Eks Asprov PSSI Jabar Beberkan Kontribusi Iwan Bule di Sepak Bola Indonesia

Kamis, 02 Maret 2023 – 19:54 WIB
Ketua umum PSSI periode 2019-2023 Mochamad Iriawan. Foto: Dok PSSI

jpnn.com, JAKARTA - Cerita tentang sepakterjang Mochamad Iriawan sebagai Ketua umum PSSI periode 2019-2023 di persepakbolaan Indonesia tidak ada habisnya.

Mantan Ketua Asprov PSSI Jawa Barat, Duddy S Sutandi, berkisah tentang kinerja pria yang akrab disapa Iwan Bule itu dengan menyebut sebagai sosok yang mementingkan kepentingan umat.

BACA JUGA: Soal Maju Pilgub Jabar 2024, Eks Ketum PSSI Iwan Bule Bilang Begini

Pria yang akrab disapa Iwan Bule ini sudah tak lagi menjabat Ketua Umum PSSI. Bahkan yang memutuskan mempercepat Kongres Luar Bias (KLB) berdasarkan rekomendasi dari Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan lalu.

Kala itu, TGIPF juga meminta pengurus PSSI di era Iwan Bule tidak maju lagi dalam KLB PSSI periode 2023-2027.

BACA JUGA: KLB PSSI Dimulai Pagi ini, Dibuka Menpora Amali, Iwan Bule Berharap Begini

Iwan Bule pun memenuhi tanpa adanya penolakan, meski dalam kepengurusan yang baru ini masih ada anggota Exco PSSI pada saat itu tetap maju dan terpilih kembali.

Mantan Ketua Asprov PSSI Jawa Barat, Duddy S Sutandi mengatakan bahwa tidak majunya lagi Iwan bule dalam KLB PSSI periode 2023-2027 bukan lantaran tidak cinta, bahkan bukan juga karena tidak dicintai, tetapi pria yang pernah menjadi pengurus Persib Bandung pada 1985-2007 itu menyebut jika Iwan Bule tidak bersedia maju lagi semata-mata hanya untuk kebaikan bersama.

BACA JUGA: Iwan Bule Pamit, Pemain Timnas dan Shin Tae Yong Terharu

"Perlu dicatat, Iwan Bule bukanlah Ketua Umum PSSI yang terpaksa berhenti meski periodenya hingga November 2023. La Nyalla Mattalitti, Letjen TNI (purn) Edy Rahmayadi dan jauh sebelum itu, Letjen TNI KKO-AL (purn) Ali Sadikin, mengalami hal yang sama. Dan, bukan tidak mungkin Ketua Umum yang baru juga akan mengalami hal yang sama," ungkap Duddy, Rabu (1/3/2023).

Sebelumnya, Iwan Bule pun pernah mengatakan jika dipercepatnya KLB PSSI sejatinya demi kompetisi sepakbola di Indonesia dapat bergulir lagi. Andai Iwan Bule tak mempercepatnya, izin kompetisi tak akan pernah diberikan.

Duddy yang kental dengan logat Sundanya itu mengatakan bahwa sosok Iwan Bule memang dikenal sebagai orang yang selalu mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan orang banyak ketimbang dirinya. "Itu juga yang membuat Kapolri percaya dengan menunjuk dirinya menjadi Kapolda di tiga tempat," Duddy menjelaskan.

"Mulai Kapolda NTB, Kapolda Jawa Barat, dan Kapolda Metro Jaya, dipercayakan kepada sosok Iwan Bule. Selain itu, jabatan vital Kadivkum dan Kadiv Propam pun pernah dipercayakan Kapolri di pundak Iwan Bule. Dan yang tak kalah penting, Menteri Dalam Negeri pun pernah memberi kepercayaan pada Iwan Bule untuk menjabat sebagai Pejabat Gubernur 2018, dan setelah itu lagi-lagi pemerintah memberi kepercayaan dengan menyematkan tiga bintang tiga Kepolisian di pundaknya sekaligus menjadi Sestama Lemhanas," terang Duddy.

Terkait PSSI di bawah komando Iwan Bule, Timnas Indonesia mengalami kenaikan peringkat FIFA dari ranking 179 ke 151. Selain itu, Timnas Indonesia juga berhasil lolos ke putaran final Piala Asia 2023

Lalu di tim nasional kelompok umur, Tim Indonesia U-20 berhasil lolos Piala Asia U-20 2023. Tim Indonesia U-16 bahkan mampu menggondol trofi Piala AFF U-16 2022 dan Timnas Putri bisa menembus Asia.

"Memang bukan sepenuhnya karena kerja Iwan Bule sendiri, tetapi kesuksesan di sektor mana pun sangat ditentukan oleh sang pemimpin. Sehebat apapun sebuah tim, sangat ditentukan oleh kepiawaian seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang piawai, mampu mendayagunakan kekuatan timnya secara maksimal," tegasnya.

Belakangan, nama Iwan Bule yang sudah meninggalkan PSSI kembali ditarik-tarik lagi ke Tragedi Kanjuruhan. Duddy kecewa dengan hal tersebut karena Iwan Bule sudah memenuhi apa yang diinginkan TGIPF Tragedi Kanjuruhan.

"Bahwa PSSI harus ikut bertanggung jawab, setuju. Tapi, bukan harus dengan cara gebyah-uyah (menyamaratakan), apalagi setiap seksi ada penanggung jawabnya. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menegaskan gas air mata yang digunakan oleh aparat kepolisian menyebabkan 135 orang meninggal dunia dalam tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober lalu," beber Duddy.

"Jika mengacu hal tersebut, pertanyaannya, apakah Iwan Bule punya garis komando untuk memerintahkan penembakan gas air mata? Atau Iwan Bule Memiliki senjata untuk menembakkan gas air mata? Kita semua tahu jawabnya kan," tegas Duddy.

Jadi, jika akhirnya Iwan Bule tidak maju lagi, kata Duddy, jangan pernah ragu menyebutnya sebagai seorang pemimpin yang mendahulukan kepentingan umat. Pemimpin yang rela menanggung beban demi kemaslahatan. Pemimpin yang memiliki rasa cinta begitu tinggi pada sepakbola.

"Aneh jika seseorang dari lembaga survei mengatakan Iwan Bule akan terganjal peristiwa Kanjuruhan, lebih aneh lagi ia mengatakan PSSI memiliki citra negatif. Di tangan Iwan Bule lonjakan prestasi terjadi. Sebaiknya lembaga survei itu netral dan jangan menilai yang ia tak pahami," Duddy mengakhiri.(dkk/jpnn)


Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Muhammad Amjad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler