FBI Lakukan Kesalahan Tak Termaafkan di Florida, Parah!

Minggu, 18 Februari 2018 – 13:43 WIB
Agen FBI. Foto: Reuters

jpnn.com, FLORIDA - Fakta bahwa FBI meremehkan masukan dari masyarakat tentang Nikolas Cruz dan perilakunya yang membahayakan membuat Gubernur Florida Rick Scott naik pitam. Jumat (16/2), dia mendesak Direktur FBI Christopher Wray mengundurkan diri.

”Kegagalan FBI mencegah tragedi maut seperti itu benar-benar tak termaafkan,” kata Scott sebagaimana dilansir The Independent kemarin, Sabtu (17/2).

BACA JUGA: 12 Mayat di Gedung Sekolah, Tiga di Halaman dan Dua di RS

Andai saja saat itu FBI sigap dan menanggapi serius masukan dari masyarakat, peristiwa maut yang membuat Amerika Serikat berduka tersebut tidak akan terjadi.

”Sebanyak 17 nyawa (guru dan siswa, Red) melayang. Hanya dengan mengakui kesalahan mereka (FBI, Red) tidak akan bisa mengubah kondisi tersebut,” lanjut politikus 65 tahun itu.

BACA JUGA: Kisah Para Penyintas Pembantaian di SMA Florida

Hampir dua bulan sebelum Cruz beraksi, FBI mendapatkan sedikitnya dua laporan serius tentang pemuda 19 tahun tersebut.

Mulai kepemilikan lebih dari satu senjata, kebiasaan memamerkan kemampuan menembak, sesumbar untuk membunuh orang, hingga berbagai perilaku mengkhawatirkan lainnya.

BACA JUGA: Ngeri! Begini Jejak Digital Pembantai 17 Orang di Florida

”Laporan-laporan itu tidak pernah diteruskan ke kantor FBI di Miami untuk ditindaklanjuti,” sesal Scott.

Secara resmi, Wray sudah minta maaf kepada publik tentang kelalaian FBI. Dia juga mendatangi keluarga para korban untuk menyampaikan permintaan maaf.

Meski demikian, jaksa agung Jeff Sessions dalam pernyataan resmi Kejaksaan Agung sebagaimana dilansir Associated Press tetap memerintahkan investigasi khusus terhadap FBI.

Juga, terhadap departemen kehakiman. Terutama meninjau kembali segala prosedur dan aturan yang berlaku.

Sementara itu, Cruz yang dikenai 17 dakwaan pembunuhan menyatakan kesanggupannya untuk mengaku bersalah dalam hearing.

”Asalkan kami mendapatkan jaminan bahwa pelaku tidak akan dijerat dengan hukuman mati, kami akan mengaku bersalah,’’ kata pengacara Cruz kepada CNN.

Namun, publik menghendaki pembunuh 17 orang itu diganjar hukuman paling berat. Yakni, vonis mati.

Sepanjang 2018 ini sudah terjadi tujuh penembakan di sekolah plus satu penembakan yang menyasar bus sekolah. Sebelumnya, beredar data keliru tentang tragedi penembakan di sekolah.

Laporan yang disebarluaskan Everytown for Gun Safety, badan advokasi pengendalian senjata, itu tidak tepat.

Di sana disebutkan bahwa sepanjang 2018 telah terjadi 18 tragedi penembakan di sekolah, termasuk tragedi di Parkland. Tapi, USA Today dan beberapa media AS lainnya meralatnya kemarin (17/2).

Sebagian besar media AS sepakat bahwa definisi tragedi penembakan di sekolah haruslah yang terjadi di sekolah dan menyasar para siswa.

Maka, insiden penembakan yang terjadi di dekat sekolah atau tidak sengaja menyasar anak sekolah tidak selayaknya masuk kategori tragedi penembakan.

Begitu pula aksi bunuh diri dengan senjata di sekolah atau lingkungan sekitarnya. (hep/c6/pri)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Siapakah Nikolas Cruz, Si Pembantai 17 Orang di SMA Florida?


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler