Erick Thohir dan Tragedi Bola

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Selasa, 06 Desember 2022 – 18:44 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir digadang-gadang jadi calon ketua umum PSSI. Ilustrasi Foto: Dok. Ricardo/jpnn.com

jpnn.com - Sepak bola menghadirkan drama dan tragedi.

Sepak bola memberi kegembiraan ekstatik yang meluap-luap, tetapi juga bisa melahirkan tragedi yang memilukan hati.

BACA JUGA: PSSI dan PT LIB Ingatkan Suporter Belum Bisa Menonton Langsung Liga 1 di Stadion

Jepang dan Korea Selatan yang tampil gagah perkasa pada Piala Dunia Qatar, akhirnya harus tertunduk sedih, pulang dengan perasaan remuk redam.

Di babak 16, besar Jepang gugur di tangan Kroasia melalui pertandingan ketat sampai pertambahan waktu 2x15 menit.

BACA JUGA: Survei: Publik Ingginkan KLB, tetapi Tolak Pembekuan PSSI

Pada penentuan adu penalti terbukti mental Samurai Jepang belum cukup kokoh untuk menghadapi tekanan, dan menyerah 1-3.

Korea Selatan mengalami nasib yang lebih menyedihkan.

BACA JUGA: Ganjar Pranowo Butuh Pendamping yang Unggul seperti Erick Thohir

Menghadapi raksasa dan favorit keras Brasil, Korsel seolah-olah menghadapi anti-klimaks.

Keperkasaan ketika mengalahkan Portugal seolah hilang menghadapi Brasil yang sangat percaya diri.

Korsel kalah kelas dan menyerah 1-4.

Brasil menjadi favorit panas untuk menjadi juara edisi tahun ini.

Pemain-pemainnya berada pada kelas yang lebih superior ketimbang Korsel.

Di babak pertama Brasil sudah mencetak 4 gol, mustahil untuk dikejar oleh Korsel.

Keunggulan ini membuat pemain-pemain Brasil jemawa.

Pada setiap gol yang dicetak beberapa pemain Brasil melakukan selebrasi dengan berjoget bersama-sama.

Pada gol keempat, pelatih Brasil, Tite, terlihat ikut berjoget bersama-sama pemainnya untuk merayakan kemenangan.

Sementara itu pemain Korsel makin tenggelam dalam kekalutan.

Selebrasi tim Brasil ini dikecam oleh pundit sepak bola Inggris, karena dianggap mencederai spirit sepak bola yang sangat penting, yaitu respek atau penghormatan.

Salah satu nilai utama dalam sepak bola adalah respek terhadap kemanusiaan dalam segala dimensinya.

Dengan berjoget koreografik--yang sudah dipersiapkan—Brasil melakukan tindakan ‘’disrespectful’’, tidak menghormati lawan.

Respek terhadap kemanusiaan menjadi nilai yang sangat penting dalam sepak bola.

Hal itu ditunjukkan oleh pemain-pemain profesional dan klub di seluruh dunia dengan menghormati sesama pemain, dan juga menghormati suporter sebagai bagian tidak terpisahkan dari sepak bola.

Di Indonesia, kepedihan akibat tragedi Kanjuruhan 1 Oktober masih sangat terasa.

Suporter Arema dan suporter di seluruh Indonesia masih dalam suasana berkabung akibat kematian massal itu.

Orang tua dan keluarga korban menuntut pengungkapan kasus ini secara tuntas.

Sampai sekarang tuntutan terus dilakukan dengan melakukan berbagai aktivitas unjuk rasa.

Di tengah suasana berkabung itu, PSSI sebagai otoritas tertinggi sepak bola nasional, memutuskan untuk melanjutkan kompetisi yang tertunda.

Polisi kemudian mengeluarkan izin supaya kompetisi bisa digulirkan kembali.

Pemerintah yang diwakili Menko Polhukam Mahfud MD juga ikut merestui kompetisi digulirkan kembali.

Kompetisi pun diputar lagi dengan sistem bubble, terpusat, di Stadion Manahan, Solo Senin (5/12).

Semua pertandingan digelar tanpa penonton.

Di seluruh dunia belum ada kompetisi yang digelar separo musim tanpa penonton.

Itulah uniknya sepak bola Indonesia yang layak masuk dalam catatat rekor The Guiness Book of Records.

Mahfud MD juga menjabat sebagai ketua TGIPF (Tim Gabungan Independen Pencari Fakta) yang dibentuk pemerintah untuk menginvestigasi Tragedi Kanjuruhan.

Publik menjadi saksi bagaimana Mahfud MD membacakan hasil-hasil keputusan tim independen yang sangat tegas.

Salah satunya adalah meminta semua jajaran pengurus PSSI untuk mengundurkan diri dan mengadakan KLB, kongres luar biasa.

Tim gabungan juga mengusulkan kepada pemerintah supaya dilakukan reformasi total terhadap PSSI dengan supervisi dari FIFA, federasi sepak bola internasional.

Pemerintah merespons usulan itu dengan mengundang pimpinan tertinggi FIFA, Gianni Infantino untuk berkunjung ke Jakarta.

Dalam kunjungan itu, Infantino menegaskan dukungannya terhadap reformasi sepak bola Indonesia.

Tekanan dari pemerintah cukup efektif untuk membuat PSSI menyerah.

Di sisi lain, tekanan dari suporter Arema dan keluarga korban Kanjuruhan juga masih terus bergelombang menuntut penyelesaian yang benar-benar tuntas.

Akan tetapi, sejauh ini tuntutan itu belum menjunjukkan hasil yang maksimal.

Beberapa kalangan aktivis sepak bola Indonesia juga menuntut pertanggungjawaban yang tuntas.

Mochamad Iriawan alias Iwan Bule sebagai orang nomor satu dalam sepak bola Indonesia harus bertanggung jawab secara hukum terhadap tragedi.

Iwan Budianto, wakil ketua PSSI yang juga pemegang saham terbesar klub Arema juga harus bertanggung jawab.

Jauh panggang dari api. Tuntutan itu makin lama terasa makin sayup, nyaris tak terdengar.

Sejauh ini yang dijadikan tersangka adalah direktur utama PT Liga Indonesia Baru sebagai pengelola liga.

Tidak ada satu pun dari pimpinan PSSI yang dijadikan tersangka.

Desakan agar Iwan Bule ditersangkakan hanya menjadi angin lalu.

Hal yang sama terjadi pada level klub Arema.

Presiden klub sudah mengundurkan diri, dan hal itu seolah-olah dianggap sebagai pertanggungjawaban yang maksimal.

Tangung jawab pidana dibebankan kepada panitia pelaksana sebagai petugas teknis di lapangan.

Para pemegang saham tidak dianggap ikut bertanggung jawab.

Di jajaran penanggung jawab keamanan juga terjadi hal yang sama.

Hanya para petugas lapangan yang dibebani tanggung jawab pidana.

Pengambil keputusan seperti Kapolres Malang dan Kapolda Jawa Timur hanya dicopot dari jabatan dan tidak dikenai tanggung jawab pidana.

Para suporter dan orang tua korban tetap keukeuh dengan kesaksiannya bahwa gas air mata menjadi penyebab utama jatuhnya nyawa 135 korban.

Peraturan FIFA juga sudah jelas dan tegas melarang penggunaan gas air mata di dalam stadion. 

Akan tetapi, sampai sekarang tidak ada tindakan yang maksimal yang dilakukan untuk mengusut pelanggaran itu.

Keluarga korban sudah mengajukan uji laboratorium dan otopsi korban untuk membuktikan bahwa gas air mata menjadi penyebab kematian. Hasilnya nihil.

Tidak ada indikasi yang bisa dijadikan bukti bahwa gas air mata menjadi penyebab kematian.

Duka keluarga korban makin dalam.

Rasa ketidakadilan makin berat.

Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh keluarga korban dan para suporter Arema untuk menuntut keadilan.

Semua pintu terlihat buntu.

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di balik pintu. Mungkin ada negosiasi dan kompromi, tapi publik tidak ada yang tahu.

Tragedi itu seolah-olah sudah menjadi bagian dari kenangan yang terlupakan.

Para elite suah mulai sibuk menyiapkan diri berebut kuris tertinggi PSSI.

Sekarang sudah mulai muncul nama-nama yang bakal menjadi ketua umum PSSI menggantikan Iwan Bule.

Beberapa nama sudah muncul, dan yang paling santer disebut ialah Erick Thohir.

Sejumlah pendukungnya sudah bergerak melakukan gerilya untuk mencari dukungan suara dari klub maupun asosiasi sepak bola provinsi.

Erick Thohir juga mulai melakukan kampanye dengan melakukan pertemuan dengan beberapa pengelola klub.

Salah satunya dilakukan di Surabaya dalam acara yang dibungkus dengan nonton bareng pertandingan Piala Dunia.

Tidak bakal ada yang bisa menahan gerakan Erick menuju kursi tertinggi PSSI, karena sudah pasti dia mendapat dukungan kuat dari penguasa.

Para voters, pemegang suara dalam kongres, bukan faktor yang perlu dirisaukan.

Erick tahu bahwa para voters bisa diselesaikan secara adat.

Publik sepak bola seluruh Indonesia juga tahu bagaimana penyelesaian secara adat itu selama ini berlangsung.

Pucuk dicinta ulam tiba.

Itulah pepatah yang cocok untuk Erick Thohir. 

Dia sedang butuh kendaraan untuk mendongkrak popularitas menjelang Pemilihan Presiden 2024.

Dan kendaraan itu tersedia di depan mata. Kendaraan politik itu bernama PSSI.

Tinggallah suporter Arema merana sepanjang masa. (*)

Yuk, Simak Juga Video ini!


Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler