Ditolak Malaysia, Puluhan Muslim Rohingya Mati Kelaparan di Tengah Laut

Kamis, 16 April 2020 – 14:47 WIB
Pengungsi Rohingya. Foto: AFP

jpnn.com, COX’S BAZAR - Wabah virus corona menambah penderitaan ribuan muslim Rohingya yang berusaha melarikan diri dari persekusi di Myanmar. Mereka kini makin sulit mencari perlindungan lantaran hampir semua negara di Asia Tenggara menerapkan kebijakan karantina ketat.

Kemarin, Rabu (15/4), penjaga pantai Bangladesh menyelamatkan lebih dari 380 pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di laut selama beberapa pekan terakhir setelah kapal mereka ditolak mendarat oleh otoritas Malaysia. Sedikitnya 20 orang di kapal itu mati kelaparan.

BACA JUGA: Lari dari Persekusi Myanmar, Ratusan Muslim Rohingya Malah Ditahan di Malaysia

"Mereka berada di laut selama sekitar dua bulan dan kelaparan," salah satu pejabat penjaga pantai kepada Reuters dalam sebuah pesan, Kamis (16/4). Menurut dia, mereka yang selamat akan dikembalikan ke Myanmar.

Rekaman video menunjukkan kerumunan sebagian besar wanita dan anak-anak, beberapa diantaranya tubuhnya setipis tongkat dan tidak mampu berdiri, dibantu ke pantai. Seorang pengungsi mengatakan kepada wartawan bahwa mereka telah tiga kali berusaha berlabuh di Malaysia.

BACA JUGA: Putusan Mahkamah Internasional: Myanmar Harus Penuhi Hak Etnis Rohingya

Rohingya tidak diakui sebagai warga negara Myanmar yang mayoritas beragama Buddha dan mereka mengeluhkan penganiayaan. Namun, Myanmar membantah menganiaya Rohingya dan mengatakan mereka bukan kelompok etnis asli tetapi merupakan pendatang dari Asia Selatan.

Lebih dari satu juta tinggal di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh selatan, mayoritas telah diusir dari rumah mereka di Myanmar setelah penumpasan militer 2017 yang dikatakan tentara sebagai respon terhadap serangan oleh pemberontak Rohingya.

BACA JUGA: Mahkamah Internasional: Muslim Rohingya Terancam Genosida di Myanmar

Selama bertahun-tahun, warga Rohingya telah menggunakan kapal yang dioperasikan oleh penyelundup dengan harapan menemukan tempat perlindungan di Asia Tenggara. Perjalanan biasanya berlangsung pada musim kemarau, antara November dan Maret, ketika laut tenang.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia khawatir karantina wilayah sebagai tanggapan terhadap virus corona mempersulit para pengungsi Rohingnya mendapat suaka.

Chris Lewa, direktur Arakan Project, mengatakan dia yakin beberapa kapal lagi terdampar. "Rohingya mungkin menghadapi perbatasan tertutup yang didukung oleh narasi xenophobia," katanya dalam sebuah pesan.

"COVID-19 tidak dapat digunakan untuk menolak akses masuk bagi para pengungsi yang putus asa dalam kesusahan. Krisis maritim lain di Laut Andaman seperti pada 2015 tidak dapat diterima."

Seorang pejabat polisi di negara bagian Kedah, Malaysia, mengatakan kepada Reuters bahwa beberapa kapal berusaha mencapai pantai negara itu dan pemantauan telah ditingkatkan.

Seorang pejabat polisi di Thailand selatan mengatakan lima kapal yang membawa Rohingya telah ditemukan di lepas pantai provinsi Satun pada Senin malam. Tidak mungkin untuk mengkonfirmasi hal ini secara independen. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler