FBI

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Selasa, 31 Mei 2022 – 18:31 WIB
Ketua KPK Firli Bahuri. Ilustrasi Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - FBI adalah Federal Bureau of Investigation, lembaga intelijen federal di Amerika Serikat yang bertugas melakukan investigasi dan penangkapann terhadap berbagai macam kejahatan, mulai dari pembunuhan sampai ancaman terhadap keamanan negara seperti terorisme.

Di Indonesia, beberapa hari belakangan ini beredar spanduk bertulisakan ‘’FBI’’, tetapi tidak ada hubungan dengan FBI Amerika.

BACA JUGA: KPK Persilakan Masyarakat Cari Harun Masiku, IPW Merespons Keras, Begini Kalimatnya

FBI di Indonesia singkatan dari ‘’Firli Bahuri untuk Indonesia’’.

Firli Bahuri ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)? Betul. Foto sang ketua terpampang di banyak baliho di beberapa wilayah di Indonesia.

BACA JUGA: Firli: Saya tidak Terpengaruh dengan Isu Capres

Layaknya seorang politisi yang hendak mengikuti kontestasi politik, baliho itu ditaruh di tempat-tempat strategis supaya bisa gampang dilihat publik.

Menjelang tahun politik wajr saja baliho para politisi bertebaran.

BACA JUGA: Firli Bahuri Kumpulkan Petinggi Partai Politik di KPK, Ada Apa?

Yang sudah terlebih dahulu bermunculan adalah baliho Puan Maharani dengan tagline ‘’Kepak Sayap Kebhinekaan’’.

Tagline itu menjadi terkenal, tetapi Puan tetap tidak terkenal.

Terbukti elektabilitasnya masih nol koma.

Puan lebih dikenal sebagai ketua DPR yang suka mematikan mik anggota dewan yang melakukan interupsi.

Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB, menampang di banyak baliho dengan gaya yang dibuat milenial, mengendarai Vespa sambil tersenyum lebar.

Muhamimin tidak malu mencantumkan narasi sebagai bakal Calon Presiden 2024.

Meski umur tidak milenial lagi tapi Muhaimin bergaya milenial untuk menarik perhatian anak-anak muda.

Muhaimin diledek sebagai ‘’militan’’, milenial tapi ketuaan.

Ada lagi baliho Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar, yang juga tidak malu-malu mengumumkan diri sebagai Calon Presiden 2024 kepada khalayak.

Baliho ada di mana-mana, tetapi elektabilitas Airlangga tetap tidak bergerak dari angka satu koma.

Nasib Airlangga rupanya sama-sama mentok di satu koma dengan Puan dan Muhaimin.

Sekarang tiba-tiba muncul spanduk FBI.

Banyak yang bertanya-tanya apakah Firli punya syahwat politik?

Kalau dilihat dari indikasi kemunculan baliho itu bisa saja disimpulkan demikian.

Apalagi, sekarang Firli sedang giat sekali memperkenalkan taglinenya dengan ‘’Salam FBI’’.

Dalam pernyataannya, Firli membantah bahwa dia punya ambisi politik untuk maju pada perhelatan 2024.

Akan tetapi, para aktivis anti-korupsi sudah mencium gelagat itu, dan karenanya mereka mengingatkan lebih baik Firli fokus terhadap tugasnya sebagai ketua KPK ketimbang ikut-ikutan mengumbar syahwat politik.

Mungkin Firli sengaja mengidentifikasikan dirinya dengan FBI Amerika, karena agensi itu memang mempuyai reputasi yang terkenal dalam menginvestigasi dan memburu para pelaku kejahatan.

Akan tetapi, reputasi Firli dalam memburu penjahat buron masih diragukan publik. Salah satunya adalah belum tertangkapnya Harun Masiku yang sudah buron selama 2 tahun.

Sampai sekarang keberadaan Harun Masiku belum diketahui.

Setidaknya begitu menurut KPK. Karena itu kasus ini menjadi utang sekaligus aib bagi KPK.

Para petinggi KPK sendiri kelihatannya menjadi rikuh dengan munculnya spanduk FBI di tengah masih buronnya Harun Masiku.

Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango malah mengusulkan agar masyarakat memasang baliho Harun Masiku ketimbang baliho FBI.

Kecaman dari para aktivis anti-korupsi mengalir deras.

Mempunyai aspirasi politik adalah hak setiap warga negara.

Akan tetapi, ketika seseorang memegang jabatan puncak dalam lembaga pemberantasan korupsi seperti KPK, seharusnya dia lebih fokus kepada tugas-tugas pemberantasan korupsi ketimbang sibuk menyalurkan syahwat politik.

Rekam jejak Firli yang dilaporkan dan disidang oleh Dewan Pengawas KPK pun diungkit-ungkit lagi.

Firli dianggap melanggar kode etik karena mempergunakan helikopter bantuan swasta untuk melakukan perjalanan pribadi di Palembang pada 2020.

Firli disidang oleh Dewas tapi divonis ringan dengan peringatan tertulis.

Para pegiat antikorupsi kecewa dengan keputusan ini.

Tindakan Firli dianggap sebagai pelanggaran serius karena mencederai muruah KPK sebagai lembaga anti-rasuah.

Gaya hidup Firli dianggap sebagai hedonis yang bermewah-mewah dan dianggap bisa menyeret orang lain untuk melakukan tindak korupsi.

Sebagai ketua KPK, Firli harusnya memberi contoh hidup yang sederhana.

Mempergunakan helikopter swasta untuk melakukan perjalanan pribadi akan memberi contoh buruk bagi publik.

Hal ini juga memunculkan kecurigaan akan terjadinya dagang pengaruh yang menjurus kepada penyelewengan kekuasaan atau abuse of power.

Di mata para pegiat antikorupsi reputasi Firli sering menjadi sorotan.

Di bawah Firli, KPK dianggap kehilangan kegarangan dan mengalami kemerosotan wibawa.

Salah satu penyebab utama adalah berubahnya undang-undang KPK akibat revisi pada 2019.

Revisi itu menyebabkan KPK kehilangan gigi karena operasinya banyak dibatasi dengan berbagai aturan yang membelenggu.

Dengan undang-undang yang sudah diamputasi itu KPK yang semula lembaga ad hoc yang independen ditempatkan di bawah pengawasan birokrasi pemerintahan.

Yang terjadi kemudian adalah pembersihan besar-besaran terhadap sejumlah orang yang dikenal punya integritas dalam pemberantasan korupsi.

Novel Baswedan, Harun Al Rasyid, dan Yudi Purnomo adalah nama-nama yang terkenal sebagai ‘’Raja OTT’’, operasi tangkap tangan.

Di bawah masa kepemimpinan Firli para raja OTT itu menjadi ‘’OTT’’, orang terusir dan terpental.

Dengan reputasi seperti itu sangat sulit bagi Firli untuk mendapatkan rating bagus dari pada pegiat anti-korupsi.

Capaian Firli dianggap kalah mentereng dari capaian para ketua sebelumnya seperti Agus Raharjo, Abraham Samad, dan beberapa ketua lainnya.

Di antara sederet nama-nama itu, Abraham Samad pernah disebut-sebut sebagai salah satu calon wakil presiden pada 2014 mendampingi Joko Widodo.

Ketika itu, bermunculan protes keras dari pegiat anti-korupsi karena Samad masih dalam posisi ketua KPK.

Ketika itu pun KPK harus mempertahankan diri dari serangan publik yang mendesak Samad mundur jika mempunyai ambisi politik.

Ketika itu, Samad dianggap mempunyai prestasi dalam pemberantasan korupsi bersama KPK.

Beberapa kasus besar ditangani dan diungkap semasa kepemimpinan Abraham Samad.

Di bawah kepemimpinan Samad, KPK menjadi lembaga yang disegani dalam pemberantasan korupsi.

Samad pun menjadi populer dan namanya masuk dalam radar sebagai salah satu calon wakil presiden.

Firli Bahuri mungkin ingin mengikuti jejak Abraham Samad.

Meskipun akhirnya nama Samad hilang dari bursa calon wakil presiden, tetapi hal itu menjadi preseden bahwa KPK bisa menjadi jalur politik menuju RI 1 atau RI 2.

Politisasi KPK semacam ini tentu memantik protes publik.

Apalagi reputasi Firli masih dianggap tertinggal dari Abraham Samad.

Salah seorang pegiat anti-korupsi menyarankan agar dalam sisa waktu dua tahun menjelang pilpres ini Firli lebih fokus menyelesaikan tugas-tugas KPK yang terbengkalai, terutama menangkap buron Harun Masiku.

Kalau Firli bisa menuntaskan kasus Harun Masiku dan membongkar jaringan yang berada di belakangnya, nama Firli secara otomatis akan terkatrol, dan hal itu bisa menjadi modal yang lumayan pada pilpres mendatang.

Namun, naga-naganya, KPK di bawah Firli belum menunjukkan nyali yang cukup kuat untuk membongkar konspirasi yang membuat Harun Masiku menghilang.

Publik tahu bahwa ada kekuatan politik besar di balik menghilangnya Harun Masiku.

Firli dan KPK dianggap tidak cukup punya nyali untuk membongkar kasus ini.

Selama dua tahun Harun Masiku menghilang dan tidak ada progres terhadap pencariannya.

Beberapa waktu yang lalu KPK beralasan masalah pandemi menjadi penghalang pencarian buron ini ke luar negeri.

Sekarang, setelah pandemi reda alasan apa lagi yang akan dipakai KPK?

Netizen yang skeptik berkomentar dengan memelesetkan nama Harun Masiku menjadi ‘’Harun Masikucari’’. Salam FBI. (*)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler