Dompet Dhuafa Bantu Pengungsi Afrika

Kamis, 27 Maret 2014 – 17:12 WIB
Distribusi logistik dari Dompet Dhuafa. Foto for JPNN.com

jpnn.com - KENZU - Tim Kemanusiaan Indonesia Dompet Dhuafa untuk Afrika Tengah telah berada di kamp pengungsian di Kenzu dan Garoua Boulai, perbatasan timur Kamerun dan Afrika Tengah Sejak Senin (24/3) lalu. Di sana, tim menyalurkan amanah bantuan masyarakat Indonesia berupa logistik untuk sekitar 27.000 kepala keluarga (KK) pengungsi Afrika Tengah. Untuk bantuan krisis tersebut, Dompet Dhuafa anggarkan dana Rp 1 miliar.

Koordinator Tim Kemanusiaan Indonesia Aid Dompet Dhuafa, Sabeth Abilawa mengatakan tim bersama NGO kemanusiaan lokal setempat, AHAS Association Humanitaire Pour le Development du Cameroon, telah menyalurkan 2 kontainer logistik berupa makanan, air mineral, dan obat-obatan yang dibeli dari kota Doula, yang berjarak dekat dari Kenzu untuk dibagikan kepada seluruh pengungsi.

BACA JUGA: FBI Segera Selesaikan Analisa Data Simulator Milik Pilot MH370

“Yang jelas mereka sangat membutuhkan bantuan makanan, kesehatan, dan air bersih karena secara umum daerah disini sangat kesulitan air,” terang Sabeth melalui pesan elektroniknya kepada JPNN.com, Kamis (27/3).

Dengan pemberian bantuan tersebut, tim Dompet Dhuafa merupakan lembaga kemanusiaan Indonesia yang pertama kali memberikan bantuan kepada para pengungsi Afrika Tengah.  

BACA JUGA: Pilot MH370 Diduga Galau Saat Terbangkan Pesawat

Informasi terbaru, Rabu (26/3) pagi waktu setempat, Sabeth menuturkan gelombang pengungsi yang datang ke wilayah Kenzu semakin bertambah.“Diperkirakan jumlah pengungsi di wilayah Kenzu ini akan terus bertambah karena barusan juga ada 2 mobil truk yang membawa ratusan pengungsi datang ke sini,” jelasnya.

Rencana hingga empat hari kedepan, Tim Kemanusiaan Indonesia Aid Dompet Dhuafa akan membuat instalasi air dan mensurvei beberapa titik wilayah untuk membantu pengadaan air bersih di Kenzu.

BACA JUGA: Pengadilan AS Vonis Menantu Osama Penjara Seumur Hidup

“Hari ini juga kita akan mensurvei titik-titik air atau waterpam untuk kita bangun 2 atau 3 instalasi air bersih,” Tegasnya.

Sabeth menuturkan, kondisi pengungsi di Kamp Kenzu teramat menyedihkan. Menurutnya, sejauh mata memandang wilayah Kenzu hanya dipenuhi tenda-tenda pengungsi berwarna putih, semua itu dikarenakan banyaknya jumlah pengungsi.

Hampir 95 persen pengungsi tinggal di tenda-tenda pengungsian, dan sisanya yang baru datang sebagian tinggal di lapangan, dan belum ada tenda, dan makanpun mereka dijatah.

Dari pengamatan Sabeth di lapangan, mayoritas pengungsi adalah perempuan dan anak-anak. Tubuh mereka kurus tak terurus. “Wajah-wajah kelelahan dan tatapan nanar menghiasi raut wajah orang orang yang terusir dari negerinya ini,” kata Sabeth lirih.

Kenzu merupakan wilayah kamerun yang tidak lebih baik dari Afrika Tengah sendiri. Pasalnya, Kenzu merupakan desa terpencil di dalam hutan dan mereka harus tinggal mengungsi di sana,

Selain mengungsi di Kamerun, rata-rata pengungsi mengalir ke beberapa wilayah perbatasan Kamerun seperti di utara Afrika Tengah, Kongo,dan Sudan. Sebagian besar memang mengalir di wilayah Kamerun sebab, Kamerun merupakan wilayah yang paling dekat dengan Ibu Kota Afrika Tengah.

Merespon krisis kemanusiaan yang terjadi di Afrika Tengah ini, tim Indonesia Aid Dompet Dhuafa berangkat dari Indonesia sejak Rabu (19/3) pekan lalu. Relawan tiba di Doula, Kamerun kemudian berkoordinasi dengan NGO lokal, AHAS Association Humanitaire Pour le Development du Cameroon untuk mengetahui kebutuhan korban. (jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Korsel Batasi Iklan Operasi Plastik


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler