Fernando Gantung Diri, Secarik Surat Ditemukan di Dekatnya

Rabu, 19 September 2018 – 05:08 WIB
Surat yang diduga ditulis korban. Foto: ist/Metro Siantar/JPG

jpnn.com, SIANTAR - Penemuan sesosok mayat pria yang tergantung di atas jendela sebuah rumah kosong di dekat pinggiran sungai bikin geger warga Jalan Tusam, Kecamatan Siantar Utara, Minggu (16/9).

Tak disangka ternyata itu adalah Fernando Pasaribu warga setempat yang sudah menghilang sejak tiga hari sebelumnya.

BACA JUGA: Mayat ASN Korban Pembunuhan Ditemukan di Sibolangit

Bapak dua anaknya ini, ditemukan tergantung di atas jendela dengan kondisi leher terjerat tali nilon yang biasa dipakai mengikat ternak kerbau.

Sementara di dekat mulutnya ditemukan masker yang diikatkan di kedua kupingnya.

BACA JUGA: Banjir, Ratusan Rumah Terendam di Medan, Warga Mengungsi

Tidak jauh dari tempat Fernando tergantung, ditemukan juga ikatan tali plastik yang sudah terputus. Diduga kuat, Fernando sebelumnya menjerat lehernya sendiri di tempat tersebut tapi namun gagal karena tidak dapat menopang berat tubuhnya.

Informasi di sekitar lokasi menyebutkan, Fernando dikenal sebagai pria yang baik dan ramah. Korban sering terlihat di salah satu warung dekat tempat tinggalnya.

BACA JUGA: ASN Sumut Terbanyak Terpidana Korupsi yang Belum Dipecat

Salah seorang warga juga menyebutkan, pria yang memiliki tato di lengan kanannya itu sedang sakit dan dalam proses pemulihan penyakit TBC sejak 6 bulan lalu.

Sejak hari Jumat (14/9) lalu, pria yang dipanggil Nando itu sudah dicari oleh istrinya. Istrinya mencari keberadaan Nando karena tak kunjung pulang ke rumah, sampai ditemukan tewas tergantung di rumah kosong.

“Hari Jumat kemarin istrinya sudah mencari-cari, karena dia sampai malam belum pulang. Biasanya dia pulang pulang ke rumahnya,” ucap salah seorang warga.

Nando bersama istri dan dua orang anaknya merupakan warga baru di lokasi tersebut. Setelah ibunya meninggal dunia, Nando memboyong keluarganya untuk tinggal di Pematangsiantar sambil menjaga ayahnya.

Pihak Kepolisian telah membawa jasad Nando ke instalasi jenazah RSUD dr Djasamen Saragih untuk dilakukan autopsi. Tidak terlihat seorang pun keluarga Nando saat polisi membawa jasadnya dengan menggunakan mobil patroli.

Fernando sendiri disebutkan sudah jauh hari merencanakan bunuh diri yang ditandai menuliskan surat buat keluarganya.

Sebuah surat diduga ditulis korban, berisi pesan kepada Tesa dan Anggun, dua anak perempuannya. Dalam surat itu disampaikan, betapa sayangnya dia kepada anaknya dan berharap anaknya menjadi anak yang baik dan kuat.

Sementara kepada istrinya, Mak Tesa, korban berpesan untuk menjaga anak-anaknya. Korban juga memuji kebaikan istrinya. Namun dirinya tidak mampu menahan penyakit yang dideritanya. Korban juga menulis agar istrinya, tidak memikirkan untuk menikah lagi. Permintaan maaf juga disampaikan di ujung tulisan tersebut.

Sementara itu, lokasi tempat ditemukannya mayat Fernando Pasaribu menjadi perbincangan warga sekitar.

Pasalnya, rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya hampir setahun belakangan ini disinyalir sebagai tempat mengonsumsi narkoba. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya alat hisap sabu dan plastik klip bekas sabu di sekitar mayat.

Lurah Kahean Janandong Silitonga SH tak menampik kabar tersebut. Pria yang sudah 9 tahun mengabdi di Kelurahan Kahean ini mengaku melihat langsung kondisi Tempat Kejadian Perkara (TKP).

“Saya juga langsung ke TKP sewaktu peristiwa, memang saya lihat kondisinya kotor. Ada di situ botol mineral, pipet, pipa kaca. Jujur saja saya tidak tahu persis alat-alat itu, tapi kalau kata warga itu alat untuk mengonsumsi narkoba,” kata Janandong Silitonga saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (17/9/2018).

Sejumlah warga juga mengatakan akan membongkar rumah kosong itu, agar tidak dijadikan sebagai tempat mengonsumsi narkoba oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Meskipun demikian, Janandong tidak menolak atau pun menyetujui permintaan warga. Sebagai masyarakat yang taat hukum, Janandong menyarankan agar warga terlebih dahulu menemui keluarga pemilik rumah tersebut, dimana pemilik asli rumah tersebut saat ini tinggal di luar kota.

“Saya tidak menolak atau menyetujui permintaan tersebut. Karena rumah itu milik pribadi, dan keluarga dari pemilik masih ada yang tinggal di Pematangsiantar,” pungkasnya.

“Kita harus musyawarah dulu. Nanti kalau dibongkar pengerusakan namanya, ada pidananya. Jadi, permasalahan itu harus dirundingkan dulu dan mencari jalan keluar,” sambungnya.

Sementara dari pemerintah setempat sendiri, Janandong menyarankan kepada pemilik atau keluarga untuk membuat pagar batas maupun penjaga rumah.

“Jika dibuat begitu kan berarti sudah mengurangi kemungkinan orang-orang yang tidak bertanggung jawab masuk ke dalam,” tukasnya.

Sementara itu, jenazah Fernando Pasaribu telah dibawa keluarga ke rumah duka untuk disemayamkan. Pihak Kepolisian dan RSUD dr Djasamen Saragih tidak melakukan visum atas permintaan keluarga. (gid/ros/esa/MS)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sandro Akhirnya Ditemukan, Kondisinya Membusuk di Kebun


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler