Erick Thohir Ditantang Menertibkan Praktik Monopoli Anak-Cucu BUMN

Minggu, 15 Desember 2019 – 21:57 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir heran Pertamina punya 142 anak perusahaan. Ilustrasi Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Koordinator BUMN Watch Naldy N Haroen meminta Menteri BUMN Erick Thohir membereskan anak-cucu perusahaan milik negara. Sebab, anak dan cucu di setiap BUMN justru membuat rugi perusahaan untuk.

Naldy melihat banyak anak-cucu BUMN tidak sesuai bidang usahanya. Dia mengimbau Erick untuk membubarkan anak-cucu BUMN itu yang pada praktiknya justru melakukan monopoli usaha. Perilaku seperti itu bisa menyulitkan perusahan swasta untuk berkembang.

BACA JUGA: Dirut Pertamina Turuti Kemauan Erick Thohir, Waktunya Sebulan

Naldy Haroen mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 600-700 anak cucu perusahaan milik negara yang tidak sesuai dengan bisnis induknya.

"Saya ambil contoh di PT Krakatau Steel ada 70-an anak perusahaannya. PT Pertamina ada 140-an, PT PLN ada 40-an, PT Indonesia Ferry (ASDP) ada juga dan masih banyak anak perusahaan di BUMN lainnya," kata Naldy dalam keterangan yang diterima, Minggu (15/12).

BACA JUGA: PT Garuda Tauberes Indonesia Bikin Erick Thohir Ngakak

Naldy menjelaskan, pada awalnya tujuan dibentuk anak-cucu perusahaan itu sangat bagus. Yakni, untuk meningkatkan efisiensi dan mendapatkan keuntungan bagi negara. "Tapi pada kenyataanya anak cucu perusahaan BUMN itu justru menjadi lahan untuk mencari keuntungan pribadi dari direksi induk perusaahannya," tegas Naldy.

Menurut Naldy, anak perusahaan BUMN itu yang menyebabkan sempitnya ruang gerak perusahaan swasta untuk mengembangkan bisnisnya. Karena, lanjut Naldy, anak perusahaan BUMN ini melakukan monopoli dalam bisnisnya.

BACA JUGA: Rudiantara Belum Ditetapkan Jadi Dirut PLN? Begini Kata Erick Thohir

"BUMN Watch sudah lama mendapat keluhan dari para pengusaha adanya anak perusahaan yang melakukan monopoli. Hal ini harus dihentikan, kalau tidak dunia usaha di sektor riil akan sulit untuk berkembang," ungkap dia. (tan/jpnn)


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler