Era Internet of Things dengan Hardware Open Source

Rabu, 11 Februari 2015 – 01:46 WIB
Perangkat Intel Galileo untuk mengembangkan Internet of Things. (Intel)

jpnn.com - SAN FRANCISCO—Teknologi perangkat hardware bakal membuka era Internet of Things. Khususnya, makers baik yang profesional maupun amatir. Teknologi itu terdapat di Intel Galileo dan Intel Edison.

Intel Galileo adalah sebuah single-board computer dengan prosesor Intel Quark dan kompatibel dengan Arduino. Dengan Intel Galileo, anak-anak kreatif tidak hanya menggambar robot, pesawat ruang angkasa atau desain fashionfuturistik. Mereka bisa membuatnya dengan mengikuti tips dan perangkat lunak gratis yang tersedia di internet.

BACA JUGA: Dekati Pengguna Aktif, Baidu Cari User Ambasador Indonesia

Peralatan yang banyak digunakan oleh para pencipta produk terkenal kini sudah tersedia untuk umum. Baik untuk anak sekolah, hobbyist atau mereka yang memiliki ide dan keinginan untuk mengutak-atik elektronik. Akses ke teknologi ini dapat ditelusuri dari adanya peningkatan pesat di masa open source, yang didefinisikan sebagai pengembangan produk fisik, mesin dan sistem melalui penggunaan informasi desain bersama publik.

“Gerakan open source yang telah kita lihat pada software, kini bergerak kehardware,” kata Edward Ross, director of inventor platform of Intel’s New Devices Group dalam rilisnya.

BACA JUGA: Asus Luncurkan Power Bank dan Smartphone Baru

“Ini memungkinkan orang mendapatkan akses ke teknologi yang dapat digunakan untuk membuat perangkat yang mereka sukai, mulai dari proyek sekolah sampai ke prototipe kelas industri.”

Menurut Ross Galileo adalah untuk belajar dan menciptakan. “Hardware dansoftware-nya mudah digunakan, kompatibel dengan biaya rendah, yang biasa digunakan untuk mikrokontroler Arduino dan makers kit,” tuturnya

BACA JUGA: Gelang Apollo, Perpaduan Teknologi dan Fashion, Berapa Harganya?

Salah satu contoh adalah Jamel Tayeb, yang bekerja pada Intel’s Software and Services Group. Dia baru saja menciptakan sebuah balon ruang angkasa dengan menggunakan Intel Galileo. Balon itu berdaya rendah dan hanya seukuran smartphone. Balon tersebut mampu terbang setinggi 97.000 kaki sebelum kembali ke bumi, tidak jauh dari tempat itu diluncurkan.

“Ini adalah mimpi seumur hidup saya untuk mengambil foto lengkungan bumi. Saya mewujudkan mimpi tersebut dengan tangan kosong, software open source dan sedikit bantuan dari teman-teman dan sesama makers,” tutur Tayeb. (dio)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bisa Dicoba, Sepatu Jogging Penambah Energi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler