Empat Saran dari Kiai Ma'ruf agar Indonesia Tetap Rukun

Rabu, 20 Maret 2019 – 17:14 WIB
Calon Wakil Presiden nomor urut 01 KH Ma'ruf Amin memberikan pidato dalam acara Dialog Kerukunan Antarumat Beragama di Bengkulu, Rabu (20/3). Foto: TKN Jokowi - Ma'ruf

jpnn.com, BENGKULU - Calon Wakil Presiden (Cawapres) 01 KH Ma'ruf Amin memaparkan empat bingkai kerukunan yang harus dijaga oleh segenap masyarakat Indonesia. Menurut pendamping Joko Widodo (Jokowi) di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 itu, empat bingkai tersebut harus dijaga agar hubungan antarmasyarakat rukun dan maju.

"Pertama bingkai politis. Kita punya bingkai politis yang menyatukan seluruh bangsa termasuk kerukunan beragama. Kerukunan modal bernegara dan unsur utama itu kerukunan antarumat beragama," kata Kiai Ma'ruf dalam acara Dialog Antarumat Beragama bersama ulama di Bengkulu, Rabu (20/3).

BACA JUGA: Janji Revitalisasi Pendidikan Jokowi - Maruf Amin Dapat Dukungan

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini melanjutkan, jika antar-umat beragama tidak rukun, maka stabilitas keamanan negara akan terganggu. Karena itu, potensi konflik antar-umat beragama harus dicegah.

"Kita pernah mengalami di Ambon, di Poso, itu cukup menjadi pelajaran kita jangan terjadi di daerah lain. Maka itu, kita harus mencegah potensi ini jangan sampai muncul," tambah Kiai Ma'ruf.

BACA JUGA: Pengamat Sambut Positif Rencana Jokowi - Maruf Kembangkan 3.500 Startup

Yang kedua adalah bingkai yuridis. Menurut Kiai Ma’ruf, harus ada upaya menangkal masuknya ideologi yang melahirkan kelompok intoleran dan bertentangan dengan Pancasila ataupun Undang-undang Dasar 1945.

"Soal khilafah enggak usah petenteng-petenteng, proporsional saja yang tidak menyalahi kesepakatan. Kalau orang menyalahi kesepakatan, bubar NKRI," tegas Kiai Ma'ruf.

BACA JUGA: Elektabilitas Jokowi - Maruf Menurun, Prabowo - Sandi Menanjak

Ketua umum nonaktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menambahkan, bingkai ketiga adalah kearifan lokal. Menurut dia, kearifan lokal tidak bisa diganggu karena menyentuh langsung pada budaya dan kepercayaan warga setempat.

"Kearifan lokal nilainya bisa kita konversi, perilaku individual perorangan atau perilaku kolektif sebagai bangsa dia akan melahirkan nilai positif," jelasnya.

Bingkai terakhir adalah teologi. Kiai Ma’ruf menjelaskan, setiap masyarakat harus mengetahui batasan-batasan untuk tidak melukai umat yang berbeda keyakinan. 

"Umat beragama harus membangun teologi kerukunan. Jangan teologi konflik," pungkasnya.(tan/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pengamat: Gagasan Ma’ruf Amin soal Kebudayaan Lokal Sangat Menarik


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler