tahun ini dinaikkan menjadi 20 persen. Soal yang sedang menurun dari 80 persen menjadi 70 persen, kemudian yang mudah tetap 10 persen, tingkat kesukaran dibuat lebih sulit, maksudnya agar kredibilitas dan kualitas hasil ujian meningkat dari tahun-tahun sebelumnya," katanya.

Sementara perubahan lain pada nilai kelulusan, nilai  UN rata-rata 5, katanya tidak menutup kemungkinan tahun ini akan lebih ditingkatkan lagi dengan nilai tiap mata pelajaran minimal 4,5. Sedangkan perubahan lainnya kata Syahrir adalah variasi soal seperti contoh tahun lalu dalam satu kelas hadir 20 peserta dengan varian soal berbeda.

Katanya, kalau tahun lalu 5 variasi soal, untuk UN 2013 mungkin 20 varian soal, sehingga dalam satu ruang kelas peserta ujian masing-masing mengerjakan soal yang tidak sama. Sehingga cara ini dipandang cara yang efektif untuk mencegah terjadinya kecurangan dalam pelaksanaan ujian dan merupakan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kredibilitas dan kualitas penyelenggran UN 2013.

"Walaupun konsep ini mendapat kritikan dari beberapa pengamat pendidikan, antara lain dari Darmaningtyas yang menilai bahwa penerapan varian soal yang berbeda dalam satu kelas pada UN adalah tidak efektif mencegah kecurangan, dan menempatkan siswa sebagai pihak korban atau pihak yang dianggap tidak jujur, padahal sumber kecurangan atau ketidakjujuran itu adalah pada sistem. Namun walaupun ada pro dan kontra, konon pihak Kemendikbud tetap ngotot menetapkan 20 variasi soal  UN 2013," terangnya.

Sebagai mantan guru, kepala sekolah, dan pengawas, kata  Syahrir, pihaknya sangat mengharapkan disamping faktor kesiapan dan konsentrasi belajar siswa yang harus ditingkatkan, para guru dan kepsek perlu meningkatkan profesionalitasnya tidak cuma terampil dalam memberikan pelajaran, tapi juga terampil membimbing dan mengajar bagaimana cara belajar yang baik kepada para siswa, termasuk memberikan petunjuk strategi dan tips bisa sukses lulus menghadapi UN 2013.

Kepada Disdikpora Touna, Syahril mengimbau agar melakukan sosialisasi tentang rambu pembuatan soal-soal UN yang sudah dikemas dengan nama kisi-kisi UN 2013, baik untuk SD, SMP, dan SMA yang tertuang dalam peraturan Badan Standar Nasional Pendidikan NO.0019/P/BSNP/XI/2012. Karena dengan adanya sosialisasi kisi-kisi ini, guru dan sekolah sudah dapat mengatur peta kekuatan, strategi dan langkah-langkah yang tepat dalam menghadapi soal-soal UN dengan mengumpulkan materi-materi yang relevan.

"Bila memungkinkan Disdikpora Kabupaten Touna bisa membentuk Tim Sukses UN 2013. Tim ini bisa berasal dari satu sekolah atau lebih, atau dari KKG/PKG Guslah maupun kecamatan, sehingga dengan semakin banyak guru yang berperan serta, maka semakin ringan beban dan semakin besar harapan untuk berhasil. Bahkan dengan tim ini, bisa memaksimalkan kegiatan, merumuskan materi, pembuatan soal-soal prediksi bahkan sampai pada kegiatan Try Out," pungkasnya.(cdy)



BACA ARTIKEL LAINNYA... Lobi Kurikulum, Mendikbud Rajin Safari Politik

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler