Era Baru Pengembangan Industri Pangan dan Produk Pangan

Kamis, 01 November 2018 – 23:21 WIB
Seminar dan workshop Internasional Plant Industry mengajak semua pihak melokalkan bahan baku industri FPF di Universitas Jember, Kamis (1/11). Foto: Humas Kementan

jpnn.com, JEMBER - Pangan dan produk pangan mempunyai sumbangan cukup besar pada perekonomian nasional, berpengaruh terhadap inflasi. Industri pangan dan minuman (mamin) menjadi penyumbang kedua terbesar Pendapatan Domestik Bruto non migas. Industri ini menyumbang 6,14 Persen PDB non migas pada tahun 2017 dengan pertumbuhan 8,3 persen. Oleh karena itu pengembangan industri mamin harus dijadikan prioritas dalam pembangunan ketahanan pangan.

Industri pangan dan produk pangan khususnya yang berbasis tepung-tepungan saat ini masih banyak menggunakan bahan baku impor, misalnya terigu. Tahun 2018 impor gandum dan terigu diperkirakan lebih dari 11 juta ton atau meningkat rata-rata 12,2 persen pertahun.

BACA JUGA: Kementan Dukung Peningkatan Produksi Cabai di Kepulauan Riau

Di sisi lain, Indonesia mempunyai potensi besar menghasilkan tepung singkong, jagung dan pati sagu. Produk tepung lokal tersebut dapat dijadikan bahan baku industri FPF. Untuk itu Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi pada seminar dan workshop Internasional Plant Industry mengajak semua pihak melokalkan bahan baku industri FPF di Universitas Jember, Kamis (1/11).

"Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya perubahan kebiasan (habit movement) baik di sisi hulu, usaha tani, maupun sektor paling hilir, yaitu meningkatkan konsumsi produk pangan yang berbahan baku lokal," ujar Agung.

BACA JUGA: Mentan Apresiasi Surplus Produksi Padi di Parigi Moutong

Perubahan usaha tani ini menurut Agung, dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani. "Produktivitas singkong misalnya, harus mampu mencapi 50 ton perhektare. Dengan produktivitas diatas 50 ton, petani dapat menjual singkongnya sekitar Rp 1200 dan sudah mendapatkan untung besar," jelas Agung.

Masih menurut Agung, dengan harga singkong kurang dari Rp 1200 perkilogram, akan dihasilkan tepung mocaf dengan harga sekitar Rp 5.000/kg. Harga tersebut bisa bersaing atau minimal sama dengan terigu untuk industri. "Kita bisa bayangkan, apabila produktivitas singkong lebih dari 50 ton perhektare, harga tepung mocaf bisa lebih rendah lagi," papar Agung.

BACA JUGA: Sragen Raih Peringkat Kedua Peningkatan Luas Tanam Padi

Melihat peluang tersebut, Agung menantang civitas academica Universitas Jember bisa mendapatkan inovasi dan teknologi budidaya singkong yang mempunyai provitas 80 ton/ha. Sementara itu BKP akan merumuskan kebijakan agar FPF dapat meningkatkan penggunaan komponen bahan baku lokal.

"Dalam kesempatan yang baik ini, saya mengajak semua stakeholder untuk mulai mewujudkan gerakan melokalkan bahan baku lokal," pungkas Agung.(jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kementan Tingkatkan Pegawasan terhadap Perizinan Pertanian


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler